
***
“kalian yakin gak pergi bulan madu?” Tanya mami aira
“gak lah mih, syakia nya payah kalau naik pesawat pasti pingsan bahkan bisa gemetaran, kalau mau mengendarai mobil jauh bikin capek, mending bulan madu di rumah saja atau kalau pengen beda check in di hotel saja” balas askar
“kamu Tanya syakia gak? Jangan bikin keputusan sendiri” ucap papi dylan memperingatkan anaknya
Askar yang sedang memakan buah menghentikan kegiatannya dan menoleh ke arah syakia “kamu mau bulan madu gak?” Tanya askar
“mau” balas syakia mengangguk dengan senyum terpancar dari wajahnya
askar mengernyitkan keningnya “kemana? Katanya gak bisa naik pesawat” sahut askar bingung syakia ingin bulan kemana? katanya tak bisa naik pesawat
“ke puncak, ke vila yang kemarin, di sana juga bagus” balas syakia dengan muka berbinar
Askar tersenyum ke arah syakia, jika berkendara segitu saja mah kecil untuk askar “ ya sudah kesana yuk”ajak askar menggandeng lengan syakia
“hei, main asal kabur saja, pamit dulu sama mertua kamu” ucap mami aira memperingatkan anaknya agar bertingkah sopan pada mertuanya
Askar terkekeh “maaf semua, maklum penganten baru jadi bawaannya pengen cepat masuk kamar" kekeh Askar
Askar menoleh ke arah mertuanya “pih, mih izin ajak syakia liburan ya” ucap askar menyalami takzim tangan kedua orang tua syakia
“kamu sudah gak perlu minta izin papi dan mami lagi, syakia kan sekarang istri kamu dan sudah jadi tanggung jawab kamu” balas papi frans
“tetap saja kalian kan yang membuat syakia hadir di dunia ini dan orang yang merawatnya sejak kecil jadi tetap harus minta izin” balas askar
“ya sudah, kalian hati-hati ya” ucap papi frans menepuk bahu askar
Mami Gisela langsung memeluk syakia “wah mami sendirian dong” tangis mami Gisela langsung pecah saat memeluk syakia
“gak lah mih, kata askar kita akan sering nginep di rumah, biar mami dan papi gak kesepian” ucap syakia membalas pelukan mami gisela
Mami Gisela menatap askar penuh harap “beneran?” Tanya mami Gisela
“iya mih” balas askar mengangguk mengiyakan
***
Viko berjalan dengan santai memasuki gedung perkantoran mahardika group dengan di ikuti arka sang asisten
“apa saya ada rapat hari ini?” Tanya viko
: ada tuan, jam 2 nanti tuan ada rapat dengan klien dari Inggris” balas arka
“baiklah kalau gitu” viko kembali melangkah menuju lift
“tunggu!” teriak seseorang meminta atensi viko
Viko menoleh kebelakang, matanya memicing melihat siapa yang ada dihadapannya
Wanita yang memanggil viko terus melangkah mendekati viko walaupun sudah di cegah oleh satpam
“aku perlu bicara denganmu” ucap wanita paruh baya tersebut menatap sengit viko
Viko mengangkat tangannya ke arah para satpam agar membiarkan wanita itu bicara
“ada apa?” Tanya viko ketus
Viko terkekeh “sepertinya aku terlalu banyak kerjaan yang jauh lebih penting ketimbang sibuk untuk mengurusi perusahaanmu yang sedang di ambang kebangkrutan” balas viko dengan nada meremehkan
nenek gayatri mengibaskan sebelah tangannya “alah, kamu pasti kan? yang jadi biang keladi semua orang tak mau kerja sama dengan perusahan ku?” Tanya nenek gayatri dengan raut wajah kesal
viko melipat tangannya sebatas pinggang “aku sempat berpikir seperti itu, tapi istriku melarang aku untuk berbuat jahat” viko menaruh tangannya di dalam saku “dia bilang jangan seperti wanita tua yang tak tahu adab. yang harusnya ingat umur karena sudah bau tanah” tambah viko
“kau mengolok ku?” kesal nenek gayatri
“aku tak bilang itu anda, tapi kalau anda merasa begitu? terserah saja” kekeh viko
“jangan pernah mengusik perusahaan ku” ucap nenek gayatri dengan nada sombong
“mau aku beri tahu alasan mereka malas bekerja sama dengan perusahaan anda?” tanya viko membuat dahi nenek gayatri yang memang sudah keriput makin berkerut karena bingung
“mereka terlalu malas jika berurusan dengan mulut anda yang tak tahu kontrol itu” viko memberikan tatapan mencibir pada nenek gayatri
“mereka masih mau bekerja sama dengan perusahaan anda dulu hanya karena kerja keras putri anda, tapi sepertinya putri anda sudah lelah dan terlalu malas mengurusi keserakahan nenek tua macam anda” balas viko
“berani sekali kau menghardikku” kesal nenek gayatri
“dengar ya nenek tua, jangan sok-sokan menceramahi ku hanya mentang-mentang kau memiliki darah yang sama dengan istriku" viko menatap nenek gayatri dengan cibiran "Orang tuaku saja tak pernah asal memerintah ku apalagi kau yang hanya nenek tua tak tahu diri dan gak punya hubungan apapun denganku” ucap viko bergegas meninggalkan nenek gayatri begitu saja dan memilih masuk lift menuju ruangannya
“jangan sombong kau anak muda, kau gak tahu siapa aku hah” kesal nenek gayatri mengumpat viko yang sudah hilang dari pandangannya
“silahkan nyonya keluar jangan buat keributan, atau saya panggil polisi untuk bawa anda” ucap pak satpam mempersilahkan nyonya gayatri keluar perusahaan
nenek gayatri menatap kesal satpam yang bekerja di perusahaan mahardika group “kau berani” ancam nenek gayatri
“mamah!” teriak nyonya ralins ke arah nenek gayatri
nenek gayatri menoleh ke arah nyonya ralins “ngapain kamu kesini?” kesal nenek gayatri
“jangan bikin malu mah” kesal nyonya ralin, sedikit meninggikan suaranya karena malu dengan kelakuan ibunya
“kamu berani bentak mamah” kesal nenek gayatri yang di bentak oleh nyonya ralins
“harusnya dari dulu ralins berani sama mama, kalau ralins berani sama mama sejak dulu, mana mungkin ralins akan berpisah dari anak dan suami ralin dan juga hidup menyendiri bertahun-tahun” balas nyonya ralins menyesali pernikahannya yang gagal karena ulang orang tuanya
“itu salah kamu sendiri yang gak mau mama jodohkan dengan lelaki pilihan mama jadi makanya kamu hidup menyendiri sampai sekarang” balas nenek gayatri kesal
nyonya ralins menatap tak percaya ke arah nenek gayatri “cukup ya mah, aku sudah gak tahan lagi dengan
kelakuan mama" nyonya ralins menghela nafas panjang
"sekarang aku sudah gak peduli lagi sama mama” nyonya ralins memberikan dompet serta kunci mobil miliknya pada nyonya gayatri “aku sudah lelah, aku kembalikan semua harta mama" nyonya ralins mengangkat tangannya sebatas dada
"aku keluar dari keluarga menyesakan ini" ucap nyonya ralins berjalan menjauh meninggalkan nenek gayatri dengan berjalan kaki dan hanya membawa pakaian yang melekat di badannya
“tunggu ralins, mau kemana kamu! siapa yang akan urus perusahaan jika kau pergi ” teriak nenek gayatri berusaha menyusul nyonya ralins
“mamah saja yang urus perusahaan itu, kan mama bilang itu perusahaan mama” balas nyonya ralins tetap pergi
meninggalkan nenek gayatri
nenek gayatri menatap sengit punggung nyonya ralins yang makin menjauh "dasar anak tidak tahu diri, bagaimana bisa kau meninggalkan mama yang sudah melahirkan kamu dan memberikan semua kemewahan padamu begitu saja" gerutu nenek gayatri melihat kepergian nyonya ralins