
Adnan berjalan gontai memasuki rumahnya, kini rumah tersebut tampak begitu lenggang dan kosong.
Status duda kini telah disandangnya, sebenarnya Adnan memang bisa dibilang orang menengah keatas, tampan, Sholeh dan memiliki usaha rumah makan yang berpenghasilan tinggi.
Namun seperti kata bijak diatas langit masih ada langit, begitu juga dari segi kekayaan meski Adnan kaya namun Anton dan Hilya jauh lebih kaya.
Adnan memasuki kamarnya bersama Hilya, barang milik Hilya masih tersimpan rapi didalam kamar itu, tetes air mata Adnan kembali terjatuh.
Kenapa ditinggal istri yang masih hidup begitu menyesakkan, sedangkan ditinggalkan oleh Rena untuk selamanya justru Adnan tidak meratapinya.
Adnan tertawa pedih, bodoh. bodoh. bodoh dia menyadari betapa bodoh nya dirinya ..
dua kali Hilya memberinya kesempatan untuk memilih antara dia dan Rena
Kenapa dulu perasaannya seolah bercabang, dan sama beratnya, lantas kini setelah mereka semua pergi meninggalkan nya barulah perasaan cintanya dan sayangnya tertimbang jelas dihatinya utuh dan menyeluruh untuk Hilya.
Adnan menarik nafasnya dalam, Hilya sudah bahagia, Adnan harus merelakan perasaannya..
hal yang benar adalah mulai mengiklaskan..
Tangannya mulai memasukkan barang-barang mantan istrinya ke dalam box , Adnan akan mengembalikan barang Hilya , dan membiarkan kamar ini kembali kosong seperti kekosongan dalam hati nya.
.
.
.
Dikediaman Anton dan Hilya
Hilya sedang membereskan tempat tidur.
" Yaaaang!!! terdengar suara mengema diruang kerja.
Hilya terseyum, suami manjanya sudah seperti Tarzan dalam hutan yang selalu teriak-teriak.
" Yaaaaaaaaang!!" Hilya menyelesaikan Menganti sarung bantal dan bergegas menuju ruang kerja suaminya.
" Yang kenapa lama, kamu udah mulai bosan ya ngurusin suami mu ini??"
" CK' kok ngomongnya gitu??.
pernah dengar lagu ini gak mas,!!"
" makanya kamu jangan, sembarangan berkata...
karena setiap kata adalah doa....
inilah akibat nya..
kau selalu menuduhku...
inilah akibat nya...
kamu memojokanku...
akhirnya aku begitu....
" Yaaang!!" kok jadi nyanyi sich??" lagian siapa yang tidak tau lagu yang lagi hitz di jamannya dulu.. aku juga dulu suka banget dengan lagu-lagu dari band wali.
Itu liriknya ada yang salah...yang akhirnya itu yang benar.
akhirnya aku selingkuh!!" sedetik kemudian Anton melotot dengan ucapannya sendiri, matanya langsung menatap wajah istrinya yang sedang menaikan satu alisnya.
" Jangan sampai apa??".
" Selingkuh!!".
" Tergantung!!"
" Kok gitu??".
" CK' lagian mas Anton sendiri yang mulai, mas butuh sesuatu??".
" Iyaa..
" Apa??".
" Kamu.....
" Maaass!!! aku sudah buru-buru ke sini lhoooo...."
Anton tersenyum tak berdosa.
" Sayang .. Dini kayaknya akan tinggal bersama kita untuk sementara, sambil berfikir mau kuliah jurusan apa, dia mau temenin Kaka ipar cantiknya kata nya..
" Mas serius??".
" IYa, boleh??".
" Kok pakai izin sich mas! Dini juga adik aku..
aku seneng banget malah setidaknya ada yang nemenin aku saat mas tidak di rumah."
" Sayang, kamu tau gak kenapa dari dulu aku selalu sayang sama kamu meski kamu tidak menganggap kehadiranku itu berarti??
kamu mengingatkanku pada sosok adik ku..."
Anton menerawang kejadian awal mula bertemu dengan Hilya yang lagi KOAS bersama.
"Kamu adalah dini versi dewasa...
senyuman, tingkah konyol dan jail nya begitu mirip dengan mu.."
"Aku selalu berusaha menjadi sosok kakak sekaligus Abah untuk adikku, harapan ku senyum diwajah adik ku tak pernah luntur..
saat Abah meninggalkan kami Dini berusia 12th..saat itu mungkin dia belum begitu mengerti arti poligami yang sesungguhnya."
"Dini dengan wajah polosnya menceritakan kepada teman-teman bahwa dia memiliki dua ibu, dan dia begitu bahagia.
Dan dibalik kebahagiaan seorang anak kecil ada kehancuran hati seorang istri dan seorang ibu."
Senyum miris terlihat di wajah Anton. ingatan masa lalunya seolah menggores luka lama.
Hilya memeluk tubuh suaminya..
" Sudah mas!!" yang lalu biarlah berlalu..
kini ada aku dan akan ada Dini dan ini.." tunjuk Hilya pada perutnya.. "mas bisa memiliki Dini versi muda dan versi tua lhooo..." Canda Hilya mencairkan suasana..
Anton terseyum lembut, tanganya mengelus sayang perut Hilya.
" Kenapa umi tidak ikut tinggal bersama kita saja mas??"