Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
149.Doa dan harapan



Anton segera berlari menuju rumahnya, sesaat setelah memarkirkan mobilnya di depan gerbang, pria tampan yang baru mendapat gelar Dedy itu segera berlari kearah kamar mereka.


"Yang??" Anton melihat Hilya hanya sendiri di dalam kamar mereka.


Senyum merekah terbit di bibir Hilya, setelah membalas senyuman sang istri yang sama meneduhkan nya Anton segera berlalu ke dalam kamar mandi, sepeti kebiasaan selama ini, setiap habis dari rumah sakit Anton membersihkan diri terlebih dahulu sebelum bercengkrama dengan Hilya, Anton memang selalu seperti itu, pria yang begitu mencintai kebersihan


30 menit kemudian akhirnya Anton keluar dari kamar mandi, namun Hilya tak lagi berada di tempat tidur, beberapa saat setelah Anton mengenakan pakaiannya tampak Hilya masuk kamar dengan membawa nampan yang berisi minuman hangat untuk sang suami.


"Astaghfirullah Yang!! ngapain?? aku bisa bikin minum sendiri Yang!!" Anton begitu gemas dengan istrinya yang selalu mengutamakan dirinya dari segalanya, bahkan meski dalam keadaan yang masih belum fit, segera Anton menyambut minuman yang masih mengepul diatas nampan


Setelah meletakkan di nakas, Anton meraih tubuh istrinya.


"Sini Yang!!"


"Bagaimana keadaan teman mas??" tanya Hilya dengan wajah yang tengelam di dada bidang Anton.


" Kurang tau Yang!! ragaku di sana tapi jiwaku selalu mikirin kamuuu..."


" Idih gombal!!"


" Serius Yang!! kalo kamu gak percaya nih belah dada Aku, hanya ada namamu di sini!!" ucap Anton dengan menunjuk pada dadanya, tepat dimana jantung berdetak.


Sedangkan Hilya hanya tersenyum di dekapan Anton.


"Yang, kemana Zahfran dan mba Zi??"


"Aku kurang tau mas' tapi sepertinya mereka buru-buru pergi ke lapas! setelah Zahfran menerima telepon"


"Apa ada hubungannya dengan Mariani??"


"Mungkin!!"


"YANG!!"


"Kamu gak tanya apa yang aku lakuin selama menjenguk Keysa??"


Hilya mendongak menegakkan tubuhnya yang masih menempel di dada suaminya


"Untuk Apa??"


"Jaga-jaga mungkin!!"


Hilya justru tersenyum dan mengeleng.


"Dia mantan terindah ku Yang!!"


"O!!"


"O??"beo Anton. "kok cuma O sich Yang?? emangnya sayang gak cemburu gitu?? takut kalo aku CLBK??" tanya Anton dengan mata yang mengunci di mata Hilya, ingin mencari kilatan cemburu di bola mata indah itu, nyatanya yang ada hanya tatapan geli dan jenaka di binar netra Hilya.


" Aku percaya kamu sepenuhnya mas!!"


"Sebegitu nya sayang percaya sama aku Yang??" tanya Anton, kali ini dengan wajah penuh haru


" Bukan sudah seharusnya begitu mas??"


"Ya Allah Yang!! terbuat dari apa sich Yang hati mu? kenapa begitu sabar selama ini??" Anton bertanya dengan mata berkaca-kaca merasa betapa beruntungnya dirinya mendapatkan pasangan seperti Hilya.


" Alhamdulillah Made in Allah mas!!" jawab Hilya dengan senyum tulus, yang membuat Anton turut terseyum.


"Iya ya!!" jawab Anton dengan tangan yang kembali merengkuh tubuh istrinya.


"Aku sangat bersyukur karena memiliki istri sebaik dirimu, ingatkan aku jika aku mulai lalai atas tanggung jawabku, pengertian mu selama ini tak dapat ku balas Yang!! kesabaran dan dukungan mu memenuhi kebersamaan kita selama ini, jika Aku bisa meminta aku ingin berjodoh dengan mu dunia akhirat." ucap Anton sambil mengelus lembut punggung istrinya, sedangkan Hilya hanya menikmati sentuhan lembut suaminya.


Hilya mengaminkan ucapan Anton dalam hati, Hilya juga menginginkan hal yang sama yaitu berjodoh hingga janah, tidak hanya dengan Anton kali ini saja, bahkan dulu Hilya pun selalu berdoa agar jodoh hingga Jannah bersama masa lalu, namun apa daya jika takdir dan jodohnya kini berubah