
Larut dalam lamunan Adnan tak menyadari bahwa tubuh Hilya telah merapat ke tanah
Adnan tersadar sesaat sebuah petir menyambar dengan suara yang cukup mengagetkan nya, spontan Adnan melihat kearah Hilya yang telah tersungkur di atas makam suaminya
Adnan yang menyadari ke teledorannya, mengeram kesal, sekarang bagaimana Hilya sudah tak sadarkan diri
Kaki Adnan melangkah mendekati tubuh mantan istrinya
Merengkuh tubuh mantan istrinya kedalam gendongan nya
Bibir Hilya mulai membiru karena kedinginan
" Bodoh kau Adnan!!! bagaimana kau lupa jika Hilya saat ini sedang tidak sehat dan kau malah membiarkan nya kehujanan cukup lama!!" Adnan bergumam dengan dirinya sendiri
Dengan berlari Adnan membawa Hilya kedalam mobilnya
Apa yang harus kulakukan?? tanya Adnan
Melihat wajah pucat Hilya dan getaran tubuh Hilya membuat Adnan kebingungan
" Tooon!! aku harus bagaimana?? keadaan Hilya tidak memungkinkan untuk ku bawa pulang sedang jarak rumah cukup jauh!!"
Adnan menjalankan mobilnya dengan fikiran Yang kalut, secepat mungkin Adnan membawa mobilnya keluar dari area pemakaman, mengendarai mobil dengan kecepatan yang cukup tinggi, hingga saat melewati persimpangan jalan menuju perumahan tempat tinggal Hilya, sebuah pohon besar terlihat tumbang dan memenuhi badan jalan membuat Adnan lebih kalang kabut, terlebih wajah Hilya sudah benar-benar putih pucat
Adnan turun dari mobil, tak perduli meski rintikan hujan masih sesekali menetes dari langit
" Pak apa masih lama??" tanya Adnan pada bapak-bapak yang membawa mesin senso untuk memotong ranting pohon
" Iya mas'.. ini pohonya besar selain disini yang tumbang di ujung jalan sana satu pohon lagi tersambar petir tadi" terang bapak yang membantu mengangkat potongan potongan pohon
" Mohon maaf pak saya tidak bisa bantu karena saya sedang buru-buru, itu anu didalam mobil saya anu, itu .... Adnan bingung menyebut Hilya sebagai apanya
" Itu istrinya kenapa mas??" tanya Bapak nya sesaat melongokkan kepalanya
Adnan tergagap " anu itu, dia, dia pingsan karena terlalu lama kena hujan!! jawab Adnan gugup
" Ya Allah terus ngapain masnya malah ngobrol di sini, cepat atu bawa istrinya pulang!!" ujar bapak yang membawa mesin pemotong
" Rumah kami lewat jalur ini Pak!!"
" Astagfirullah... kasian sekali mas, mending mas nya cari rumah sakit atau apa secepatnya itu istrinya udah lemes gitu!! Bapak yang turut melihat kedalam mobil Adnan ikut berkomentar
" Ayo mas cepetan, keburu istri mas kehilangan nyawanya nanti!!" bentak pria paruh baya pada Adnan yang terlihat Ling lung
Adnan yang mendengar langsung panik, dan pamit pergi dari sana, dalam kebingungan, ponsel Adnan terus berbunyi terlihat nomor Papa Hilya di layar ponselnya
Adnan tidak berniat mengangkat nya, tujuan secepatnya adalah apartemen miliknya yang jauh lebih dekat di tempuh dari pada rumah sakit, satu yang difikirkan Adnan saat ini segera mengantikan Hilya pakaian yang kering dan memberinya obat agar Hilya tak demam
15 menit dengan membawa mobilnya seperti kesetanan Adnan akhirnya sampai di lobby apartemen miliknya, merengkuh tubuh Hilya dalam gendongannya tanpa memperdulikan pandangan orang sekitar, dengan langkah cepat Adnan memasuki life menuju lantai 7 dimana kamarnya berada
Rasa khawatir membuatnya melupakan bahwa dirinya hanya tinggal sendiri di apartemen miliknya, sedang Akbar kini masih berada di rumah Hilya dan Anton
Sampai di depan pintu Adnan segera membuka pintunya, dengan sedikit kerepotan karena ada Hilya dalam gendongannya
hingga sampai pintu apartemen miliknya tertutup Adnan baru menyadari sesuatu, bahwa mereka hanya berdua saja di dalam apartemen miliknya
Tiba-tiba tubuh Adnan bergetar.
"Siapa yang akan Membantu Hilya mandi dan Menganti pakaiannya??"