Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
161.Jangan di lanjutkan



Ramai, itu yang berasa saat ini di kediaman Anton dan Hilya suara canda tawa memenuhi ruang keluarga itu.


Umi Anton sendiri merasakan kebahagiaan untuk kedua buah hatinya, senyum wanita paruh baya itu terus tersungging dan itu semua tak lepas dari pandangan pria paruh baya yang dulu pernah mengoreskan luka yang begitu dalam yaitu Abah Anton.


"Kalian beristirahat lah, Zahfran bisa tidur di ruang tamu sama Abah!!" Anton berkata saat melihat waktu yang sudah cukup larut malam


Khanza yang tadi sempat terbangun kini sudah terlelap kembali di gendongan sang aunty Dini


" Din !! kamu bisa temani mba Zi atau Umi terserah saja!!"


" Maunya sich aku bobo sama Khansa A!! boleh gak??."


Anton mendelik mendengar ucapan adeknya. apa-apaan si Dini ini tidak taukah rencana yang sudah dirancang kedua pengantin kawak yang ingin kembali Bermadu kasih setelah hampir lima bulan tak saling melengkapi?? hadeeeeeh


" Sama mba Zi saja Din!! kasian kadang mba mu ini sudah mulai susah tidur, sekalian kamu jagain, nanti juga Umi tidur sama Zi saja, mengingat ini kayaknya sudah masuk HPL ya kan nak??" ucap umi Anton yang membuat Anton tenang kembali


" Oh iya DECH Mi!! Dini mau!!" ucap Dini melangkah menuju kamar Kakanya untuk membawa Khansa kecil berbaring nyaman di pembaringan khusus baby Khansa


" Kalau mas bisa tidur di paviliun !!" Anton menatap perawat Abahnya yang sudah terlihat mengantuk


" Terimakasih pak Anton!! kalau begitu saya permisi undur diri," sang perawat pergi menuju rumah tempat para pekerja yang berada di samping rumah Hilya dan Anton.


Semua sudah menuju kamar masing-masing, begitu pula Anton dan Hilya yang sudah memasuki kamarnya.


"A, Kak!! Dini istirahat dulu ya!!" Dini pamit kepada Anton dan Hilya dan berlalu keluar.


Dini terkejut saat tiba-tiba bibirnya dibungkam oleh Zahfran, dan tubuhnya di bawa ke arah tempat yang tak terjangkau Cctv


" Zahfran apa-apaan??" tanya Dini saat Zahfran melepas tanganya.


Zahfran hanya tersenyum manis melihat Dini yang gugup


Tangan Zahfran meraih tangan Dini, Zahfran sudah tak mengenakan pakaian ojeknya lagi sepertinya Zahfran sudah habis membersihkan diri tercium dari aroma rambutnya yang masih menebarkan wangi shampoo


" Apa ini Zahfran?? kenapa tidak kau berikan tadi di depan Umi??" lirih Dini dengan mata berkaca terharu


" Aku ingin ciptain momentum sendiri, hanya aku dan kamu!!" Zahfran menatap lekat mata Dini, tangan nya menghapus lembut air mata Dini


" Jangan menangis!! aku berjanji tidak akan memanggilmu dengan sebutan mba- kak atau aunty setelah kita menikah nanti!!" bisik Zahfran membuatnya mendapat cubitan maut di perutnya


"Aaaaaah ampun Sayang, sakit bangeeeet!!" Zahfran mengaduh, Dini terhenyak mendengar pangilan dari Zahfran


" Ka Kamu pangil a aku sayang??" tanya Dini terbata


Zahfran menangkup kedua pipi Dini " kenapa?? apa kamu keberatan??" tanya Zahfran yang langsung di jawab gelengan kepala oleh Dini


Kini keduanya saling pandangan, bibir Zahfran yang berwarna kemerahan membuat Dini kehilangan kendali dirinya, entah bagaimana mulanya tiba-tiba Dini sudah menempelkan bibirnya pada bibir Pria yang baru akan menjadi suaminya


Zahfran cukup terkejut atas perlakuan Dini padanya, bukankah seharusnya Prialah yang harusnya memulai?? kok ini justru terbalik


Di banding Dini, Zahfran lebih brengsek kemana-mana, lebih berpengalaman pula tapi kenapa jadi Dini yang terlihat agresif??


Zahfran tengelam dalam fikiranya sampai tak terasa Dini telah melepas tautan bibirnya, Dini menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena merasa malu luar biasa, Zahfran yang tersadar tertawa renyah.


" Kamu malu Sayang??" Zahfran bertanya sambil tanganya melerai dekapan Dini pada wajah ayunya.


"Kenapa gak bilang kalau minta di ajari ciuman?? hmmm?? biar usiaku lebih muda kurasa aku bisa mengajarimu !!"


Dini hendak membuka mulutnya untuk berbicara, namun dengan cepat Zahfran me****t bibir Dini dengan lembut, namun begitu memabukkan, tangan Zahfran menahan tengkuk Dini untuk memperdalam ciuman mereka Dini yang tadinya tak membalas kini sudah mulai membalas cecapan Zahfran, bahkan tangan dini melingkar di leher Zahfran, hingga Zahfran melepaskan tautan mereka karena melihat Dini yang mulai terengah.


Zahfran terseyum, jempolnya menghapus lembut jejak bibirnya, terlihat bibir Dini yang sedikit bengkak, kemudian Zahfran membawa Dini dalam dekapannya.


" Jangan dilanjutkan sayang!! Aku takut tak mampu mengendalikan diriku!! tidurlah , besok aku akan membawamu belanja persiapan pernikahan kita oke.. !!" terlihat Dini hanya mengangguk di dekapan Zahfran