
Tiupan angin menerpa hijab wanita yang tengah berdiri di pinggir Balkon rumah sakit.
Ini adalah malam hari, membuat angin menghembus begitu kuat, wanita itu menikmati hembusan angin yang menenangkan.
Saat sang wanita membuka kedua tanganya menikmati sumilir angin, sepasang tangan kokoh menyusup dan melingkari perutnya yang tengah membesar.
" Sayang, mas sudah gak sabar melihat kehadiran mereka besok" suara pria mengalun manja di iringi dengan elusan lembut di perut sang wanita.
Si Pria membalik tubuh sang wanita.
Menatap penuh cinta dan ketulusan.
" Terimakasih Sayang, atas segala pengorbanan sayang untuk mas, mas mencintaimu, Khansa, Azka dan si kembar, " tangan Pria itu mengelus lembut perut istrinya yang hanya menunggu besok pagi untuk melakukan operasi Caesar
Ya' Adnan kekeuh minta sang istri untuk operasi saja, tak tega membiarkan istrinya berjuang melahirkan alami, ditambah lagi usia Hilya yang sudah menginjak 43th Dokter menyarankan untuk Caesar saja, dan Hilya menurut saja, apapun jalananya yang terpenting ketiganya sehat.
" Kami juga mencintai mas Adnan" ucap wanita yang taklain adalah Hilya.
"Auh!!" Hilya melenguh
" Sayang??" Adnan khawatir.
" Mereka menendang terlalu kuat!!" Hilya tersenyum.
" Mereka akan jadi teman bermain Abang Azka" ucap Adnan sambil mencium perut istrinya.
Ya' hasil USG menunjukkan bahwa Hilya tengah mengandung anak kembar dan keduanya berjenis kelamin laki-laki.
Qodarullah, jika memang benar maka Khansa adalah satu-satunya putri pasangan Hilya dan Adnan.
Hilya tersenyum.
" Mas' terimakasih sudah menghujani Khansa dengan kasih sayang, mas membuat Khansa lupa tentang rasa sepi tanpa seorang Ayah, mas hadir di tengah kami dengan membawa cinta dan kasih sayang untuk putriku" Hilya memeluk Adnan.
" Khansa putri mas juga, sampai kapanpun, meski mas tak bisa menjadi wali nikah nya kelak, tetapi selain itu mas bisa berperan dalam hal lain untuk putri mas, mas akan berusaha seadil-adilnya pada putri dan putra mas, tidak mas biarkan mereka mengeluh akan tempangnya kasih sayang kita." ucap Adnan sambil membalas pelukan sang istri
______________________
Lampu operasi masih berwarna merah, itu tandanya proses operasi belum selesai
Keluarga besar tengah berkumpul di rumah sakit
Tidak hanya Ibu, Bapak Adnan, Papa dan Mama Hilya, di sana juga ada keluarga besar Anton, Umi, Abah, Dini, Zahfran, Zizi, Fauzan, dan juga Zahra, semua ikut antusias menyambut kelahiran Putra Adnan dan Hilya.
Abah Anton dan Umi Anton menangis memeluk Khansa, cucu mereka yang begitu mirip dengan mendiang Anton, Khansa makin remaja makin cantik, bisa dibilang Khansa adalah Anton fersi perempuan.
Azka yang berusia 4 tahun ikut bergabung, bibir mungilnya sudah berubah monyong kayak paruh bebek
" Kaka di eluk Azka Ndak!!" ( Kaka di peluk Azka tidak!!") putra Adnan ini memang begitu cemburuan, tidak bisa melihat sang Kaka yang di manja oleh Ayah ataupun bundanya kalo dia tidak di sayang juga.
Umi dan Abah Anton terkekeh
" Sini cucu eyang,?!" rayu Umi Anton dan ya yang terjadi adalah mulut bebeknya sirna begitu saja, kedua tangan kecilnya langsung naik kedepan pertanda minta gendong.
Lagi-lagi tingkah lucunya itu mampu mencairkan suasana tegang.
" Uluh-uluh semoga eyang selalu diberi kesehatan agar mampu nantinya mengendong cucu-cucu eyang!!" ucap Umi Anton mulai meraih tubuh mungil Azka.
Lampu ruang operasi padam menandakan operasi telah usai.
Suster mendorong beruntun Hilya dan bayi bayi kecilnya secara terpisah, Hilya keruang rawat sedangkan bayinya dibawa keruang khusus bayi.
Semua berdiri mengikuti brangkar Hilya.
"Alhamdulillah" Adnan berseru syukur seraya mengucapkan terima kasih pada tim medis dan segera menyusul sang istri.
Diruang rawat Hilya penuh dengan kebahagiaan, Umi Anton menciumi menantunya, ikatan mereka tak pernah putus meski Anton telah tiada, hubungan mereka tetap hangat sehangat dahulu.
" Selamat putri Umi!!" Umi Anton mengelus surai menantunya yang tertutup hijab.
" Terimakasih Umi. Hilya tersenyum manis
Dini mendekati Kaka iparnya, lama tak bertemu membuat Dini begitu rindu dengan Hilya.
" Kak Hilya kangen!!" rengek Dini
" Dek!! anak-anak tidak ikut??"
Dini mengeleng.
" Mereka itu rentan sakit kak, mana berani kami bawa ke rumah sakit!! satu bulan 3x kami bawa bolak-balik ke Dokter untuk periksa. ucap Dini memeluk manja Kakanya yang sedang berbaring.
" Nanti kalo sudah besar daya tahan tubuh mereka akan membaik!!" Hilya mencubit pipi adik ipar cerewet nya itu.
Malam hari suasana ruang inap Hilya menjadi sepi, Adnan baru saja dari masjid untuk sholat isya berjamaah.
Adnan menghampiri istrinya yang tengah memompa ASI.
Adnan menatap lekat wajah istrinya
" Mas!!" tegur Hilya yang mendapati Adnan terus memandangi nya
Adnan mencium bibir istrinya.
" Mas mencintai mu Hilya Aisyah, dan setiap hari cinta mas kian besar.
" Me too!!" balas Hilya mengelus pipi suaminya
"Mas habis intip putra -putra kita sayang
Luthfan Saidi Ahya dan Luthfi Saifi Ahya sedang bobok nyenyak, sepertinya mereka memberi peluang untuk Abati dan Amati nya untuk melepas rindu" ucap Adnan dengan mengerling jahil
" Maaaass" cubitan Hilya mendarat di pinggang suaminya membuat Adnan tergelak, Adnan juga mencubit lembut hidung istrinya
Membuat kedua nya akhirnya sama-sama tertawa.
Akhirnya Adnan memiliki seluruh cinta istrinya, lika- liku kehidupanya membawanya kembali pada cinta pertamanya.
Begitu juga Hilya pernikahan yang awalnya dilakukan demi sang putri berbuah manis menumbuhkan kembali cintanya yang dulu di paksa mati, mendapatkan Adnan yang jauh lebih baik, cinta Adnan begitu besar untuknya dan juga Khansa, di tambah kini kehidupan mereka di lengkapi dengan hadirnya tiga putra , membuat kehidupan mereka kian sempurna, meskipun cobaan hidup pasti ada, tetapi yakin mereka mampu melaluinya.
End
Hay para pembaca....
Alhamdulillah.. akhirnya novel marry me Ustadz tamat juga, author ucapkan banyak terimakasih atas dukungan para pembaca, akhir jumpa author boleh minta like, komen dan votenya biar author tetap semangat membuat karya baru..
"sampai jumpa, sehat selalu untuk kita semua"
segera hadir.. cuplikan sosok Tania bisa di baca di novel author yang berjudul Takdir... see you.............