
Dylan tidur sambil memeluk aira erat " abang akan selalu menjagamu sayang" bisik dylan ke telinga aira lalu mengecup kening aira cukup lama
di tengah malam aira mulai mengigau tak jelas "ah, jangan...jangan...jangan mendekat jangan ganggu aku" gumam aira menggerakan tangannya tapi masih dalam keadaan tertidur
dylan terbangun mendengar suara aira lalu mengusap punggungnya perlahan " tenang sayang ada abang" ucap dylan membelai punggung aira dan memeluknya erat
setelah cukup lama mengusap punggung aira, aira pun bisa tidur kembali dalam pelukan dylan
dylan memandangi wajah aira sambil merapikan rambut aira " maafkan abang ya ra gak menjagamu dengan baik sampai kamu harus mengalami kejadian seperti ini" batin dylan dan tak terasa meneteskan air mata
***
pagi hari dylan membawakan sarapan untuk aira lalu meletakkan di meja dekat ranjang "aira sayang"panggil dylan mengusap pipi aira lembut
aira membuka mata perlahan "abang" balas aira mencoba duduk
"kita sarapan dulu ya" dylan membantu aira duduk lalu mengambil pring berisi makanan yang ia bawa untuk diberikan pada aira
tangan aira sedikit gemetar dan kesulitan saat menyendokan nasi ke mulutnya
melihat itu dylan merasa begitu sakit, separah itu ketakutan istrinya "sudah biar abang yang suapi " dylan mengambil pring dan sendok yang dipegang aira lalu menyuapinya
"abang gak kerja?" tanya aira saat melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 8 pagi
"kerja kok" balas dylan
"kok jam segini belum berangkat?" tanya aira lagi
"hari ini abang dapat tugas lapangan, dan ke lokasinya jam 10, kok jadi masih ada waktu untuk menyuapi istriku makan" dylan menyuapi aira dengan telaten
"viko dimana bang?" tanya aira yang tak mendapati keberadaan anaknya setelah ia bangun tidur
"viko sekolah sayang" balas dylan
"sekolah? apa gak papa bang?" tanya aira cemas
dylan tersenyum simpul menatap istri tercintanya "abang tahu apa yang kamu fikirkan, jangan khawatir ya ra abang sudah siapin bodyguard khusus untuk jaga anak kita" balas dylan tersenyum
"terima kasih ya bang" ucap aira
"cuma makasih doang nih?" tanya dylan dengan nada bercanda
"terus maunya abang apa?" tanya aira balik
dylan menunjuk pipinya "disini" ucap dylan
aira paham yang dimaksud dylan lalu bersiap mencium dylan tapi dengan cepat dylan berbalik sehingga bukan pipi yang dicium tapi benda kenyal mereka yang bertemu
pipi aira merona merah "abang " ucap aira sedikit malu
melihat tingkah aira dylan pun tersenyum "abang juga ada satu permintaan lagi" pinta dylan
"apa?" tanya aira bingung
"nanti malam kita datang konseling ke psikiater kenalan abang" pinta dylan
aira menggenggam jemarinya erat "aira sudah pernah konseling kok bang" balas aira
dylan paham apa yang ada dalam fikiran aira . ia menggenggam tangan aira erat " jangan takut sayang, anggap saja dia adalah teman cerita kamu, abang akan selalu mendampingi kamu. kamu harus bisa kuat dan harus bisa mengatasi ketakutan kamu" ucap dylan
air mata aira mulai berjatuhan "apa abang pikir kalau aira sakit?" tanya aira sedih
dylan menggeleng "tentu tidak sayang, abang hanya khawatir dengan kondisimu, ketakutanmu mengganggu kegiatan sehari-harimu, saat kau sedih abang jauh lebih merasa sedih dan saat kau terluka abang jauh lebih terluka" balas dylan
aira memeluk dylan "terima kasih sudah ada di hidup aira yang bang" ucap aira
"abang yang harus berterima kasih karena sudah ada di hidup abang" balas dylan memeluk aira
setelah selesai menyuapi aira, dylan pun berangkat kerja
"tok tok tok" bunyi pintu kamar aira yang di ketuk
"masuk" mendengar ada yang mengetuk pintu, aira mempersilahkannya masuk
"apa kau baik sayang?" tanya ibu mardiana saat memasuki kamar aira
ibu mardiana memeluk aira "jangan bilang seperti itu nak, kamu anak ibu jadi sudah sewajarnya ibu mengkhatirkan kamu" balas ibu mardiana
"apa dylan mengajakmu konseling?" tanya ibu mardiana perlahan agar tak melukai hati aira
"iya bu, katanya abang sudah buat janji nanti malam jam 7" balas aira
"kamu harus kuat sayang, dan jangan pernah takut" ucap ibu mardiana
"iya bu, aira akan berusaha" balas aira
waktu yang ditunggu pun datang, dylan mengantar aira bertemu psikiater "selamat malam dok" sapa aira tersenyum menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan pada psikiater di hadapannya
"jangan panggil dok, panggil saja arini sama seperti dylan memanggilku" balas arini menyambut tangan aira
"arini" ucap aira sedikit gugup
"nah seperti itu lebih baik, ayo silahkan duduk" dylan dan aira pun duduk di sofa kantor dokter arini
"saya sedikit tahu ceritamu tapi aku ingin mendengarnya secara langsung darimu. boleh ceritakan ke saya?" tanya dokter arini
aira sedikit gugup tangannya pun gemetar dan itu tak luput dari pandangan dylan "ada abang sayang" bisik dylan
aira pun mulai menceritakan kisahnya, bagaimana sikap razi dan reaksi tubuhnya saat bertemu mantan suaminya
dokter arini mendengarkan cerita aira dengan seksama "terima kasih sudah mau berbagi denganku" ucap arini menggenggam tangan aira dan aira membalas dengan senyuman
"apa boleh aku berbicara berdua dengan suamimu?" tanya dokter arini pada aira
"boleh saja" balas aira
aira berdiri dan menoleh ke arah dylan"bang aira tunggu luar ya" ucap aira pamit pada dylan untuk menunggu di luar
dylan melirik sekilas ke arah aira berjalan "gimana kondisi istriku rin?" tanya dylan saat melihat pintu di tutup
"kamu pernah bilang kan kalau ingatannya saat mantan suaminya menyiksanya hilang tapi sepertinya dia mulai mengingatnya, tapi kau lihat sendiri dia seperti membatasi diri " ucap dokter arini
"terus apa yang harus aku lakukan?" tanya dylan
"kamu harus membuatnya rileks dulu, dan mau membagi isi hatinya agar aku tahu apa yang harus dilakukan selanjutnya. karena akan sulit kalau dia menutup rapat apa yang ia fikirkan" balas arini
"baiklah aku akan berusaha membuatnya rileks, dan akan kembali lagi konsultasi denganmu" ucap dylan menyalami arini lalu pamit pergi
dylan keluar melihat aira duduk termenung di kursi depan ruangan dokter arini
"ayo pulang" ajak dylan membuyarkan lamunan aira
"ah" aira terkejut mendengar suara dylan "iya" aira menghampiri dylan lalu menggandengnya erat
"kita jalan-jalan dulu ya" ajak dylan
"kemana?" tanya aira
""nanti kau juga tahu" balas dylan
"tapi nanti viko marah kalau kita gak ngajak dia" ucap aira
"tenang saja, abang sudah izin sama viko dan dia gak masalah, jugaan kan kakak dan keponakanmu masih di rumah jadi dia gak akan kesepian" balas dylan
"gak papa kalo kita pergi bang?" tanya aira
"gak masalah" balas dylan menggandeng tangannya menuju mobil
30 menit perjalanan aira dan dylan sampai di tempat tujuan, dylan membawa turun aira perlahan
aira mengernyitkan dahinya, heran kenapa dylan tiba-tiba mengajaknya kesini "kok abang ajak aira kesini?" tanya aira
"karena tempat ini banyak kenangan tentang kita dan disini kita bertemu lagi setelah sekian lama dan awal mula perjalanan perjuangan abang jadikan kamu istri abang" balas dylan tersenyum
aira melihat hamparan bunga yang tampak dari pantulan cahaya lampu, karena mereka datang saat sudah jam 9 malam
dylan membawa aira untuk duduk dan menikmati hamparan bunga dengan diam sesaat