Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
230.Sama berat



Setelah sang istri meninggalkan ruangannya, Adnan baru menyadari bahwa tumpukan file yang harus ia pelajari dan Ia cek semua sudah tidak berada di tempatnya, dan yang lebih membuat Adnan terkejut adalah sebuah map yang berisi tentang sebuah kerjasama yang dilakukan oleh sang istri


" Wanita hebat!!" puji Adnan dan segera menyimpan berkas dan mengambil kunci mobilnya


Adnan melajukan mobilnya dengan sedikit kencang membuat Ia lebih cepat sampai rumah di banding sang istri, saat Adnan sudah keluar dari mobilnya, mobil istrinya baru memasuki pekarangan rumah


Adnan menunggu sang istri keluar dari mobil


" Mas??" Hilya yang turun dari mobil menghampiri suaminya


Saat Hilya mendekati Adnan


Adnan tiba-tiba memeluk tubuh istrinya, membuat Hilya mematung


Tolong biarkan seperti ini dek!!" iba Adnan lirih


Hilya yang mendapatkan pelukan tiba-tiba dari Adnan hanya terdiam ditempatnya, Hilya yang terkejut tak bergerak sama sekali, hingga suara Adnan membuatnya nya tersadar, Hilya mengangkat kedua tanganya pelan bermaksud membalas pelukan sang suami, pelan tapi pasti tangan Hilya mulai menempel di punggung Adnan


Adnan yang merasakan Hilya membalas pelukannya semakin mendekap istrinya


Adnan melakukan ini sebagai salam perpisahan, salahkah jika Adnan ingin memeluk seorang yang sudah sah menjadi istrinya??


Setelah beberapa menit saling berpelukan Adnan melepas rengkuhan nya


Adnan menempelkan keningnya dengan kening sang istri


Keduanya menghembuskan nafas teratur


Adnan meraih tangan Hilya, membawanya untuk dikecup beberapa kali.


" Adek boleh tampar mas'.. kalau memang menurut adek mas sudah bertindak kurang ajar!!, mas hanya ingin memelukmu , anggap sebagai penawar rindu mas nanti saat di negara orang!!" Adnan berujar lembut berharap perilakunya tak menyakiti hati sang istri


" Kita masuk yuk mas!!" ajak Hilya , Hilya merasa kurang pantas bermesraan di tempat terbuka, meskipun itu di pekarangan rumah


Sampai di dalam rumah Hilya segera berjalan ke kamar, menutup pintu dan duduk di kursi meja rias, Hilya menatap wajahnya di pantulan cermin.


"Kenapa aku merasa sedih?? saat mas Adnan mengatakan memeluk ku sebagai penawar rindu di saat nanti dia pergi ke negara orang?? kenapa ada sesak dihatiku......?? Allah aku mulai terbiasa akan kehadiran suamiku, salahkah jika aku takut berjauhan dengan nya??" Hilya berbicara dengan bayanganya di cermin.. menatap dirinya lama dalam keadaan bimbang


Adnan pun melakukan hal yang sama dengan yang Hilya lakukan, segera masuk kedalam kamar, dan segera membawa langkah kakinya masuk kedalam kamar mandi, Adnan kembali terduduk di atas closed


" ya Allah... kenapa begitu berat saat akan meninggalkan putri dan istriku... belum juga aku pergi tetapi kenapa hati ini mulai terasa sepi.... apa aku salah ingin hidup disisi orang-orang yang aku sayangi?? kenapa begitu sulitnya aku memberikan kebahagiaan untuk istriku ya Allah.... Adnan yang duduk termenung dengan gunaman- gunaman kecil tak menyadari bulir bening mengalir dari sudut matanya


Perjalanan Adnan setelah bercerai dengan Hilya tidaklah pernah mendapati kebahagiaan, rasa bersalah dan penyesalan selalu menyertainya dimanapun dan kemanapun Adnan melangkah


Bisa dibilang Adnan merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya di saat Adnan kembali menikahi wanita yang di cintainya..


Adnan galau , tak rela meninggalkan keluarga barunya


Tidak beda dengan Hilya


Hilya pun gelisah mengetahui Adnan akan kembali ke Inggris


Pria dan wanita yang terikat pernikahan itu merasakan keresahan yang sama tapi tak ada yang mencoba terbuka


Adnan berat meninggalkan.


Hilya takut ditinggalkan.


Adnan menangis dikamar mandi


Hilya menangis di hadapan cermin


Siapa yang tau hati seseorang... ketika terbiasa bersama setitik rasa nyaman itu pasti ada