
Anton mengelus lembut puncak kepala istri nya. Hilya tertidur setelah membuat dirinya menangis haru biru.
Ingin sekali rasanya Anton menerkam istri nya , melepas rasa rindu yang terbendung selama dua hari. ya meski hanya dua hari Anton merasa seolah-olah tidak menyentuh istri nya bertahun tahun.
Tubuh Hilya seolah menjadi candu untuknya. kecantikan, kelembutan dan senyuman wanitanya begitu membuatnya mabuk kebayang.
Mata Anton tidak lepas memandang perut rata istrinya, mata itu begitu fokus pada perut istri nya, masih belum bisa percaya ada nyawa yang sedang tumbuh di dalam nya.
Hilya mengeliat dalam tidurnya, mengalihkan fokus Anton, Dokter tampan itu membelai lembut wajah istrinya yang sedang pucat itu.
" Aku bisa mengecap Adnan bodoh karena melepas berlian seperti mu sayang, tapi tanpa kusadari akupun hampir melakukan kebodohan yang sama" Anton terseyum pedih mengingat hampir saja meninggalkan istrinya yang saat ini justru tengah mengandung anak nya.
Hilya yang mendengar gumaman sang suami membuka matanya.
Mata mereka saling menatap, wajah cantik Hilya seolah menarik bibir Anton untuk mendekat dan mendaratkan kecupan ringan di hidung mancung istri nya.
Hilya berdecak, membuat Anton bingung.
" Kenapa??".
" Mas Anton berisik!!".
" Ahh..iya sayang maaf, tidurlah kembali " ucap Anton kembali mengecup puncak kepala istrinya.
" Mas!!."
"Hmmm??".
" Ambil laptop gih!!".
" Buat apa, aku gak mau kamu urus pekerjaan dulu sementara."
" Ihh...enggak loo!! yaudah ponsel aku aja."
Anton turun dari posisi nyamannya dan pergi mengambil laptop istri nya.
Meski bingung tapi Anton tetap mengikuti permintaan istri nya, Hilya duduk bersandar, menepuk tempat kosong disisinya meminta Anton duduk disampingnya.
Hilya mengelus lembut rahang kokoh suaminya, memberikan rasa nyaman untuk Anton. saat Anton memejamkan matanya, Hilya terseyum lembut.
ehm..Hilya berdehem, membuat Anton membuka kelopak matanya.
"Ini mas!!" tangan Hilya menunjuk layar laptopnya yang memperlihatkan rekaman cctv kejadian tiga hari yang lalu, sore yang menyakitkan bagi keduanya.
Rekaman itu memperlihatkan cctv yang menghadap jalan raya terlebih dahulu, saat dimana Hilya menunggu hingga mobil yang dinaiki suaminya menghilang dari pandangannya, dilanjutkan sebuah mobil yang ternyata milik Adnan yang datang menemuinya.
Dilanjut cctv yang memperlihatkan halaman rumah saat Hilya meminta Adnan duduk dan dia masuk kedalam dan seterusnya hingga kejadian terakhir yang menunjukkan keterkejutan Hilya melihat Adnan memasuki rumahnya.
Anton dapat melihat air mata yang meleleh di wajah istrinya hingga saat Adnan terlihat mendekatkan bibirnya ke arah mata Hilya untuk meniupnya, hingga kedatangan dirinya sendiri yang berteriak lantang membuat keduanya terkejut.
Wajah Anton memerah, marah , malu jadi satu ..marah karena kebodohanya karena terbakar cemburu buta, malu karena salah faham dengan istri nya.
Tiba-tiba Hilya mendorong pelan bahu suaminya.
" Pergilah mas!!... biar aku cari papa baru buat anak kita ini!!" ledek Hilya.
Wajah Anton memelas, bibirnya melengkung kebawah menampakan wajah sedihnya, persis kayak kucing yang terbuang.
" Lebih baik aku mati sayang, bukan karena aku jadi bucin, tapi karena aku merusak hidupku sendiri. saat aku melihat pria lain yang mengambil tanggung jawabku karena ulahku, apa yang lebih buruk dari itu? lantas apa arti hidupku,??"
Jali ini wajah Anton begitu serius mengatakan nya, membuat Hilya yang awalnya ingin mengoda jadi tidak tega.
Hilya segera menutup laptopnya, menarik lembut kepala Anton keatas bahunya.
Anton menurut, wajahnya ditenggelamkan di ceruk leher Hilya, Hilya menarik nafasnya dalam saat merasakan basah dilehernya, lagi-lagi Anton menangis.
Hati Hilya bahagia, sebegitu cintakah Anton padanya , hingga sedari tadi Anton begitu banyak mengeluarkan air matanya untuk dirinya, Anton pria humoris ini selama ini begitu tegar dan tak pernah terlihat rapuh. tapi hari ini?? bibir Hilya terseyum lembut, tanganya menarik suaminya untuk tidur dipangkuan nya, Anton makin terisak, Hilya tertawa, tapi tak dipungkiri air matanya pun mengalir.