
"hoek hoek hoek" askar langsung berlari menuju kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya yang bergejolak segera minta di keluarkan
sayup-sayup jeni mendengar suara askar yang sedang memuntahkan isi perutnya di kamar mandi kamarnya
jeni menyibak selimutnya dan menghampiri askar "kakak mual ya" tanya jeni
askar menahan langkah jeni dengan tangannya " jangan kesini" ucap askar malu jika saat ia muntah ada yang melihatnya
jeni pun menuruti askar dan kembali masuk kamarnya menunggu askar di dalam kamar
setelah memuntahkan isi perutnya askar berjalan lemas menuju sofa tempat ia tidur semalam
"kakak tidur sini saja, pasti gak nyaman di situ" ucap jenny menepuk ranjangnya
"ah iya" askar berjalan dengan gontai di sebelah jenny.
ia merasa memang butuh tidur di ranjang karena sofa itu kurang nyaman untuk tidur walaupun ukurannya sebenarnya cukup besar
"sini kak aku kasih minyak angin kali aja mendingan" ucap jeni
"boleh deh" askar menerima perlakuan jeni karena dirinya memang sudah sangat lemas dan merasa tak nyaman
jenny mengoles leher belakang serta kening askar dengan minyak angin "apa kakak mau aku buatin bubur, aku biasanya agak mendingan setiap mommy bikinin aku bubur setelah muntah" tawar jenny
"boleh deh" balas askar
"ya sudah jeni bikinin ya" ucap jeni beranjak dari duduknya
"ini masih pagi jenny jangan bangunin pembantu, kasihan mereka. mereka kan butuh istirahat" ucap askar mengingatkan
"aku yang buat kok kak" jenny kembali melanjutkan langkahnya
askar menatap tak percaya ke arah jeni "emang kamu bisa masak? " tanya askar
jenny menghentikan langkahnya menoleh ke arah askar "sedikit kak, nanti kalau gak enak gak usah di makan saja minta bibi yang buatin setelah mereka bangun kalau sekarang kan masih jam segini gak enak kalau bangunin" ucap jeni melirik jam dinding yang masih menunjukkan pukul 4 pagi
"terserah kamu saja, kakak mau coba tidur biar gak lemes" balas askar kembali memejamkan matanya
jenny pun berkutat di dapur untuk membuatkan bubur ayam untuk askar, untung saja di kulkas mami aira begitu lengkap dengan bahan-bahan yang di butuhkan, sehingga jenny tak perlu merepotkan orang lain untuk membantunya mencari bahan untuk membuat bubur ayam
*
"kak askar nih sudah jadi" jeni memberikan bubur buatannya pada askar
askar menerimanya dengan muka berseri "sejak kapan kamu bisa masak jenny bukannya dulu kamu gak bisa ya? " tanya askar takjub dengan hasil masakan jenny yang dulunya ia tahu tak bisa memasak
" waktu tahu kak ara hamil aku sempet belajar masak biar bisa masakin kak ara, kak ara sama mommy sudah tahu kalau aku bisa masak karena yang pertama kali coba masakan aku tapi masih yang sederhana sih karena masih belajar" balas jenny jujur
askar menyuapkan bubur ayam kedalam mulutnya "ehmm enak jen" ucap askar takjub dengan hasil masakan jenny yang baru pertama kali ia coba
"makasih kak pujiannya" balas jenny ikut makan bubur yang ia bawa
mereka makan semangkuk berdua tanpa canggung karena memang mereka akrab sejak kecil
***
askar tengah bersiap di depan cermin kamarnya yang berada di lantai atas
"sayang" syakia memeluk askar dari belakang
"hmmm" askar tetap konsen dengan dasinya
"kamu masih marah? " tanya syakia dengan nada manja
"kita sudah kesiangan syakia, sana makan aku tadi sudah makan" ucap askar kembali merapihkan dasi dan rambutnya
syakia memicingkan matanya ke arah askar " kamu sudah bisa makan pagi? " tanya syakia
syakia memutuskan keluar kamar, ia berjalan ke bawah untuk sarapan
"pagi oma, pi, mi" sapa syakia ramah
"jenny mana mih, gak ikut makan?" tanya syakia yang tak mendapati jenny di meja makan
"tadi jenny sudah makan jadi gak ikut kita sarapan" balas mami aira
"oh" balas syakia duduk untuk sarapan
askar berjalan menghampiri mami aira dan mengecup pipi maminya "pagi mih" sapa askar
"pagi sayang" balas mami aira
"oh ya mih" askar membuka dompetnya dan mengambil salah satu kartunya "mih nanti kasih ke jenny ya" ucap askar
syakia memicingkan matanya ke arah askar "bukannya jenny juga punya kartu sendiri ya askar? " tanya syakia
"itu kan pemberian orang tuanya, sekarang jenny adalah tanggung jawabku jadi sudah seharusnya aku yang memenuhi kebutuhannya, lagian yang aku berikan limitnya sama dengan milikmu" balas askar ingin menjalankan kewajibannya pada istrinya
sebenarnya ada rasa tak suka di dada syakia tapi ia coba bersikap biasa saja
"nanti mami kasih ke jenny" mami aira mengambil kartu askar
askar melirik syakia "kamu di antar sopir ya syakia, aku ada janji temu klien" ucap askar
"klien yang mana kok aku gak tahu? " tanya syakia yang memang jadi sekertaris askar jadi harusnya ia tahu jadwal suaminya
"yang dari Jepang itu, kata levi semalam ponselmu gak bisa di hubungi jadi kau gak tahu. aku akan langsung nyusul karena levi sudah jalan ke sana" ucap askar
"aku ikut ya" ucap syakia
"kau tunggu di kantor saja, nanti kan ada janji sama kak joff juga, kak viko kan ada janji temu dengan klien yang dari Jerman itu" sahut askar
"ya sudah" syakia tertunduk lesu karena tidak bisa bersama suaminya ke kantor
askar pun bergegas meninggalkan rumahnya agar bisa bertemu kliennya
setelah kepergian askar jenny berjalan keluar kamarnya menghampiri mami aira " mih, boleh gak kalau jeni belanja ke mall" ijin jeni
"tentu saja boleh, oh ya" mami aira memberikan kartu pada jenny
"ini titipan dari askar untuk kamu" ucap mami aira
"tapi buat apa kan jenny punya sendiri" balas jenny merasa punya kartu pemberian orang tuanya, bahkan ia juga punya dari pemberian uncle-uncle nya
"itu bentuk tanggung jawab suami kamu jadi Terima saja" balas mami aira memberikan kartu itu pada jenny
syakia melirik jenny "oh ya, jenny kau sudah makan? " tanya syakia
"sudah kak, tadi sekalian nemenin kak askar makan jadi aku sekalian makan" balas jenny jujur
"kalian makan bareng? " tanya syakia memicingkan matanya
"iya kak, tadi jenny buatin bubur ayam buat kak askar yang habis mual pagi" balas jenny
"oh" syakia memaksakan senyumnya
hatinya serasa tertusuk, istri yang baru sehari sudah memaksakan makanan untuk suaminya tapi ia yang sudah hampir setahun jadi istri belum sekalipun memasak untuk suaminya. yang ada hanya masakan gosong dan mie lembek yang pernah ia berikan pada askar
" ya sudah semuanya aku berangkat kerja dulu" ucap syakia pamit untuk berangkat kerja karena sudah selesai sarapan
"iya" balas mami aira