
Sepeninggalan Hilya tiba-tiba Adnan melepas rengkuhannya pada tubuh Rena.
"Jjangan begini REN, ini salah!!".
" Apa yang salah mas?? aku juga istrimu!!".
" Aku baru saja ditinggalkan Hilya REN!! aku begitu mencintainya!!".
" Lantas, apa mas Adnan tak mencintai ku??".
" Aku menyayangimu REN, tapi aku juga mencintai Hilya"
" Tapi aku yang mengandung anak mu mas bukan mba Hilya, bahkan mba Hilya sendiri yang memilih pergi dari kehidupan kita."
" Bukan begitu REN!!" hanya saja aku masih merasa bersalah dan kehilangan istri ku. aku tidak bisa langsung Bermadu kasih dengan mu sedangkan hati ku masih di liputi rasa bersalah dan sedih."
" Aku menginginkannya mas, ini kemauan anakmu bukan kemauan ku."
" Ini masih pagi, dan juga ini bukan kamar kita Ren, tidak pantas rasanya kita bermesraan di sini sedangkan kita tidak tau dimana sekarang Hilya berada".
"Ini salah mu mas' sejak mba Hilya pergi dari rumah kau tak mau lagi tidur dikamar ku, kau selalu memilih tidur disini, aku juga istri mu mas, kenapa kau selalu saja memikirkan mba Hilya??"
"Kenapa kau berubah egois REN?? bukankah selama ini kaupun menyayangi Hilya, kenapa sekarang sepertinya kau senang istriku pergi dari rumah."
Adnan tersentak mendengar ucapan Rena, bahkan Rena saja tidak rela membagi waktunya untuk Hilya, lantas bagaimana dengan perasaan Hilya selama ini?? Rena yang dengan suka rela mau menikah denganya meski jadi yang kedua saja cemburu, apa lagi sang istri yang jelas-jelas terpaksa rela dimadu.
Sebenarnya sudah 7 hari semenjak kepergian Hilya, Adnan selalu mendatangi rumah mertuanya namun tak satupun dari mereka yang memberitahukan keberadaan sang istri.
Adnan hanya melepas rasa rindu nya dengan tidur dikamar bekas istri nya, wangi tubuh Hilya masih tercium dilamarnya, bahkan semua barang Hilya masih lengkap di kamar itu.
Namun entah mengapa tadi pagi saat sehabis sholat subuh Adnan tertidur, rindu akan kehadiran sang istri membuatnya membayangkan kehadirannya. hingga sepertinya mimpi Adnan tersambut.
Adnan merasa bahwa Hilya memeluknya, mencium lembut bibirnya, hingga tanpa sadar Adnan membalasnya tak kalah lembut mereka saling terpaut, hingga Adnan menyadari wangi tubuh Hilya berbeda, Adnan segera membuka kedua matanya.
Adnan terkejut, mengetahui bahwa Rena lah yang sedang bercumbu dengan nya. wanita yang Adnan fikir adalah Hilya sekalinya istri keduanya.meski kecewa dan kesal Adnan mencoba menjelaskan perasaannya pada Rena dengan lembut.
Tapi ungkapan istri mudanya itu membuat hati Adnan mencelos, Rena tak sepolos yang Adnan bayangkan , bahkan istri mudanya itu terang-terangan mengakui kebahagiaan nya sepeninggalan Hilya.
Senyum getir terbit dibibir Adnan, sekarang Adnan terjebak dengan permainan takdir yang sebenarnya dia sendirilah yang memulainya.
Sebongkah rasa bersalah terhadap Hilya begitu menyesakkan dadanya, ingin marah tapi pada siapa?? bukankah dulu Anton telah menasehati nya, mewanti-wanti agar jangan sampai dirinya berpoligami..
Adnan meraup wajahnya frustasi, Adnan melangkah pergi meninggalkan Rena yang menatapnya penuh harap.