
***
“bagaimana? Kau puas dengan lukisanku?” Tanya eila
“puas” balas rendra tersenyum puas
“oh ya, gimana rencanamu? Jadi kita pura-pura tunangan?” Tanya rendra
“tidak perlu lagi, kau bilang dengan kekasihmu kalau aku gak jadi minta bantuanmu jadi jangan bertengkar lagi karenaku” balas eila
rendra menautkan kedua alisnya “loh kenapa? Apa kalian sudah bersama?” Tanya rendra
Eila menggeleng “tidak, kali ini aku sudah menyerah. Aku akan kembali ke inggris” balas eila
“emang orang tua kamu ngizinin? Kamu kan anak perempuan satu-satunya mana boleh kamu
tinggal di luar negeri” balas rendra yang cukup mengenal viko jadi sedikit banyak tahu tentang keluarga eila
“biar itu jadi urusanku dengan orang tua dan keluargaku yang lain” balas eila
Rendra menepuk pundak eila “kabur bukanlah suatu penyelesaian eila, masih banyak orang yang sayang sama kamu jangan hanya karena satu orang kau membuat kecewa orang-orang yang menyayangimu” nasehat rendra
“aku punya pandanganku sendiri” balas eila
***
Acara peluncuran buku rendra berjalan dengan lancar, dan tiba saat penyampaian kesan-kesan oleh rendra dan eila sebagai tokoh yang bekerjasama dalam pembuatan buku
rendra duduk di kursi di atas podium menatap para audiens “buku ini bercerita tentang pengalaman cinta kedua orang tua saya pada saya anak mereka. mereka bercerai semenjak saya duduk di bangku kelas 4 SD. Tapi walaupun mereka bercerai, mereka memberikan cinta yang begitu besar untuk saya dan membuat saya tak pernah merasa mereka berpisah, mereka kedua orang tua saya dan saya bangga menjadi anak mereka walaupun sekarang mereka memiliki keluarga masing-masing tapi tak pernah
membuat saya menjadi keluarga yang berbeda dengan keluarga mereka sekarang” cerita gambaran rendra tentang isi bukunya
Setelah rendra bercerita, pembawa acara naik ke podium “baik setelah mendengar cerita tuan rendra sebagai penulis, sekarang kita panggil nona eila untuk menceritakan perjalananya dalam melukis cover buku tuan rendra” ucap pembawa acara mempersilahkan eila naik ke atas podium
Eila berjalan naik ke atas podium dan duduk tempat di samping lukisan untuk cover buku rendra
“selamat sore semua” sapa eila menunduk hormat pada para audiens
Eila menoleh ke arah rendra dan kedua orang tuanya “sebelum saya mulai bercerita, saya mohon maaf jika nanti ucapan saya ada yang menyinggung anda sekeluarga, ini hanya murni cara pandang saya bukan mendikte cerita anda” ucap eila dan di balas anggukan oleh rendra dan keluarganya
“awal saya membaca cerita ini, saya begitu takjub dengan isi ceritanya. Bagi saya untuk hidup berdampingan dengan orang yang menyakiti kita sangat sulit bahkan
mungkin banyak orang yang tidak sanggup. Dan itu terjadi di keluarga saya, mami saya dan mantan suaminya dulu berpisah sebelum papi saya menikah dengannya, setelah mereka berpisah, ya sudah tidak pernah bertemu lagi” eila kembali
menoleh ke arah orang tua rendra “untuk itu saya salut pada kalian. Saya pribadi saja tak sanggup. Belum lama ini saya bertengkar dengan seseorang, mungkin dia seseorang yang paling menyakiti hati saya, saya gak bisa hidup
berdampingan dengannya bahkan saya gak sanggup berbagi udara yang sama dengannya” eila terkekeh dengan ceritanya sendiri
“ sampai akhirnya saya memutuskan kabur saja, kabur
menjauh darinya meninggalkan keluarga yang begitu mencintai saya karena menghindarinya” eila
tersenyum simpul “saya bilang kalau dia pengecut karena tak berani menghadapi dunia, padahal saya sama dengannya, saya juga orang yang pengecut karena hanya
“walaupun di awal saya kesulitan untuk menemukan lukisan yang sesuai, tapi setelah bertemu dengan keluarga besar tuan rendra dan mengobrol dengan mereka, saya sadar bahwa cinta itu berbeda antara satu dengan orang lain, keluarga mereka keluarga yang cukup bahagia, walaupun sempat melewati jalan berliku dan kerikil tajam. Untuk itu saya
mengambil potret kedua orang tua tuan rendra sebagai tema lukisan untuk cover buku tuan rendra” jelas eila
Eila mendapat hadiah tepuk tangan meriah, tapi ada satu pasang mata yang menatap tajam ke arah eila
Acara di tutup, dan para audiens mulai pulang meninggalkan aula gedung di selenggarakannya peluncuran buku daren “ selamat rendra” ucap viko menyalami
rendra
Eila menoleh ke arah viko, ia begitu terkejut ada kakaknya di sana “kakak kok di sini?” Tanya eila begitu terkejut dengan keberadaan kakaknya
Viko melirik perempuan yang tepat berdiri di sebelah rendra “dia sahabatku di inggris” viko beralih menatap eila “jadi tentu aku harus mengucapkan selamat pada
kekasihnya” balas viko
“kakak dengar ucapanku tadi?” Tanya eila
Viko menatap jelita dan rendra bergantian “sekali lagi aku ucapkan selamat, dan maaf aku tak bisa mengobrol lama, karena aku harus bicara dengan adikku” ucap viko
Rendra tentu tahu apa yang ingin di bicarakan viko “ bicaralah dengan adikmu, nasehatilah dia” balas rendra
“iya” viko menarik kasar tangan eila keluar gedung acara
“kakak” panggil eila yang tak gubris viko sama sekali
Viko terus menarik tangan eila sampai parkiran, viko menoleh menatap tajam eila “apa maksudmu dengan bilang kau mau kabur hah?” Tanya viko
Eila menunduk “aku akan kembali ke inggris, aku sudah setuju untuk kerja di galeri milik salah sahabat eila kak” balas eila
“kau gila eila!” bentak viko
Eila hanya menunduk diam tak berani menjawab kakaknya “Cuma gara-gara seorang pria, kau mau meninggalkan keluargamu hah? Kau itu anak perempuan satu-satunya di keluarga kita, kau tahu bagaimana kami semua memanjakanmu. bagaimana bisa kau memilih tinggal diluar negeri padahal kakak membebaskan pekerjaanmu dan masih memberikan kamu uang saku agar tak membebanimu dalam bekerja” ucap viko
“aku tahu kak” balas eila menunduk
“kalau kau tahu itu, kenapa kau malah pergi?” Tanya viko
“aku gak sanggup di sini kak” balas eila dengan mata berkaca-kaca
“hanya karena laki-laki itu” viko menatap tak percaya adiknya “kalau tahu kamu kaya gini, kakak bakal larang kamu dulu sekolah di luar negeri” kesal viko
“maaf kakak” eila menarik lengan viko “aku kesulitan bernafas kak di sini” rengek eila
“masih banyak laki-laki lain di dunia ini eila, kamu tuh cantik dan menarik, banyak yang antri buat dapatin kamu, apa bagusnya pria arogan itu” ucap viko kesal
Eila menggelengkan kepalanya “aku gak tahu kak, Cuma dia yang ada di hatiku, kalau aku disini pasti aku akan berusaha mengejarnya terus dan aku akan sakit hati terus”
balas eila
viko begitu kesal mendapati jawaban adiknya “terserah” viko meninggalkan eila dengan raut wajah kesal dan penuh amarah