
***
Sesampainya di rumah keluarga mahardika, viko langsung berjalan meninggalkan ketiga wanita yang menatap viko dengan tatapan
berbeda-beda “kakak kamu kenapa sih eila?” Tanya ara yang memang tak tahu kenapa viko aneh seperti itu
“ah sudah lah jangan perdulikan kekasihmu itu, mungkin dia capek. Kamu kan belum makan tante masakin buat kamu dulu ya” ucap mami aira
“ara bantuin tante masak ya” pinta ara
“emang kamu bisa masak?” Tanya eila
“tentu saja bisa, kamu pikir siapa yang masakin kakak kamu selama ini” ucap ara dengan bangga
“ooops” ara langsung menutup mulutnya karena kembali kelepasan bicara
“wah wah kamu sudah tahap mengisi perut kakviko” gumam eila
“hehehehe” ara hanya bisa tertawa kaku
“ya sudah nanti tante ajarin masak masakan kesukaan viko, di jamin viko tambah cinta sama kamu” ucap mami aira
“iya tante” balas ara senang akan di ajari memasak olahraga mami kekasihnya. eits kekasih bohongannya
Akhirnya ara dan mami aira memasak menu kesukaan
viko, sedangkan eila hanya mampu merecoki saja karena memang dirinya yang tak bisa memasak, pernah dia masak mie instan malah terjadi insiden mienya kematangan jadi dia tidak mau ikut
memasak karena kegagalan memasak mie yang kata orang mudah tapi bagi eila itu sangat sulit
“karena semua sudah matang, kamu bebersih saja dulu bair nanti pembantu tante yang siapin di meja makan” ucap mami aira
“iya tante” ara melepas apron dan meletakkan di tempatnya
“sekalian nanti ajak viko turun ya” pinta mami aira
“iya tante” ara berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya
Eila menatap punggung ara “gimana kalau ara tahu tentang revina mih?” Tanya eila
“sebaiknya jangan beritahu ra, biar kakakmu saja yang memberitahu nanti, kalau kita salah bicara hubungan mereka bisa jadi rusak”
balas mami aira
“iya mih” balas eila mengangguk paham
***
ara mengetuk pintu kamar viko “mas makan yuk”ajak ara
tak mendapati jawaban viko, ara memberanikan diri membuka pintu kamar viko yang ternyata tidak di kunci “mas" ara menghampiri viko yang masih begelung di dalam selimut
“mas” ara duduk ditepi ranjang menepuk pundak viko pelan “sudah waktunya makan malam mas, tadi kan kita gak sempat makan siang pasti kamu lapar, yuk makan ” ajak ara
Viko membuka matanya menatap ara “aku tidak lapar ara, kau makan sendiri saja” balas viko kembali memejamkan matanya
“kalau anda tidak makan ya sudah saya kembali ke kamar lagi saja, malu lah saya makan sendirian” balas ara
“kau kan belum makan dari siang ara” ucap viko
“sama seperti anda” sahut ara
Viko menghela nafas “ya sudah ayok makan” viko bangun dari tidurnya dengan menggandeng tangan ara keluar kamarnya
*
“kira-kira kakak turun gak mih?” Tanya eila
“gak tahu “ balas mami aira menghela nafas
“ada yang terjadi?” Tanya papi dylan
Askar juga ikut kepo “ada apa mih?” Tanya askar
“tadi sewaktu kita belanja ketemu sama revina dan anaknya" balas mami aira
“gimana kalau kakak kaya dulu gak makan berhari-hari” Tanya askar mengingat kejadian lima tahun lalu saat viko tak mau makan sampai berhari hari bahkan harus dipasang infus agar tidak lemas
“kita berharap saja sama ara bisa ngajak viko makan” ucap mami aira
Eila menepuk bahu askar berulang kali "itu askar” ucap eila melirik ke arah anak tangga
Semua mata tertuju ke arah anak tangga “syukurlah” gumam papi dylan mendapati viko yang turun untuk makan
Ara yang melihat keluarga dylan masih menunggu jadi tak enak hati “maaf ya, kalian pasti lama nunggunya? Tadi mas viko nya lama banget sih, jadi kita lama turun” ucap ara
“tak apa-apa ara” balas papi dylan
Ara dengan semangat mengambilkan viko makanan
“nih mas cobain masakan ara, tadi di ajarin tante katanya ini masakan kesukaan mas"ucap ara menyerahkan makanan berisi bermacam-macam lauk dan sayur di sana
“kamu mau kasih makan kuli sebanyak ini” Tanya viko menunjuk piringnya yang tinggi menjulang bagai gunung
ara menggaruk tengkuknya yang tak gatal "ya kan ara Cuma pengen mas cobain semua masakan
ara” ara diam menunduk
viko menghela nafas “ya sudah, mas makan” viko dengan terpaksa
memakan apa yang sudah di ambilkan ara membuat senyum ara kembali terbit
“enak kan mas?” Tanya ara penuh harap
“hemmm” viko mengangguk
“wah kamu pinter masak rupanya” ucap papi dylan saat menyuapkan sayur buatan ara
“ah ini karena di ajarin masak sama tante saja” balas ara merendah
“jangan merendah ara, kan biasanya kamu yang
masakin viko di inggris. Viko itu termasuk pemilih loh. Kalau dia makan masakan kamu tiap hari berarti masakan kamu enak” sahut mami aira
“wah, kamu sudah masakin kakak toh?” Tanya askar
semangat
Ara tersenyum “hanya masakan sederhana saja kok” balas ara
“tinggal nikahnya saja doang” ucap askar menghentikan kegiatan makan viko
Keluarga mahardika saling lempar lirikan karena celetukan askar yang sebenarnya biasa saja tapi tidak pada tempatnya dan orang
yang tidak tepat
Ara melirik viko “apa tidak enak?” Tanya ara karena viko menghentikan makannya
“tidak” viko kembali melanjutkan makannya membuat semua orang bernafas lega kecuali ara yang tahu
“kalau mas suka, nanti ara belajar masak dari tante lagi biar mas bisa makan makanan yang mas suka setiap hari saat kita balik ke Inggris” ucap ara
papi dylan mengernyitkan dahinya “kau mau kembali ke Inggris?” Tanya papi dylan pada viko
“viko masih punya kerjaan di sana pih” balas viko
“tapi kami pengen kamu di sini nak, dulu saat kamu bilang akan kuliah di sana kamu akan bilang pulang setelah jadi dosen dan ini sudah 10 tahun viko” ucap papi dylan lirih
Viko hanya diam saja dan melanjutkan makannya dalam diam
Mami aira menghela nafas “kuliahmu gimana ra, sudah sampai tahap mana?” Tanya mami aira untuk mengalihkan pembicaraan
“tinggal nyusun skripsi tan, kata mas viko sih mau bantu ara bimbing skripsi ara, tapi malah di diemin saja” adu ara
Viko menoleh ke arah ara “emang kamu sudah buat skripsi?” Tanya viko
Ara menatap tajam viko “pasti gak baca email ara ya?" tunjuk ara pada viko dengan tatapan kesal
Viko langsung membuka ponselnya “oh” gumam viko saat membuka email dan memang ada pesan dari ara
“jangan lupa di periksa ya pak dosen” ucap ara dengan senyum penuh harap sembari memiringkan kepalanya pada viko agar viko
melihatnya
Dan keluarga viko ikut tertawa melihat sikap ara yang berharap pada viko yang jadi kekasih sekaligus dosennya itu