Marry Me Ustadz

Marry Me Ustadz
218.Setuju



" Cukup kamu sah menjadi milikku aku sudah sangat bersyukur, izinkan aku menebus kesalahan ku dimasa lalu Hil!!" potong Adnan cepat


Hilya tertegun mendengar penuturan Adnan, nyatanya Hilya memang sudah tak lagi mencintai mantan suaminya itu, tapi apa salahnya mencoba memupuk kembali cinta yang telah lama terkubur, mengingat perkataan orang Jawa


" witing tresno jalaran Soko kulino "


" Seragu itu kah kamu padaku Hil??, aku memang pernah menjadi pecundang, tapi tidak bisakah kamu memberiku sebuah kesempatan??... sekali iniiiii ajah Hil!!". iba Adnan


Hilya hanya mampu menelan ludahnya gugup


mana Hilary yang dulu sich?? saat kayak gini aku malah jadi mlempem begini!!" keluh Hilya, saat dirinya merasa cepat luluh atas bujukan Adnan


" Hil??"


" IYa, baiklah!!"


" Baiklah apa Hil??" tanya Adnan dengan senyum yang sengaja dicoba untuk tak di tampak kan


Hilya hanya memutar bola matanya, dan hendak berlalu, tapi ucapan Adnan mbuatnya berhenti melangkah


" Hilya.....!! panggil Adnan. " terimakasih!! aku mencintaimu". ucap Adnan dengan suara merdu nya


Hilya tertegun sejenak, Hilya seolah tak mengenal sosok yang sedang memandang nya saat ini, benarkah dia Adnan mantan suaminya?? dengan sikap Adnan yang seperti ini, Hilya merasa Adnan seperti Anton, dua sahabat yang dulunya jauh berbeda dari segi sifat dan tingkah laku, kini malah seperti satu jiwa yang sama.


Hilya tak menghiraukan perkataan Adnan, Hilya berlalu menuju dapur, Hilya ingin membuatkan minuman untuk Adnan, biar bagaimanapun dari tadi mereka sudah banyak mengobrol.


Kalaupun difikir bukankah dulu perpisahan Adnan dan Hilya memang bukan keinginan mereka, mereka berpisah karena terpaksa, Hilya yang memilih mengalah, itu nyatanya


Hilya kembali dengan sebuah nampan yang berisi 2 jus jeruk


" Minum dulu mas!!" Hilya menyuguhkan


Adnan yang sedang sibuk dengan telfon genggam miliknya, tampak tersenyum manis pada Hilya, dan mengucapkan terima kasih


Hilya sempat merasakan lagi getaran yang pernah dirinya rasakan, saat pertama kali bertemu Adnan di bandara dan terpesona dengan senyum manis seorang Adnan, meski getarannya tak se dahsyat dulu, tapi getaran itu tetap masih ada


Adnan melihat Hilya yang memandangnya cukup lama, terseyum lagi


" Hilya kamu sedang apa??, awas nanti jatuh cinta lagi sama aku lhoo....!! tapi bagus DECH aku jadi lebih bahagia!!" binar dan goda Adnan pada Hilya


Hilya menyergit dan tersadar


"Mas Adnan jadi bawel ya sekarang??" tanya Hilya sedikit ketus


" Aku akan melakukan apapun asal membuat mu nyaman Hil!! kamu mau aku yang pendiam seperti dulu, aku akan melakukannya, kamu ingin aku yang supel dan periang kayak Anton aku pun akan dengan senang hati melakukan nya, satu tujuan ku Hil, kenyamanan dan kebahagiaan mu


Hilya berdecak


" Udah gombalnya??"


" Belum, aku akan terus membuatmu bersemu kayak sekarang ini, Hilya kamu cantik saat sedang blusing!!" ucap Adnan tersenyum jahil


Hilya tersentak, benar kah dirinya blusing??, Hilya tampak salah tingkah. astagaa ini bukan aku , kenapa aku jadi salting beginiii??, mana aku yang selalu cuek??


Tanpa sadar Hilya menepuk kedua pipinya, membuat Adnan kembali tergelak


" Hilya aku hanya bercanda!! kamu tidak perlu menepuk-nepuk pipimu, nanti jadi memerah betulan!! ucap Adnan sambil meredakan tawanya


Mendengar Adnan mengerjainya Hilya melotot garang.


" Gak lucu!!" ucap Hilya kesal


Adnan terseyum lembut.


" Tapi di mata ku, kamu sangat lucu dan menggemaskan!!"


" Mas!!" sentak Hilya


" IYaa, Hil!!" balas Adnan lembut


" Mas' serius dong!!'


" Kan aku udah serius!! kamu nya yang masih ragu!!"


" Kita bahas apa sich mas??... aku kok jadi emosi yaa??"


" Jangan, nanti tensinya tinggi Lo!!"


"Oke, oke, oke... aku setuju kita nikah siri mas!!, tapi tolong mas jangan genit beginii.... aku ngerasa gak kenal lagi sama mas!!" seru Hilya


" Yes!!" tanpa sadar Adnan berdiri dari duduknya dan meninjukan tangan kanannya ke atas


Hilya hanya mengelengkan kepalanya melihat tingkah konyol Adnan


"apa yang terjadi 10th ini mas??, kenapa kamu jadi berubah se drastis ini, kamu jadi rame dan suka tersenyum, kemana mas Adnan yang pendiam??" batin Hilya