
" Mas Adnan!!" lirih Hilya melerai pelukan mereka
" IYa??"
" Kaki mas terluka??" tanya Hilya dengan lembut, tidak meledak-ledak seperti tadi
" Tertimpa sesuatu Dek, hanya memar .
" Tidak mendapatkan obat??"
" Tidak dek' cukup di kompres kata Dokter"
Hilya duduk menghadap kemudi
" Kita harus bergegas pulang, sebentar lagi magrib. ucap Hilya mulai menjalankan lagi mobilnya
Sekitar 25 menitan mereka telah sampai di rumah, bahkan Adnan dan Hilya telah melakukan sholat berjamaah
Hilya mendekati Adnan, melihat luka di kaki suaminya
Hilya memijit pelan
" Spa tidak sakit??"
Adnan mengeleng
" Kalau dipake jalan saja baru agak nyeri"
Hilya mengangguk
" Kita makan sisa Coto tadi siang tidak masalah kan mas??"
Adnan tersenyum akhirnya keduanya makan malam dengan menu Coto yang Adnan masak tadi siang menjelang sore
Hilya melarang Adnan membantunya berberes, Hilya melakukan nya sendiri, setelah selesai Hilya mendekati tubuh suaminya
"Ayo kita ke kamar, biar aku bantu!!" Hilya menarik tangan Adnan ke atas pundaknya
Adnan tak menolak, Adnan senang Hilya begitu perhatian
Bahkan Hilya tak segan-segan, memijit kakinya
Waktu terus berjalan, setelah sholat isya berjamaah Hilya kembali membantu Adnan ketempat tidur
Adnan duduk di atas tempat tidur menarik Hilya yang hendak beranjak
Tangan Adnan terulur membuka mukena sang istri, Hilya tak mengelak membiarkan Adnan melihat rambutnya
Adnan meletakkan mukena Hilya di nakas, menarik sang istri agar duduk di sisinya
Adnan membawa tangan kanannya membelai mesra pipi istrinya
Bibirnya melengkung keatas.
" Cantik!!"
" Hmmm??" gunam Hilya
" Adek sangat cantik" ucap Adnan serius
" Mas akan menunggu sampai hati Adek mau menerima kembali nama mas!!" lirih Adnan, mata Adnan terlihat redup
Hilya meraih jemari Adnan yang mengelus pipinya
" Sampai saat itu, mas tidak akan meminta hak mas!!" tambah Adnan
Hilya menggigit bibirnya sendiri
" Jangan digigit!!" bisik Adnan
"Why??" tanya Hilya
" Mas tergoda!!" desah Adnan suara Adnan kian dalam
Hilya tersenyum
" Jalau begitu kita tidur!!"
Adnan menganguk, Hilya dapat melihat tatapan mendamba Adnan untuk nya, tapi tidak ada salahnya bukan Hilya mengoda suaminya
Hilya meninggalkan Adnan yang melihat nya Bingung
Hilya berjalan memasuki kamar ganti kecil yang berada di dalam kamarnya, Hilya membuka sebuah lemari pakaian lamanya, pakaian yang dulu ia pernah kenakan saat masih bersuami, Hilya membuka pintu lemari itu, bibirnya tersenyum
Hilya meraih sebuah pakaian yang telah tersimpan lama, pakaian itu masih sangat terawat, Hilya meraihnya satu dan mencoba untuk mengenakan nya
Hilya berdiri dihadapan cermin, pakaian itu masih begitu pas di tubuhnya
Hilya menghela nafasnya beberapa kali
ini tidak salah, mas Adnan suamiku, sudah selayaknya kami saling memberikan
Adnan yang ditinggalkan Hilya begitu saja menatap nanar pintu ruang ganti itu
aku akan menunggu seberapapun lamanya , aku akan berusaha keras untuk membuat hati istriku menerimaku kembali
Adnan menyamankan posisi tidur nya, mengeser tubuhnya agar istrinya tidak terlalu di pinggir tempat tidur nantinya, saat Adnan akan memejamkan matanya, suara pintu ruang ganti terbuka
Adnan jadi urung memejamkan matanya, netranya melihat kearah pintu ruang ganti
Mata Adnan terbelalak saat melihat Hilya yang hanya mengenakan lingerie saat keluar dari ruang ganti
Tenggorokan Adnan tercekat
Allah apalagi ini?? ujian terberat ini begitu menyesakkan.
Adnan gelisah melihat Hilya yang mendekati tempat tidur
Adnan menelan susah payah Saliva nya, nafas Adnan memburu karena ujian berat ini
Hilya tersenyum tanpa dosa, berbaring membelakangi suaminya
Sedangkan Adnan mencoba memejamkan matanya rapat, yang sayangnya bayangan tubuh istrinya yang hanya mengenakan lingerie itu gentayangan di otaknya.
Kira- kira apakah Adnan kuat tak menerkam istrinya??
ditunggu tebakan pembaca yaaa......