
Suara alat medis mengema di sebuah ruangan yang kini begitu ramai orang di dalam nya
Tiga hari setelah permintaan Anton pada sang istri, kondisi kesehatan Anton kian menurun, hari ini Fauzan meminta semua keluarga Anton berkumpul di rumah sakit.
Anton mengengam erat tangan kedua orang tua Hilya
Dibantu alat pernafasan Anton berbicara dengan tersendal-sendal
" Ma, Pa!! maaf yaa...
"Anton gak bisa menjaga putri kalian dengan baik, Anton terlalu lemah!!"
" Anton hanya membuat istri Anton terus sedih!! "
"Maaf !!, Anton belum bisa membuat Papa dan Mama bahagia!!"
" Tolong jangan benci Anton ya..!!"
Papa Hilya dan Mama Hilya mencium pipi menantunya
" Papa menyayangimu nak, kamu tidak pernah mengecewakan kami, dan kami tidak pernah membencimu!!" terlihat sekali papa Hilya menahan Tangis nya mata Pria paruh baya itu berkaca-kaca
Sedangkan Mama Hilya hanya mampu mencium kening menantunya, tak mampu berbicara karena nyatanya air mata itu tak kunjung berhenti, bagaimana pedihnya hati seorang ibu, menyaksikan kesakitan putranya berbulan-bulan, meski Anton hanya putra menantu nyatanya mama Hilya menganggap Anton adalah putranya sendiri
Anton mencium tangan kedua mertuanya membuat mereka semua membekap mulutnya menahan tangis
Anton menangis saat menatap kedua mertuanya
Anton terisak tak mampu melanjutkan ucapannya...
Air mata Anton mengalir, mengengam tangan kedua mertuanya
" Anton titip istri dan anak Anton ya!! ridoi Anton, Anton minta maaf tidak mampu menjaga putri kalian lebih lama lagi!!..."
Abah dan Umi Anton berlari keluar ruangan tak mampu menyaksikan Putra nya yang seolah-olah berpamitan untuk pergi, tadi malam Anton sudah meminta maaf pada Umi dan juga Abahnya, tak jauh beda dengan sekarang Umi dan Abah Anton semalam juga merasa sangat sedih, Dini sampai jatuh pingsan saat sang Kaka memberikan nasehat-nasehat seperti pesan terakhir
Bahkan Fauzan juga di titipkan sebuah amanah oleh Anton, untuk menjaga Zizi jika mampu, melepaskan nya jika tidak dan dengan yakin Fauzan bersedia menjaga Zi Zi dan zahra dan berjanji dalam waktu dekat akan meresmikan hubungan mereka
Setelah membuat para orang tua menangis kini Anton kembali tertidur, Hilya baru saja sampai saat melihat semua orang berkumpul di depan ruang rawat Anton
Hanya satu yang tidak ada yaitu Adnan, Hilya yakin Adnan pasti berada di dalam bersama suaminya
Adnan menggenggam jemari Anton dengan melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an, sedangkan Anton tertidur damai di sampingnya
Adnan menghentikan bacaan nya saat melihat Hilya mendekat
Adnan segera mempersilahkan Hilya duduk sementara dirinya beranjak pergi
Anton membuka matanya, seolah tau kehadiran sang istri
" Yang!!"
Hilya terseyum tanpa air mata, tapi justru sebaliknya , Anton yang menitihkan air matanya
Jika kemarin-kemarin Hilya terus berdoa agar Allah menyembuhkan suaminya, tapi tidak untuk hari ini
Cukup sudah perjuangan Anton, Hilya tak mau lagi menahan suaminya jika ingin pergi, melihat Anton yang terus tersiksa membuat hati Hilya teriris setiap harinya, nyatanya Manusia hanya bisa berusaha, saat usaha itu tak membuahkan hasil maka pasrahlah jalan satu-satunya
Air mata Anton jatuh di kedua sudut matanya
Hilya menghapusnya dengan lembut
" Mas ingin sesuatu??"
Anton membawa tangan nya mengelus perut datar istri nya
" Maaf!!"
Satu kata, tapi membuat Hilya tau segala maknanya, Hilya menganguk
" Allah masih ingin kita fokus menyayangi Khansa dulu !!" Hilya meraih tangan Anton yang mengelus perutnya, mengecupnya lembut dan mengarahkan kepipinya
Entah bagaimana Anton bisa tau, kalau hasil tesnya negatif, tapi yang pasti Hilya akan menjaga air matanya agar tak lagi menetes
Hilya melihat lagi-lagi Anton menangis, membuat Hilya tau bahwa Anton benar-benar kesakitan
" Ada yang sakit mas'??" lirih Hilya
Tak disangka ternyata Anton menganguk, jika selama ini Anton selalu tersenyum tipis dan mengeleng, tapi hari ini sepertinya Anton benar-benar merasa kesakitan
Anggukan Anton membuat jebol pertahanan Hilya, nyatanya air mata itu kembali memenuhi pelupuk matanya