
Kepergian, Zahfran, Dini, membawa Khansa membuat Hilya dan Adnan merasa canggung, byasanya rumah begitu ramai dengan celoteh Khansa, kini tinggallah kesunyian
Hilya menatap pantulan dirinya di dalam cermin
" khansa ingin punya adek" kalimat yang keluar dari bibir mungil malaikat kecil nya itu terus menerus muncul di ingatan nya
" Apa yang harus aku lakukan ya Allah??" desah Hilya bingung
Saat membahas masalah usia, Hilya selalu terbayang wajah kedua orang tua Adnan yang sudah begitu berumur
Hilya tidak ingin egois, biar bagaimanapun Adnan anak satu-satunya , setiap orang tua pasti menginginkan memiliki penerus, usia Adnan sudah cukup matang untuk memiliki anak, haruskah Hilya menjadi egois hanya karena masalah yang telah berlalu??, bukankah sekarang tugas Hilya untuk memenuhi kewajiban sebagai seorang istri, anak dan Ibu??
Lamunan Hilya buyar saat matanya menatap bayangan lain di dalam cermin
Adnan menunduk mencium kepala Hilya
Membuat jantung Hilya berdisco ria, mendapat perlakuan romantis dari Adnan suami yang dulu begitu pendiam dan sangat tak romantis
Menutupi gugup nya Hilya tersenyum
" Sudah selesai miting nya??" tanya Hilya menatap bayangan suaminya di dalam cermin
Adnan tak segera menjawab
Mata Adnan menatap begitu intens dua bayangan di dalam cermin
Mata itu, pandangan mendamba itu, tidak pernah Hilya lihat dulu di netra Adnan, Adnan selalu menatapnya dengan tatapan bingung dan sedih saat menatap nya dulu, mungkin juga sesekali ada tatapan datar tanpa ekspresi, tapi untuk tatapan mendamba.. Hilya baru saja melihatnya hari ini
apa cintamu dulu untuk ku tak sebesar cintamu untuk ku saat ini mas??
Nyatanya pertanyaan itu hanya mampu Hilya tanyakan dalam angan
" Adek melamun??" Adnan memutar kursi Hilya ke arah nya
Hilya melihat suaminya yang berpakaian santai sedikit terpesona, celana denim di padukan dengan kaos putih bertulisan Love Sunnah, membuat Adnan lebih fresh
Meskipun garis wajahnya sudah tak selembut dulu tapi Adnan masih tetap gagah dan makin terlihat matang, pesona Adnan yang dulu pernah membuat Hilya jatuh cinta pada pandangan pertama kembali memberikan getaran kecil di hatinya.
" I love you" Adnan mengecup kening Hilya lembut
Hati Hilya meleleh
mas kenapa aku seperti tak mengenalimu saat ini, perilaku mu begitu hangat berbeda jauh saat kita menikah atas dasar cinta dulu, nyatanya sikap mu yang sekarang justru menggambarkan bahwa cinta mu dulu tak sebesar saat ini
" Jadi, apa kita akan makan diluar??"
Ahhh Hilya sampai lupa menjawab pertanyaan Adnan tentang ajakan makan siang diluar gara-gara terpesona akan tampilan Adnan yang baru Hilya lihat
" Boleh, aku ganti baju dulu!!"
Adnan tersenyum dan berlalu duduk di tepi kasur
Hilya menyergit sebentar
Bukankah Adnan dulu , saat Hilya berkata akan ganti baju meskipun mereka suami istri Adnan akan tetap menunggu diluar, tapi sekarang, kenapa Adnan malah duduk manis di dekatnya??
Hilya jadi bingung, ingin ganti pakaian di kamar mandi atau ganti di hadapan Adnan
Hilya takut kalo nanti Hilya ganti di kamar mandi siapa tau membuat Adnan tersinggung tapi jika di depan Adnan takut nanti Adnan berfikir Hilya wanita yang tak tau malu
Hilya menghela nafasnya
ternyata menikah dengan orang yang sama setelah sekian lama berpisah membuat keduanya kembali seperti orang asing yang tak saling kenal, aku dengan hidupku kamu dengan hidup mu.. aku harus apa??