Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
133.Hilya ya Hilary



Adnan terseyum .


"Alhamdulillah kamu bisa melewati masa sulit Hil, aku ikut senang, dan aku juga senang namaku yang pertama kali kau ingat".


Ponsel Adnan berbunyi, membuat Adnan beralih menatap layar ponselnya.. wajah Adnan berubah panik


" Hil kakek kritis dan baby Akbar kembali kejang, aku, aku.....


" Pergi lah mas' aku tidak apa-apa". ucap Hilya memotong perkataan Adnan Yang terlihat panik


Adnan melihat Hilya dengan penuh penyesalan sebelum beranjak meninggalkan ruang rawat , Hilya memberikan senyum menenangkan agar aman tidak merasa bersalah


Sepeninggalan Adnan, Mama Hilya dan Umi masuk, peraturan paska covit memang tak membiarkan orang masuk kedalam ruang rawat sembarangan, maximal dua orang


Terlihat dua pasang mata itu menatap sendu Hilya, terlihat sekali gurat khawatir di wajah kedua wanita paruh baya itu


Hilya hanya tersenyum lembut, menyambut kedua Ibunya, Umi Anton menyayangi Hilya layaknya putrinya sendiri, dan Hilya tau hal itu.


"Mama!! Ummi!!" sapa Hilya dengan senyum manis


Mendengar pangilan putrinya tangis keduanya pecah, rasa haru menyelimuti hati mereka, kelegaan terpancar jelas di aura wajah Umi dan Mama Hilya


Kedua orang Ibu itu berhambur memeluk Hilya.


" Umi yakin putri Umi pasti kuat, tidak ada yang bisa menyakiti Putri Umi dan Putri Anton, kalian adalah para wanita tangguh." ucap Umi Anton terisak.


Hilya tersenyum dalam linangan air mata, Mengerti akan maksud sang Umi yang menyebut mereka wanita tangguh, Hilya bahagia karna ternyata keyakinan sang suami bahwa dirinya mengandung seorang putri benar adanya, begitu kuatnya ikatan seorang anak dan ayahnya hingga sebelum lahirpun Anton telah begitu yakin istri nya mengandung janin perempuan.


"Sayang!! Anton, Suami mu pasti turut bahagia,


tadi saat mendengar mu yang mencari Adnan, Anton begitu sangat terpukul, Mama dapat melihat binar kesedihan di hati suamimu nak!!Mama yakin saat ini suamimu sedang bingung dan gelisah".


Hilya mendongak menatap wajah Mama nya dan Umi bergantian


" Maaf!! entah mengapa hanya nama Adnan yang dapat ku ingat Ma, Mi!!"


Umi Anton mencium kening Hilya


"Tidak apa-apa sayang, apapun itu yang penting kamu tidak melupakan kami semua, mungkin saat ini Anton sedang melihat putri kalian, oh yaa.. Umi keluar dulu Dini dan Risqi juga ingin melihat keadaan mu nak!! kita musti bergantian, nanti Umi masuk lagi yaa!!"


"Mi!! Tolong jangan Umi katakan sama mas Anton kalo Hilya tidak amesia, Hilya ingin kasih kejutan buat suami Hilya Mi". Hilya menarik lembut tangan ibu mertua nya.


"Anak nakal!!" Jawab Umi Anton dengan penepuk lembut bahu menantunya sebelum terkekeh kecil.


Yang dibalas cengiran nakal khas Hilary, nama boleh berubah, sikap Hilya terkadang tetap bisa jahil seperti dirinya dulu yang belum berganti nama.


"Mama juga harus keluar dulu sayang!! Mama harus kabarin Papa oke??".


Sang Mama dan Umi keluar bersama dari ruang Hilya yang masih menyisakan bekas air mata, bersama an dengan itu Anton sedang berdiri di depan pintu.


Melihat bekas air mata di wajah Mama dan Umi nya Anton terlihat begitu gusar, Anton Segera masuk kedalam ruang rawat istrinya dengan perasaan campur aduk tanpa menyapa Mama dan Umi nya


Sedangkan Mama Hilya dan Umi Anton saling pandang sebelum mereka sama-sama mengelengkan kepalanya.