Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Resepsi pernikahan



***


Acara resepsi pernikahan Riska dan dokter ken digelar di sebuah hotel ternama dan hanya dihadiri oleh  kerabat dan sahabat dekat saja. undangan pun tak lebih dari 100 orang


Zeta da naira masuk ke dalam ruang tunggu mempelai wanita “kak Riska” sapa zeta berjalan masuk dan memeluk riska


“selamat ya kak” ucap zeta


“terima kasih” balas riska menoleh ke arah aira dan zeta bergantian


“kakak cantik banget” ucap aira memeluk Riska


“Kalian juga cantik” balas riska


“ mama kakak kok gak kelihatan? Di depan Cuma lihat kak Jonas sama om john aja” Tanya aira yang tak mendapati keberadaan mama Riska


Riska menggeleng “entahlah, aku gak Tanya juga dia datang atau enggak” balas riska datar


Riska meraih tangan aira  dengan tatapan memohon “kamu bantu aku ya ra” pinta riska


Aira menautkan kedua alisnya tak paham dengan permintaan Riska "bantu apa?" tanya aira


“bantu aku jagain pria itu, Cuma kamu yang bisa bantu aku” pinta Riska yang tahu betul hanya aira yang dipedulikan prastyo


“kakak tenang saja, aira tadi minta bang dylan jaga di depan, kalau dia datang nanti aira akan menghampirinya. Aira akan jagain kak tyo biar gak ganggu acara nikahan kakak” balas aira mengusap punggung tangan Riska


“makasih ya ra” balas Riska


***


Acara resepsi pernikahan dokter ken dan Riska mulai di gelar, Nampak prastyo yang baru datang ke acara tersebut seorang diri


prastyo berjalan menuju aula dengan tatapan tak lepas dari riska dan dokter ken yang sedang mengikuti prosesi resepsi pernikahan mereka “kakak” sapa aira menggandeng lengan prastyo


prasto menoleh ke arah sumber suara “eh, adik kakak” prastyo mengusap kepala aira lembut


“duduk yuk kak” aira mengajak prastyo duduk satu meja bersama suami berserta keluarganya


“wah nak tyo apa kabar”sapa ayah subrata menyalami tangan prastyo sopan


“baik om, maaf belum sempet berkunjung setelah kepulanganku” ucap prastyo sopan


“gak masalah, toh kita bisa ketemu disini” balas ayah subrata sopan


“kok kamu gak duduk sama orangtuamu, malah disini?” Tanya Rino ketus


“kakak!” bentak aira yang tak suka dengan nada bicara rino


Prastyo menatap tak suka kearah Rino “kalau aku maunya disini kenapa? Toh aku duduk sama adikku” balas prastyo pongah


hubungan Rino dan prastyo memang kurang baik semenjak dulu, bukan karena Rino yang pernah berpacaran dengan Riska tapi jauh sebelum Riska dan prastyo saling mengenal. perdebatan mereka dimulai saat Prastyo yang sering datang dan mengambil alih kasih sayang aira dan perhatian ibunya kala itu


“eh dia adikku ya, bukan adikmu” kesal rino tak suka saat prastyo menyebut aira itu adiknya


prastyo memutar bola matanya malas “kenapa kamu yang kesal? Suaminya saja gak ngelarang aku dekat dengan adikku? Kenapa kamu jadi kesal?” Tanya prastyo dengan kesal


“sudah-sudah jangan berdebat lagi, kalian sudah cukup lama tak bertemu tapi masih saja seperti dulu selalu


berebutan dan berantem hanya karena hal sepele” ucap ibu mardiana mencoba menengahi perdebatan keduanya


“ya dia duluan tan yang bikin kesel. Dari dulu gak ngebolehin aku manggil aira dengan sebutan adik” ucap rino


mengadu kearah ibu mardiana


Dylan menggelengkan kepalanya melihat dua pria di hadapannya "sudah jangan berdebat lagi, kalian tetap


kakak aira. Kalau suaminya lah hanya aku seorang” balas dylan terkekeh menunjuk dirinya


Riska dan dokter ken menjalani proses acara resepsi pernikahan mereka dengan khidmat


pasangan yang ada di atas panggung, dan hal itu tak luput dari pandangan aira


Aira menoleh kearah suaminya “bang boleh tidak?” Tanya aira dengan bahasa bibir melirik kearah prastyo yang


ada di sampingnya


Dylan mengangguk “hmmm”


Mendapat izin dasri suaminya, aira menggenggam tangan prastyo “kakak ikhlaskan ya” pinta aira


“tidak bisa” balas prastyo yakin


“dia sudah bahagia kak, jadi jangan usik hidupnya lagi” pinta aira


prastyo menoleh ke arah aira “aku juga mencintainya ra, aku mencintainya dengan segenap jiwaku. Apa aku tak boleh bahagia dengan bersama orang yang aku cintai” balas prastyo lirih


Aira mengeratkan genggamannya “mencintai boleh kak, tapi jangan pernah memaksakan untuk memiliki. Cinta itu ibarat pasir dalam genggaman tangan semakin kak tyo menggenggam erat maka akan semakin hilang dan tak bersisa” ucap aira


“kakak tidak berjodoh dengannya, jangan karena keegoisan kakak orang yang kakak cintai makin membenci kakak. Dan jangan lupa pasangannya sekarang adalah kakak dari kak tyo. Harusnya kak tyo tahu dialah yang tak pernah menyerah dengan kondisi kakak dan tak pernah menjauhi kakak padahal kakak lah orang yang paling menyakiti hati wanita yang paling dokter ken cintai” ucap aira mengingatkan seberapa besar rasa cinta dokter ken sebagai kakak untuk prastyo


“tapi kakak gak bisa melepasnya ra” ucap prastyo


“kakak pasti bisa, buktinya 16 tahun dia menjauhi kakak, tapi kakak masih bisa hidup kan?” Tanya aira


“kakak hidup karena membayangkan dia ada di samping kakak” balas prastyo terus melirik kearah Riska


Aira hanya menghela nafas, tak sanggup bicara lagi


***


“kak Riska aku pamit ya” ucap zeta menyalami riska dan dokter ken bergantian


“iya, terima kasih sudah hadir di acara bahagiaku ya” balas riska


Semua orang mulai berpamitan pulang, tinggalah riska, dokter ken, ayah Benjamin dan mama Katrina


Dokter ken menyerahkan kartu nama pada prastyo “ini dokter kenalan kakak, kemarin kakak sudah bikin janji


dengannya, usahakan besok kamu datang” pinta dokter ken


Prastyo terkekeh “kalian malu dengan kelainanku?” Tanya prastyo berdecak


Dokter ken menghela napas panjang “datang saja” dokter ken mengajak riska meninggalkan aula pesta menuju kamar hotel yang sudah di pesan


Prastyo berjalan keluar aula dengan malas “oh ya mah, kalau daddy menghubungi kalian untuk mencariku, bilang 1 bulan lagi aku akan ke kantor jadi jangan terus paksa aku” ucap prastyo kembali melanjutkan langkahnya


***


Riska sudah berganti pakaian tidur dan duduk di tepi ranjang


Dokter ken keluar kamar mandi dengan handuk melilit di pinggang melirik kearah  Riska “kok rambutmu gak


dikeringin?” Tanya dokter ken


“nanti juga kering sendiri” balas Riska enteng


Dokter ken menghela nafas panjang, berjalan ken akas mengambil alat pengering rambut


“sini” pinta dokter ken menepuk meja rias yang ada di kamar hotel


“ih malas loh mas” ucap riska tetap menuruti dokter ken untuk duduk di kursi yang di tunjuk dokter ken


Dokter ken mulai mengarahkan mesin pengering rambut kearah Riska


“jangan biarkan rambutmu basah, nanti kepalamu pusing” ucap dokter ken


Riska tersenyum “iya mas” balas Riska tersenyum ke arah suaminya yang sedang mengeringakan rambutnya