Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Hadiah berarti



setelah acara pengangkatan dylan sebagai kepala kepolisian di Jakpus, aira  mengadakan pesta kecil-kecilan yang dihadiri keluarga dekat serta sahabat-sahabat dylan


“selamat ya dylan “ ucap ayah subrata memeluk dylan


“terima kasih yah” balas dylan


“selamat ya nak” ucap ibu mardiana memeluk dylan


“terima kasih bu” balas dylan


“gak nyangka selarang kamu di angkat jadi komandan?” ucap kak fahri takjub dengan prestasi dylan diusia akan menginjak kepala 4


“iya, gak nyangka juga aku kak” balas dylan tersenyum


“selamat ya, cita-citamu kecapaian akhirnya” ucap rino menepuk bahu dylan


“iya” kekeh dylan


Dokter ken dan riska datang bersama anak mereka yang


bernama Rafa Dean Arsello


riska melirik ke arah putranya “ Rafa main sama eila dan askar ya” pinta riska


“iya mah, rafa kesana dulu ya” rafa langsung menghampiri askar dan eila yang sedang berdebat


Viko menggaruk tengkuknya yang tak gatal, bingung bagaimana


menghentikan perdebatan kedua adiknya yang sedari tadi tak ada yang mau mengalah “kenapa kamu gak mau nyanyi?” Tanya askar dengan raut wajah kesal


“kenapa aku harus nyanyi?” Tanya balik eila


“kan kamu bisa nyanyi” balas askar


“tapi itu kan tak menjadi sebuah keharusan aku harus bernyanyi” sahut eila


“ini tuh hari besar papi kita, jadi harusnya kamu kasih kado special dong” balas askar


“ya sudah, kakak saja yang nyanyi” balas eila datar


Askar berkacak pinggang “ kan kamu tahu sendiri aku gak bisa nyanyi” kesal askar


viko mengusap bahu kedua adiknya “sudah dek,  jangan berantem lagi ya” pinta viko


“nggak!” teriak askar kesal “ dia ngeyel kak” tunjuk


askar ke arah eila


Eila berdecih “gak bisa nyanyi kok maksa orang


nyanyi” cibir eila


“tapi kamu kan bisa nyanyi eila” seru askar


menghentak-hentakkan kakinya kesal


Rafa yang baru datang tertawa dengan tingkah kedua


sahabatnya, dan kasihan melihat kak viko yang kebingungan menghadapai adik


kembarnya itu “sudah jangan berantem lagi, kasihan kak viko loh, kebingungan


Cuma gara-gara kalian berantem gak jelas” ucap rafa menginstruksi


“gak jelas gimana coba fa, aku kan nyuruh dia nyanyi


malah dia nyuruh aku saja yang nyanyi” kesal askar melipat tangannya sebatas


dada “emang dia mau semua orang sakit telinga denger aku nnyanyi” ucap askar


kesal


Rafa terkekeh mendengar ucapan  askar “kau ingin memperlihatkan tampilan


untuk papimu?” Tanya rafa


“iya” balas askar menganggukan kepalanya semangat


“gini saja” rafa memberikan usul


“eila memang bisa menyanyi tapi dia tak suka tampil


seorang diri bukan?” Tanya rafa menatap eila yang di jawab anggukan


“karena ini acara orang tua kalian bertiga jadi


harusnya kalian bekerjasama agar membuat orang tua kalian bahagia” ucap rafa


“caranya?” Tanya viko, askar dan eila serempak


“eila nyanyi, askar menari dan kak viko yang


memainkan alat music. Itu kan adalah hal yang kalian kuasai” ucap rafa


memberikan usul


“kenapa gak kepikiran dari tadi ya” ucap viko


semangat


Ketiga bersaudara itu berdiri di aula halaman


kediaman rumah mahardika yang cukup lapang, dan terlalu banyak orang


“cek cek cek” viko mengetes sound yang keluar dari


mic yang ia pegang


“maaf mengganggu atensi obrolan smuanya” ucap viko


menatap manik mata kesemua orang yang hadir di acara syukuran pengangkatan


dylan


Dylan menatap ketiga anaknya dengan heran “mereka


sedang apa?” gumam dylan yang tertangkap indera pendengaran aira yang memang


ada di samping dylan sehingga bisa mendengar jelas suara dylan yang bergumam


“kita perhatikan saja bang” ucap aira tersenyum


melihat ketiga anaknya


papi kami yang sangat kami sayangi” ucap viko membuat dylan tersenyum bahagia


mendengar ucapan anak tertuanya


“mungkin hadiah kami tak seberapa dan terkesan


dadakan, tapi ini hadiah yang kami berikan sebagai bukti bagaimana didikan


orang tua kami yang selalu memberikan kami kebebasan memilih tapi tetap


memberikan semangat untuk kita menjadi lebih baik ucap viko


Viko mulai memainkan piano yang ada di halaman, dan


tentu saja diiringi olah pemain music yang memang di sewa untuk mengisi acara


syukuran kenaikan jabatan dylan


Viko memain music, sedangkan askar menari mengikuti


alunan music sedangkan eila yang menyanyi


Suasana begitu haru melihat pertunjukkan yang


diberikan ketiga anak airan dylan, mata dylan berkabut begitu haru, melihat


penampilan ketiga anaknya


“prok prok prok” riuh suara tepuk tangan mengakhiri


pertunjukkan ketiga saudara itu


Dylan langsung berjalan cepat menghambur memeluk


ketiga anaknya dengan luapan tangisan haru bahagia “terima kasih semua anak


papi, ini adalah hadiah terindah untuk papi” ucap dylan dari dasar lubuk


hatinya


Eila, askar dan viko membalas pelukan dylan “ kami


senang kalau hadiah kami membuat papi senang” balas viko


Dylan melonggarkan pelukannya memandang manik mata


anak-anaknya secara bergantian “ gak nyangka papi, kalian begitu pandai” ucap


dylan bangga


“bukannya papi sudah sering lihat kita, dengan bakat


kita setiap hari” sahut askar mencebikkan bibirnya seolah tak terima bahwa


papinya seakan baru sadar kalau mereka menguasai bidang-bidang seni itu


“ya papi lihat itu sayang, tapi papi gak nyangka


saat kalian bergabung, sungguh memunculkan harmoni yang sangat indah” balas


dylan


“itu juga karena mami yang selalu, dukung dan


bombing kita dengan baik pi” sahut viko


Dylan menoleh kea rah aira dan menengadahkan


tangannya seolah memanggil aira untuk menghampirinya. Aira pun menghampiri


dylan dan meraih tangan suaminya dengan senyum mengembang “istriku memang yang


terbaik, menjaga dan mengurus kalian dengan baik” ucap dylan mengecup kening


aira dengan lembut dan penuh perasaan


“terima kasih atas pujiannya” balas aira


Semua orang di sana begitu takjub dan bahagia


melihat kebahagiaan keluarga dylan yang begitu harmonis dan saling menyayangi


“eila” panggil seorang pria


Eila menoleh kea rah sumber suara “uncle” teriak


eila girang menghampiri suara yang memanggil namanya


Dylan menatap tajam kea rah pria yang memanggil nama


putrinya, raut wajahnya langsung berubah dingin dan tajam kea rah pria yang


sedang dipeluk putri kecilnya “ dasar pria bangkotan itu” gumam dylan berniat


menghampiri eila tapi di tahan aira “ jangan gunakan emosi abang. Ingat gimana


sayangnya eila sama dia “ ucap aira mengingatkan karena pernah satu kali eila


di larang dekat dengan pria tersebut malah dylan yang di diamkan selama 1


minggu dan itu membuat dylan tak enak makan maupun tidur karena didiamkan sang


putri


Dylan menghela nafas panjang” iya ra” dylan berjalan


menghampiri eila


“ngapai kamu kesini? Perasaan gak ngundang kamu deh”


ucap dylan dingin


Yama mendongak kea rah dylan dan tersenyum ramah “


kamu emang gak ngundang aku, tapi calon istriku yang ngundang” balas yama datar


Dylan langsung mengeratkan rahangnya menatap tajam


kearah yama yang ada di hadapannya