Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
33.Dilema Adnan



Hari ini Hilya seperti biasanya , ia tengah menyiapkan sarapan untuk sang suami , Adnan sudah rapi dengan setelah Koko seperti biasa Adnan akan mengajar ke pondok hari ini.


Hilya memberikan nasi goreng spesial untuk Adnan di temani 1 gelas air hangat untuk suaminya.


Adnan menerima dengan senyum manis.


"Mas ada teman yang menyarankan agar kita periksa kesuburan bersama, apa mas Adnan mau??"


" Kita lakukan saja , tidak ada salahnya bukan??" ucap Adnan dengan senyum.


Hilya ikut tersenyum mendengar jawaban sang suami, selama ini Hilya selalu tidak enak meminta Adnan ikut periksa bersama nya, Hilya takut Adnan tersinggung dengan ajakan nya.


"Kira-kira kapan mas ada waktu??".


" Terserah kamu saja !! Hil, mas mau minta maaf jika mas selalu menyakitimu, mas terlalu banyak menuntut mu, padahal mas sendiri tau bahwa sesungguhnya Allah maha mengetahui, Allah belum memberikan rejeki anak kepada kita mungkin karena sebenarnya kita memang belum siap. Seharusnya mas bisa lebih bersabar.


tidak terlalu memaksakan kehendak kakek, di hari dimana mas marah karena kamu akan pergi kerumah sakit dan izin pulang terlambat waktu itu, sebenarnya mas habis bertemu dengan kakek, mas kembali di tuntut tentang cucu yang kakek harapkan."


Adnan menarik nafasnya


"Mas bingung Hilya!! mas melampiaskan kemarahan kepada mu, mas sangat merasa bersalah dengan mu, mas terlalu egois, padahal kamu bersusah payah mengejar gelar yang kamu inginkan, dan dapat menjadi seperti sekarang.


namun demi aku, kamu rela meninggalkan pekerjaan mu, tolong maafkan aku Hil!!".


Hilya terseyum, "aku sudah memaafkan mas sebelum mas meminta maaf !!".


Adnan menunduk


"Hil!! aku berjanji akan memberikan mu izin bekerja kembali, aku berjanji tidak akan melarang apa yang kamu inginkan, tapi bisakah kamu mengizinkan aku menikahi Rena. tolong jangan salah faham Hil."


" Hil, ini sungguh bukan keinginanku, namun demi kebaikan Kita semua, demi Ibu dan Bapak yang selalu di pojokan terus oleh kakek, demi kamu yang selalu di remehkan kakek karena belum memberikan cucu untuknya, dan demi aku yang ingin hidup tenang tanpa adanya desakan setiap harinya."


Seandainya perempuan lain yang mendengar permintaan Adnan sudah pasti orang itu akan marah ataupun menampar wajah Adnan tapi tidak bagi Hilya, Hilya justru tersenyum manis.


"Lakukanlah yang membuatmu nyaman mas!!. sejak awal aku merasa memang ini pasti akan terjadi, sejak awal aku bertemu dengan kakek aku selalu menangkap ke plin planan mu menanggapi rumah tangga kita."


Hilya menetes kan air matanya.


"Aku akan bertahan semampuku, namun saat aku sudah memilih menyerah kuharap kau mengerti keadaanku." setelah mengucapkan itu Hilya beranjak meninggalkan meja makan. Adnan memanggil namanya namun Hilya memasuki kamarnya tanpa menghiraukan Adnan.


Sepeninggalan Hilya, Adnan terlihat gusar, semalaman penuh Adnan memikirkan tentang permintaan ini untuk Hilya, Adnan ingin menikahi Rena demi membebaskan Hilya dari tuntutan sang kakek untuk segera memberikan cucu, Adnan merasa bersalah dengan Hilya yang harus merelakan cita-cita nya dan memilih menjadi Ibu rumahtangga seutuhnya.


Adnan berfikir dengan menikahi Rena, Hilya akan terbebas dari tuntutan sang kakek, dan Hilya dapat menjalani hidupnya dengan normal, bisa bekerja dan bisa melayaninya sebagai istri, namun tidak pernah terfikir oleh Adnan saat Hilya akan menyerah hidup bersama nya.


Ucapan Hilya tadi bak tamparan untuk Adnan, seolah mengingatkan dirinya dulu yang berjuang mengejar cinta Hilya, merasa selalu kurang pantas hidup bersama Hilya, namun lihat sekarang setelah segala pengorbanan yang Hilya lakukan untuk Adnan justru Adnan meminta Hilya berkorban lebih besar lagi.


Bagi seorang wanita membagi Suami nya untuk wanita lain itu pasti sangat menyakitkan.


Selama ini sering terjadi istri kedua akan menjadi istri satu satunya, karena pada dasarnya membagi hati itu tidaklah mudah. banyak wanita yang dimadu memilih untuk menyerah dan memilih mengalah.


Dan saat itu terjadi penyesalan lah yang dirasakan sang suami.


Adnan meraup wajahnya kasar dengan cepat Adnan menyusul sang istri kekamar nya.