Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
89.Firasat



Tidak terasa hari sudah akan meninggalkan waktu siang, jam menunjukkan pukul setengah dua, kami ada janji temu dengan Adnan dan keluarganya.


Aku sedang berada di meja rias milik ku, tiba-tiba bayanganku bertambah dengan bayangan pria tampan dengan kemeja putih yang begitu gagah.


" Sini yang!! biar aku yang pakaikan", ucap mas Anton sembari memutar kursi ku menghadap padanya.


Pria ku memakaikan hijab' untuk ku, aku memperhatikan wajah tampannya dengan seksama..


Mas Anton begitu tampan , matanya selalu memancarkan binar cinta untuk ku, aku bahagia mendapatkan suami seperti mas Anton, aku terkejut saat sebuah jari tiba-tiba menoel hidung ku..


" Melamun apa hmmm??. tanya mas Anton duduk berjongkok di hadapan ku. kurasa hijab ku telah terpasang sempurna.


" Yang!! aku mencintaimu" ucap mas Anton membawa kedua tanganku untuk dikecupnya.


Aku tersipu, mas Anton begitu romantis, aku menegurnya karena dia duduk berjongkok sedang dia telah memakai celana dan kemeja yang rapi, takut celananya yang sudah licin sehabis disetrika kusut kembali.


Mas Anton tak menghiraukan ku, kini justru dia menciumi lagi perutku .


" Putri Ayah harus selalu menjaga Mama dengan baik saat Ayah tidak ada, gak boleh rewel ya.. kasian Mama kalau muntah terus." ucap mas Anton disela kecupanya di perutku.


" Mas ada perjalanan ke luar kota??" tanyaku sambil mengelus surainya yang sudah sedikit panjang, dengan rambut yang seperti ini mas Anton justru terlihat semakin seksi dan tampan maximal.


" Tidak" jawab mas Anton sambil berdiri dan sempat mengecup bibirku.


" Yaa.. gak papa yang!! kan gak selamanyaa mas selalu di sisi kalian, kalo mas sedang bekerja kan kalian sendiri dirumah." ucapnya membalas pertanyaan ku.


Ponsel suamiku berbunyi, mas Anton segera mengangkat panggilan nya, sedang aku kembali sibuk dengan riasan wajahku.


" Ayok kita berangkat, Adnan sudah di restoran yang kita sepakati." ucap mas Anton, aku mengangguk dan bergegas mengambil tas dan ponsel ku, mas Anton membawa tanganku masuk kesela lenganya menghipit badan ku agar merapat dengan tubuhnya.


Aku tersenyum manis dengan perilaku suamiku, kami masuk kedalam mobil dan segera menuju restoran tempat pertemuan yang kami sepakati.


Sepanjang perjalanan, mas Anton beberapa kali mengengam erat tangan ku, mencium dan mengelusnya lembut, dia akan melepaskan saat ingin memainkan Tuas transmisi untuk mengatur laju mobil. perbuatan suamiku ini memberi sebongkah kebahagiaan yang begitu bermakna di hati ku.


Kami sampai di parkiran khusus mobil, restorannya berada di sebrang jalan. Adnan, Rena dan mamanya terlihat menunggu didepan restoran.


Kami hendak menyebrang jalan, mas Anton terseyum lembut kearahku , saat kakiku hendak melangkah kurasakan tubuhku ditarik kebelakang oleh seseorang, aku terjatuh kebelakang dengan tangan bertumpu di antara tubuhku saat aku melihat kedepan, betapa terkejutnya mata kepala ku menyaksikan dimana tubuh suamiku terpental naik keatas mobil yang menabrak tubuhnya.


Kaki ku lemas, terkulai bak tak bertopang, aku melihat beberapa orang mendekati tubuh suamiku yang tergeletak di tengah jalan raya.


Aku berlari memeluk tubuh mas Anton, suamiku tak sadarkan diri, kuraih kepalanya di pangkuanku, mata suamiku terpejam rapat, tak lagi ku lihat mata itu memandang ku dengan binar cintanya seperti beberapa waktu yang lalu kemeja putihnya berubah warna menjadi merah akibat banyaknya darah yang mengucur deras dari kepalanya.


Hatiku hancur, tak sepatah katapun keluar dari mulutku. orang berbondong-bondong menolong kami, aku tak memikirkan apapun lagi, hati fikiran, dan tubuhku seolah tak bertempat. Hanya air mata yang mengalir menyaksikan suamiku dibawa oleh orang-orang menuju sebuah mobil.