Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
248.Hilya yang usil



" Mas Adnan!!" lirih Hilya melerai pelukan mereka


" IYa??"


" Kaki mas terluka??" tanya Hilya dengan lembut, tidak meledak-ledak seperti tadi


" Tertimpa sesuatu Dek, hanya memar .


" Tidak mendapatkan obat??"


" Tidak dek' cukup di kompres kata Dokter"


Hilya duduk menghadap kemudi


" Kita harus bergegas pulang, sebentar lagi magrib. ucap Hilya mulai menjalankan lagi mobilnya


Sekitar 25 menitan mereka telah sampai di rumah, bahkan Adnan dan Hilya telah melakukan sholat berjamaah


Hilya mendekati Adnan, melihat luka di kaki suaminya


Hilya memijit pelan


" Spa tidak sakit??"


Adnan mengeleng


" Kalau dipake jalan saja baru agak nyeri"


Hilya mengangguk


" Kita makan sisa Coto tadi siang tidak masalah kan mas??"


Adnan tersenyum akhirnya keduanya makan malam dengan menu Coto yang Adnan masak tadi siang menjelang sore


Hilya melarang Adnan membantunya berberes, Hilya melakukan nya sendiri, setelah selesai Hilya mendekati tubuh suaminya


"Ayo kita ke kamar, biar aku bantu!!" Hilya menarik tangan Adnan ke atas pundaknya


Adnan tak menolak, Adnan senang Hilya begitu perhatian


Bahkan Hilya tak segan-segan, memijit kakinya


Waktu terus berjalan, setelah sholat isya berjamaah Hilya kembali membantu Adnan ketempat tidur


Adnan duduk di atas tempat tidur menarik Hilya yang hendak beranjak


Tangan Adnan terulur membuka mukena sang istri, Hilya tak mengelak membiarkan Adnan melihat rambutnya


Adnan meletakkan mukena Hilya di nakas, menarik sang istri agar duduk di sisinya


Adnan membawa tangan kanannya membelai mesra pipi istrinya


Bibirnya melengkung keatas.


" Cantik!!"


" Hmmm??" gunam Hilya


" Adek sangat cantik" ucap Adnan serius


" Mas akan menunggu sampai hati Adek mau menerima kembali nama mas!!" lirih Adnan, mata Adnan terlihat redup


Hilya meraih jemari Adnan yang mengelus pipinya


" Sampai saat itu, mas tidak akan meminta hak mas!!" tambah Adnan


Hilya menggigit bibirnya sendiri


" Jangan digigit!!" bisik Adnan


"Why??" tanya Hilya


" Mas tergoda!!" desah Adnan suara Adnan kian dalam


Hilya tersenyum


" Jalau begitu kita tidur!!"


Adnan menganguk, Hilya dapat melihat tatapan mendamba Adnan untuk nya, tapi tidak ada salahnya bukan Hilya mengoda suaminya


Hilya meninggalkan Adnan yang melihat nya Bingung


Hilya berjalan memasuki kamar ganti kecil yang berada di dalam kamarnya, Hilya membuka sebuah lemari pakaian lamanya, pakaian yang dulu ia pernah kenakan saat masih bersuami, Hilya membuka pintu lemari itu, bibirnya tersenyum


Hilya meraih sebuah pakaian yang telah tersimpan lama, pakaian itu masih sangat terawat, Hilya meraihnya satu dan mencoba untuk mengenakan nya


Hilya berdiri dihadapan cermin, pakaian itu masih begitu pas di tubuhnya


Hilya menghela nafasnya beberapa kali


ini tidak salah, mas Adnan suamiku, sudah selayaknya kami saling memberikan


Adnan yang ditinggalkan Hilya begitu saja menatap nanar pintu ruang ganti itu


aku akan menunggu seberapapun lamanya , aku akan berusaha keras untuk membuat hati istriku menerimaku kembali


Adnan menyamankan posisi tidur nya, mengeser tubuhnya agar istrinya tidak terlalu di pinggir tempat tidur nantinya, saat Adnan akan memejamkan matanya, suara pintu ruang ganti terbuka


Adnan jadi urung memejamkan matanya, netranya melihat kearah pintu ruang ganti


Mata Adnan terbelalak saat melihat Hilya yang hanya mengenakan lingerie saat keluar dari ruang ganti


Tenggorokan Adnan tercekat


Allah apalagi ini?? ujian terberat ini begitu menyesakkan.


Adnan gelisah melihat Hilya yang mendekati tempat tidur


Adnan menelan susah payah Saliva nya, nafas Adnan memburu karena ujian berat ini


Hilya tersenyum tanpa dosa, berbaring membelakangi suaminya


Sedangkan Adnan mencoba memejamkan matanya rapat, yang sayangnya bayangan tubuh istrinya yang hanya mengenakan lingerie itu gentayangan di otaknya.


Kira- kira apakah Adnan kuat tak menerkam istrinya??


ditunggu tebakan pembaca yaaa......