Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
258.Jauh kian menderita



3 hari Adnan mengalami mual muntah tak tertahankan, membuat dirinya urung pergi ke Singapore, hari ini Bapak dan Ibu Adnan datang melihat sang anak


Hilya terpaksa meninggalkan mereka, karena harus menghandle pekerjaan sang suami


Keadaan Adnan biasanya akan membaik jika matahari sudah naik, biasanya Adnan akan mual muntah pagi sampai jam 10 siang, di dampingi Hilya yang terus merawatnya dengan tekun


Tapi di hari ke empat ini Adnan benar-benar tak mampu bertahan, kepergian sang istri membuatnya kian drop, biasanya dengan memeluk dan mencium wangi tubuh Hilya Adnan akan merasa lebih baik, tapi tanpa Hilya sejak pagi hingga petang Adnan tak mampu hanya sekedar meminum air, dan akhirnya Adnan berakhir di Rumah Sakit karena tak sadarkan diri di kamar mandi


Mata Adnan terpejam, tangan kirinya di pasangi selang infus, wajah Adnan pucat, meski Dokter sudah memberinya obat anti mual tetapi tak membuahkan hasil, Adnan masih terus-menerus muntah.


" Buk!!" Adnan berkata Tanpa membuka matanya


" IYa Le, kamu butuh apa!!" sang Ibu mengelus punggung tangan anaknya yang bebas infusan.


" Hilya belum datang??" lirih Adnan


" Masih di jalan Le.. kamu sing sabar ya!!"


Mendengar jawaban sang Ibu Adnan tak lagi berbicara, tenaganya terkuras habis sepanjang hari


Di dalam mobil Hilya pun begitu cemas mendengar kabar dari Ibu mertuanya, padahal jam 6 pagi tadi Adnan sedikit lebih baik daripada 3 hari yang lalu, bahkan mereka hampir melakukan hubungan suami istri, seandainya Ibu dan bapak Adnan tak datang tiba-tiba.


Seharian mengurus pekerjaan yang terbengkalai membuat Hilya begitu lelah, itu sebabnya dirinya baru mengetahui kabar tentang Adnan, karena Hilya pun baru bisa memeriksa ponselnya.


Hilya memilih mengunakan angkutan umum, Hilya begitu lelah


apalagi fikiranya yang cemas membuatnya takut kurang fokus saat menyetir, membuat Hilya memilih mengunakan jasa driver


" Rumah sakit Husada baru ya mba??" tanya drivernya


" IYa pak!!" Jawab Hilya.


Sebelum nya Hilya naik taksi, tetapi karena macet Hilya rela mencari ojol untuk mempercepat perjalanan nya menuju rumah sakit di mana Adnan dirawat.


" Kembalianya untuk Bapak Saja!!" ucap Hilya sesaat membayar tagihan ojeknya


" Terimakasih mba!!" ucap driver yang mengantarkan Hilya


Hilya melangkah tergesa-gesa mencari ruang rawat Adnan, kaki jenjangnya menuju ruang Ulin, sesuai informasi sang Ibu.


Hilya mendorong pintu


Disana Hilya melihat Ibu Adnan yang sibuk memijit kepala putranya, Hilya pun melihat sang suami yang tergolek tak berdaya di pembaringan


Perlahan Hilya mendekat, menyalami santun Ibu mertuanya, dan mulai mengantikan pekerjaan sang Ibu untuk memijit kepala Adnan


Hilya memijit tanpa suara, berharap Adnan akan terlelap, tapi yang ada Adnan malah membuka kelopak matanya


" Dek' sayang!!" wajah pucat itu menatap Hilya


Hilya tersenyum manis


" IYa mas ini Aku, mas butuh sesuatu??" tanya Hilya lembut


" Mas mau di peluk!!" jawab Adnan manja


Ibunya tersenyum, seperti mengerti sang ibu memberikan privasi untuk sang anak dan menantunya


" Nak Hilya sudah datang, Ibu tak Bali ngomah sama bapak temani cucu ibuk le!!" ( Bali ngomah kalo orang Jawa bilang kembali ke rumah)


" Hilya menatap malu sang Ibu, tapi Ibu Adnan malah menepuk pundak menantunya dengan senyum dan ucapan titip Adnan.


Sepeninggalan sang Ibu Adnan langsung mendudukkan dirinya.


" Mas baring saja, nanti pusing lagi!!" nasehat Hilya


" Mas mual!!" keluh Adnan.


" Dek'!!" Adnan mencegah


" Kenapa??"


" Mas mual, mau peluk Adek biar enakan!!"


Meski bingung tapi Hilya tetap urung meninggalkan Adnan.


Adnan membuka kedua tangannya manja meminta Hilya mau merengkuh tubuh nya


Hilya mengelengkan kepalanya heran tetapi tetap masuk kedalam pelukan hangat Adnan


" Dek!!"


" Hmm??"


" Boleh mas minta tolong??"


" Apa??"


" Kunci pintu!!"


Hilya menyergit dalam pelukan Adnan


" Untuk apa??"


" Mas mau cium Adek!!"


" Terus??" tanya Hilya bingung


cium kan tinggal cium mengapa harus kunci pintu??" tanya Hilya dalam hati


" Mau di buka!!"


" Apanya??"


" Rambut Adek, mas mau cium aroma kepala Adek!!"


" Lepas dulu, biar aku kunci!!" Hilya mengalah apapun dilakukan asal Adnan merasa lebih baik


" Mas!!" Hilya heran sama Adnan, disuruh kunci pintu tapi Adnan tak melepaskan rengkuhan nya malah kian mengeratkan pelukannya


" Sebenarnya mas sakit apa sih??" tanya Hilya mengelus punggung Adnan, karena Hilya tak mendeteksi Adnan sakit keras atau semacamnya


" Tunggu hasil lab besok kata Dokter!!" Jawab Adnan lirih di atas kepala sang istri yang tertutup hijab


Hilya mendesah


" Aku takut!!" lirih Hilya


" Takut karena apa??" jawab Adnan sedikit melonggarkan pelukannya


" Takut karena mas Adnan!!"


" Aku??" tanya Adnan sambil menunjuk dirinya


Hilya mengangguk


" Aku takut mas kenapa-napa, Aku gak mau kehilangan suami untuk kedua kalinya!!"


Adnan membingkai wajah istrinya


" Karena??" tanya Adnan


" karena aku.... Jawab Hilya terputus saat ketukan pintu terdengar