Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
walaupun cara berpikir dewasa tapi tetaplah seorang anak kecil



***


Viko dan teman-temannya berkeliling sekitaran puncak untuk mencari view terbaik untuk berfoto


Rio dan viko menfoto tebing dengan adanya burung di atas bebatuan “ceklek” viko memeriksa hasil jepretannya


“zaskia katanya nyusul kok belum kelihatan?” Tanya Rio yang masih membidik momen di hadapannya


“katanya kesini kalau kita sudah dapat foto banyak, dia gak mau merusak niat kita untuk berfoto katanya” balas


viko kembali membidik momen yang menurutnya menarik


Rio melirik ketiga teman wanitanya yang juga sedang membidik untuk mengambil gambar


“dia selalu memikirkan orang lain, walau orang itu ngeselin” kekeh Rio paham betul tabiat sahabatnya


“bukankah hal itu yang membuat kita berteman baik dengannya” sahut viko tersenyum


“iya,dia sahabat terbaik kita yang harus kita jaga” balas Rio


“tapi aku heran dengan orangtua zaskia” ucap viko menghentikan gerakannya


“bagaimana bisa kedua orangtua zaskia selalu mengabaikan zaskia padahal kan zaskia anak satu-satunya mereka, lihat deh zaskia dia tuh gak terlalu suka pakai uang dari orang tuanya” tambah viko


“iya, malah dia milih magang di butik temannya hanya untuk menjahit pakaian, padahal tanpa uang orang tuanya pun dia masih bisa duduk santai nikmatin apa yang dia mau“ sahut Rio


“entahlah, aku juga kadang tak mengerti jalan fikiran sahabat kita itu” balas viko


***


Eila sedang memainkan lagu baru yang baru di pelajarinya dari kelas les privat piano yang ia jalani


“eila” panggil Yama dengan langkah terburu-buru


Eila menoleh “hei uncle” sapa eila tersenyum ke arah Yama


Yama menghampiri eila “uncle denger kamu akan kuliah di luar negeri?” Tanya Yama


“ia uncle, aku ingin belajar di sekolah yang aku inginkan” balas eila


“kok kamu tinggalin uncle?” Tanya Yama menunduk sedih


Eila terkekeh “eila ke sana kan untuk belajar uncle, bukan mau ninggalin uncle. Uncle masih bisa menelpon eila


kapanpun atau jenguk eila saat uncle ada perjalanan bisnis ke sana” bals eila


“tapi eila” yama ingin mengeluh


“bukankah uncle ingin eila meraih cita-cita eila?” Tanya eila


“tentu saja” balas yama


“kalau gitu, uncle harus dukung eila” balas eila


Yama menghela nafas panjang “ya sudah, kalau sudah mau berangkat kabarin uncle biar uncle bisa antar kamu” ucap eila


“ok” balas eila tersenyum


“ya sudah uncle pulang dulu,


nanti kalau papimu tahu uncle di sini bisa kena semprot “ ucap yama pamit


pulang


Aira yang berdiri tak jauh dari


sana, bisa mendengarkan obrolan putrinya dengan seksama


“uncle pulang?” Tanya aira


menghampiri eila


“iya “ balas eila kembali


memainkan lagu yang tadi sempat ia mainkan


“kamu yakin mau lanjutin sekolah


di luar negeri?” Tanya aira


“tentu saja, itu impian eila


makanya eila belajar dengan giat” balas eila


“kamu yakin bisa jauhan dari


uncle kamu itu?’ Tanya aira


Eila menghentikan permainannya


dan melirik aira kemudian tertawa “apa mami juga berfikir aku suka uncle yama


sebagai seorang pria?” Tanya eila


“lalu sebagai apa?” Tanya aira


“aku menganggap uncle sebagai


orang tua eila mih, bukankah uncle dekat dengan keluarga kita” eila


menghilangkan senyumnya dan emnatap aira dengan serius “ucapan uncle hanya


sebuah candaan, bagi uncle mungkin aku adalah anak yang taka da hubungan darah,


dia terlalu menyayangiku mih sebagai anak itu saja. Ya walalupun ucapannya


selalu bilang aku calon istrinya” kekeh eila


“emang kamu tak risih dengan


ungkapan itu?” Tanya aira


Eila menggeleng “tidak masalah


mih, toh aku masih kecil mana ada yang keberatan dengan anggapan itu” ucap eila


“kecuali papi kamu” sahut aira


“iya kecuali  papih” kekeh eila


Aira mengusap kepala eila “ pola


pikirmu terlalu dewasa sayang, kadang membuat mami cemas” ungkap aira


“cemas kenapa mih?” takut kamu


terlalu serius menjalani hidupmu dan melupakan masa mudamu” balas aira


Eila tersenyum manis pada aira


***


“kriuk…” terdengar suara perut


sita yang cukup keras  membuat prastyo


terkejut bergegas menoleh kea rah sita “kau lapar?” Tanya prastyo


“hehehehe” sita mengusap perutnya


mengangguk malu “iya om” balas sita


“ya sudah om telpon petugas hotel


untuk bawakan makanan” balas prastyo bergegas mengangkat pesawat telpon untuk


menghubungi pihak hotel dan memesan makanan


sita


“ya sudah kita mandi dulu”


prastyo bangun dan mengangkat tubuh sita


“akhhh!” teriak sita menutup


wajahnya


“kenapa?” prastyo mengedarkan pandangannya


kesekitar


Sita menutup wajahnya “itu om gak


malu apa!”teriak sita


“malu kenapa?” Tanya prastyo


“itu nya gantung gitu” ucap sita


dengan suara menahan geli


Prastyo terkekeh “kenapa malu sama


istri sendiri, toh dia sudah keluar masuk dengan bebas ke lembah milikmu” balas


prastyo melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi


Prstyo mengisi bak mandi dengan


air hangat dan meletakkan sita ke dalam bak mandi, sedangkan prastyo memilih


mandi di bawah shower “om gak ikut berendam?” tany sita di sela-sela kegiatan


mandi prastyo


“nanti bikin om pingin makan


kamu, jadi mendingan tidak. Kamu kan sedang kelaparan” balas prastyo


Sita tersenyum menatap punggung


prastyo “sebesar itu cinta suaminya untuk dirinya”


***


“sudah kenyang?” Tanya prastyo


saat sita menyelesaikan makannya


Sita mengangguk “sudah om”sita


mengusap perutnya


“syang, boleh gak gantti


panggilan biar lebih manis gitu?” Tanya prastyo


Sita mengerutkan keningnya


“panggilan apa?” Tanya sita


“mas, atau sayang, honey atau


baby mungkin” usul prastyo


Sita Nampak berpikir “kalau hubby


boleh?” Tanya sita


Prastyo tersenyum “boleh” balas


prastyo


“oke hubby” balas sita mencoba


panggilan barunya


“mau jalan-jalan sayang?” Tanya


prastyo


“untuk hari ini di kamar saja


dulu ya hubby, sita masih capek” balas sita memijit lehernya yang serasa kaku


“mau aku pijitin?” tawar prastyo


“emang hubby bisa mijit?” Tanya


sita


“tentu saja” balas prastyo


“oke, boleh hubby” balas sita


“ya sudah ayo berbaring”pinta


prastyo


Sita berjalan ke atas ranjang


membaringkan tubuhnya di atas ranjang


“drtttt”ponsel prastyo mulai


bergetar


“hubby ponselmu berbunyi” ucap


sita


“ah, iya sayang” prastyo


mengambil ponselnya “siapa ya” gumam prastyo melirik nomor baru di ponselnya


“hai tyo” sapa seorang pria


Prastyo begitu mengenal suara itu


sehingga tak kesulitan mengetahui siapa pemilik nomor baru yang menghubungi


dirinya


“ada apa kau menelponku?” Tanya


prastyo ketus


“aku kembali” balas prastyo


“kalau kau kembali kabarin saja


kakak ipar jangan diriku” bals prastyo mengakhiri panggilannya


Sita melihat wajah tak suka


prastyo “sipa hubby?” Tanya sita


“orang gak penting” balas prastyo merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya


Sita hanya bingung dengan sikap suaminya tapi ia coba mendiamkan dan tak bertanya karena mlihat raut tak


mengenakkan suaminya