
"Tidak kah kamu pernah berfikir??
bagaimana perasaan ku ketika kau tak segera membawa Rena pergi tinggal dirumah sendiri."
"Setiap kau menghabiskan malam dengan Rena aku selalu kesepian!"
"Batinku menangis, kamu tidur dikamar sebelah yang bahkan apa yang terjadi diantara kalian aku masih dapat mendengar nya."
"Bagaimana perasaan mu jika aku tidur bersama pria lain dan suara ******* ku terdengar di telingamu?? tidak kah kau bersedih??"
"Mana janjimu akan bersikap adil?? bahkan aku lebih sering menghabiskan waktuku untuk bekerja dari pada dengan mu karena makin hari kau makin berubah mas"
"Apa yang berubah dariku Hil?? kenapa kamu menuruti permintaan orang tuamu untuk meninggalkan ku??. dan aku juga menginginkan anak dari mu selama ini."
" Sudah lah mas', sekarang kau akan segera menjadi Bapak, jaga istri dan anak kalian dengan baik, sepertinya aku akan menelpon sopir Papa agar segera menjemput ku."
Pria tua itu menatap cucunya dengan pandangan penuh penyesalan.
Hilya menghampiri tubuh tua itu.
"Jaga diri kakek baik-baik kek!!. maaf jika Hilya ada salah sama kakek Hilya pergi dulu kek!."
"Nak!!" bibir tua itu bergetar. tangan keriput itu mengengam tangan Hilya.
"Maafkan kakek nak, ini semua terjadi karena keegoisan kakek, adakah yang bisa Adnan lakukan agar kamu mau tetap disini??."
Kakek menatap sang cucu yang seperti hilang arah. Adnan mendekati istrinya, direngkuhnya tubuh Hilya dalam pelukannya.
"Bisakah kau memilih antara aku atau Rena yang tengah mengandung anak mu??".
Adnan terdiam, suaranya seolah tercekat di tenggorokan nya.
" Kau tidak bisa memilih kan mas??". aku tau mas dihatimu mulai timbul rasa sayang untuk Rena. lepaskan aku mas belajarlah mencintai Rena dengan tulus, anggap saja jodoh kita hanya sampai di sini."
Adnan bersimpuh di hadapan Hilya. "beri aku kesempatan sayang!! aku berjanji besok juga aku akan bawa Rena pergi dari rumah kita ini, aku janji akan berusaha lagi lebih adil pada kalian, aku mohon maaf, tolong Hil, tolong jangan tinggalkan aku. aku tidak bisa memilih diantara kalian berdua."
"aku.....
Ucap Adnan terhenti saat pintu rumah diketuk dari luar, terlihat pula Rena turun dari kamar atas.
"Ada apa kek??". tanya Rena bingung.
"Apa benar kamu tengah mengandung??".
Bukan sebuah jawaban, namun pertanyaan di jawab pertanyaan. "memang nya ada apa jika aku hamil kek??" bukan Jawaban lagi-lagi yang Rena dapatkan, namun kali ini justru air mata kakeknya menetes membasahi pipinya.
Kenapa pria tua itu menangis?? sedihkah??" bahagia kah??" bukankah seharusnya Ia bahagia karena sejak awal dia memang tidak menyetujui pernikahan Adnan dan Hilya, seharusnya dia bahagia karena Hilya akan segera pergi dari kehidupan mereka. namun kenyataannya air mata itu justru menampakkan sebuah air mata kesedihan bukan kebahagiaan.
Hilya menghiraukan suaminya yang masih bersimpuh, Hilya melangkahkan kakinya ke arah pintu. wanita cantik itu langsung terseyum melihat siapa yang datang.
Adnan ikut berdiri, rasa penasaran akan tamu yang datang pria itupun mendekati pintu luar, matanya terpaku melihat kedatangan kedua mertuanya yang tengah memeluk putri mereka dengan sayang.
Adnan: Pa!" Ma!". Adnan mencoba menyapa kedua orang tua istri nya itu dengan sopan.