
Setelah ketegangan yang memenuhi ruang makan malam itu Hilya benar-benar melakukan perjalanan liburan ke Swiss sesuai usulan Papanya.
Adnan tak bisa mencegah kepergian sang istri, rasa bersalah nya begitu besar, terlebih saat akan berangkat istri nya itu izin untuk menghilangkan setres. lantas apa yang bisa Adnan perbuat, lantaran setres nya sang istri disebabkan oleh dirinya.
Genap satu Minggu Hilya meninggalkan nya, genap satu Minggu pula Adnan telah menikah dengan sang sepupu yang bernama Rena itu.
Kehidupan Adnan berubah menjadi buram, meski ada perempuan lain yang mengantikan peran istrinya namun Adnan merasa sebagian hatinya kosong.
Hampir setiap hari kakeknya berkunjung kerumahnya, dan hampir tyap hari pula sang kakek mencemooh istri pertamanya yang dianggap tidak bertanggung jawab terhadap keluarga, meninggalkan suaminya dan bersenang-senang di luar sana.
Adnan seolah telah kebal dengan semua tingkah sang kakek, saat ini Adnan hanya berharap sang istri segera kembali, Adnan masih rutin mengirimkan pasan kepada Hilya sebagai tanda sayangnya untuk sang istri.
Bahkan saat akan menggauli istri keduanya Adnan, meminta izin kepada Hilya melalui pesan singkat.tidak taukah Adnan hancurnya perasaan Hilya saat sang suami meminta izin untuk meniduri wanita lain??.
Malam telah datang, suara ketukan pintu mengalihkan tiga orang yang tengah asik menonton siaran televisi yang menayangkan berita longsor itu.
Rena bergegas membuka pintu, wajah wanita itu mengetat saat tau siapa tamu yang datang ke rumah nya.
"Assalamualaikum" sapa wanita yang terlihat cantik dengan stelan baju muslimah yang membungkus tubuh putihnya.
"Waalaikumsalam" jawab Rena dengan nada dipaksakan.
"Siapa tamunya..?"suara sang kakek dari arah dalam.
"Ada kakek..??"
Rena hanya mampu mengangguk.
Hilya masuk dengan menyeret koper kecil .
Rena memerhatikan dari arah belakang Hilya yang telah kembali, ada rasa kecewa saat Rena melihat istri pertama suaminya itu datang, Rena takut kedatangan Hilya akan membuat Adnan menjauhinya.
"Assalamualaikum" salam Hilya saat memasuki ruang televisi.
" Sayang???" wajah pria itu berubah lebih ceria dibanding seminggu ini.
Hilya terseyum. tangan Hilya menyalami sang kakek dengan sopan dan berpindah pada Adnan.
Hilya terseyum lembut "apa kabar kek??" apa kakek sehat,??".
Mendengar sapaan cucu menantunya yang begitu santun membuat kakek Adnan tidak enak terus menerus berucap kasar pada cucu menantu nya ini.
Biar bagaimanapun juga cucu menantunya ini sudah merelakan sang cucu menikahi wanita pilihan nya.
"Kakek baik!!. kenapa baru pulang, tidak baik wanita bersuami pergi dari rumah terlalu lama tanpa suaminya."
Meski kakek Adnan menjawab datar , tapi mendengar kalimat nasehat itu membuat Hilya cukup bahagia. setidaknya sang kakek masih mau menasehati dirinya.
"Maaf kek,.. sebenarnya saya hendak pulang 2 hari yang lalu!! namun karena rangkaian tes kesehatan saya tidak lolos saya terpaksa harus menunda penerbangan." ucap Hilya sopan.
Adnan terkejut "kamu sakit Hil..?" ucap Adnan terlihat panik dan menghampirinya.
Hilya melirik sang kakek sebelum menjawab.
"Tidak mas!! hanya saja 5 hari disana cuaca sedang hujan salju, dan 2 hari berturut-turut ada badai membuat daya tubuh saya menurun." ucap Hilya dengan senyum menenangkan.
Hilya melihat sang kakek menghela nafasnya lega. 'tunggu!!" apa kakek Adnan khawatir pada nya??".
"Istirahatlah" ucap sang kakek yang membuat Hilya cukup terkejut.
"Saya akan suruh Rena mengantar teh sere kekamar mu" ucapan lanjutan dari bibir sang kakek membuat Hilya tertegun.
apa pria tua ini mulai menerima nya??"