Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
24.Terkejut



Kaget, satu kata yang menjelaskan perasaan Hilary.


ada apa dengan Adnan?? pernikahan mereka yang baru berumur dua hari bahkan belum genap,suaminya membicarakan hal yang tidak seorang pun wanita menyukai nya.


Hilya, bangkit dari paha Adnan,tak mengindahkan pangilan Adnan ,Hilary segera memasuki kamar mandi,yang masih berada didalam kamar hotel yang mereka tempati.


Adnan yang melihat kekecewaan Hilary atas pertanyaannya,merasa sangat menyesal telah meminta izin demikian dengan sang istri yang belum genap dua hari ia nikahi.


Adnan mengusap wajahnya kasar dengan telapak tangannya, melangkahkan kakinya kedepan pintu kamarmandi.


Adnan: "Hilya, tolong buka pintunya Hilya....saya bisa jelaskan maksud ucapan saya..hilyaaa...saya mohon..buka pintunya Hilya."


Adnan tidak mendengar suara apapun didalam kamar mandi , membuatnya lebih khawatir..


"Hilya...tok.tok.tok...Hilyaaaa..mas mohon Hilyaaa... sayaaaaang.."


Hilary yang sedang membersihkan mukanya dengan toner dan kapas,menoleh kearah pintu.


Hilary sedikit terkejut dengan pangilan mas dan sayang yang di ucapkan Adnan, biasa Adnan selalu menyebut dirinya aku dan Hilary dengan Hilya, Namun barusan Hilary dengar dengan jelas Adnan menyebut dirinya sendiri dengan sebutan mas' dan untuk Hilya menjadi sayang.


Senyum manis,terbit dibibir mungilnya. Hilary tidak beneran marah atas ucapan Adnan padanya, mungkin Adnan iseng bertanya atau sedang ada masalah yang Adnan fikirkan,mungkin ada kaitannya dengan keluarga yang barusan ia temui itu.


Adnan masih dengan usahanya mengetuk pintu dan membujuk Hilary,sedangkan Hilary yang sudah selesai membersihkan wajah dan membersihkan sebentar badanya,keluar hanya dengan menggunakan jubah mandi.


Adnan yang melihat pintu terbuka mendongak menatap wajah istrinya yang nampak lebih segar dari sebelumnya.


Adnan menghela nafas lega dan segera memeluk tubuh Hilary.


Adnan: "kamu bikin mas khawatir..!!kenapa tidak menyahut sama sekali??...hmmm.."


Hilary: "Hareudang mas!!..saya hanya membersihkan diri, agar sedikit segar."


Adnan tersenyum simpul, Adnan sudah gugup dan takut , manakala Hilary tadi langsung masuk kamar mandi, Adnan mengira Hilary marah dan kecewa padanya, Namun syukur lah, Istrinya hanya kepanasan, merasa gerah dan membersihkan diri.


Adnan: " kamu buat mas takut Hil!!, mas kira kamu beneran marah sama mas."


Hilary mengengam tangan Adnan, mengelus punggung tangan sang suami.


Hilary: "saya tidak marah mas!!..hanya sedikit kaget', mendengar ucapan mas tadi, mas ,apa ini ada hubungannya dengan pembicaraan mas dengan wanita di rumah sakit tadi..??" Hilary menatap mata suaminya, mencari jawaban atas pertanyaan nya dari mata sang suami.


Adnan menghela nafasnya, kemudian mengangguk.


Adnan: "Ia sayang maafkan mas', diusia pernikahan kita yang belum genap dua hari,mas sudah mempertanyakan sesuatu yang membuat hatimu terluka. rasanya mas ingin segera pergi dari sini dan langsung pergi berbulan madu dengan mu saja.." ucap Adnan yang sedikit ada kekecewaan dan penyesalan telah membawa Hilary untuk menjenguk sang kakek.


"Husssddttt!!!"


"Mana boleh begitu mas!!, kita bulan madu bisa kapan saja, tapi menjenguk saudara sakit itu jauh lebih penting, tanpa bulan madupun kita bisa bebas melakukan apa saja, kita bukan anak remaja lagi mas,kita sudah dew....." Adnan membungkam bibir istrinya dengan ciuman nya,membuat Hilary menghentikan ucapanya.


Hilary kaget dengan perbuatan Adnan yang tiba-tiba, Hilary cengo beberapa saat, sebelum akhirnya membalas perbuatan Adnan padanya.


Suara bibir beradu dengan bibir memecah keheningan kamar hotel, Hilary memejamkan matanya rapat, menikmati sesuatu yang sangat ia nantikan.


Bahkan tangan nya telah merangkul leher Adnan, sedangkan Adnan meresapi rasa manis dan nikmat dari bibir mungil istrinya.


Suara nafas keduanya kian memburu,melepaskan pangutan bibir sebentar sebelum mencecap kembali rasa candu yang mendera pasangan pengantin baru itu.