
“bams!” teriak Kendra memanggil salah satu anak buahnya yang di tugaskan berjaga di luar
“bams!” teriak Kendra lagi karena tak mendapat jawaban dari bams
Kendra menarik pistol yang ia sarungkan di belakang punggungnya, Kendra memegang erat dan melangkah keluar dengan berhati-hati untuk melihat keadaan sekitar
kendra membuka pintu perlahan memindai keadaan di sekitarnya “bams” panggil Kendra lagi keluar bangunan tua dan berjalan perlahan dengan tetap waspada memegang pistol di tangannya dengan irama jantung yang sudah tak karuan
Ia mengedarkan pandangannya kesekeliling yang terlihat sepi tak ada siapapun padahal dirinya menyiapkan begitu banyak orang di sana untuk berjaga ”sial!” umpat Kendra merasa sudah di ketahui keberadaannya dan dirinya dalam kondisi bahaya karena anak buahnya sudah tak ada di sana
Kendra segera berlari masuk ke dalam bangunan agar bisa menjadikan aira sebagai sanderanya dan kunci keselamatannya
“brugh” Kendra terpelanting jauh sampai membentur pintu
“kau fikir aku akan melepasmu begitu saja” ucap ferdy dengan senyum smirknya menatap kendra yang terpental jauh karena dirinya
“kau!” Kendra terbelalak lebar melihat ferdy ada di sana
ferdy menyunggingkan senyumnya “kau fikir aku akan kehilangnmu begitu saja, jangan remehkan aku!” teriak ferdy kembali menendang wajah Kendra dengan cukup keras
Kendra meludah karena bibirnya yang robek dan mengeluarkan darah segar akibat tendangan ferdy “kau fikir aku akan kalah dengamu” ucap Kendra berniat melawan ferdy
Kendra melawan ferdy dengan sisa-sisa tenaganya, tapi apalah daya Kendra tetap bukan lawan sepadan bagi ferdy yang merupakan anggota pasukan khusus dan sudah sangat sering ada dalam keadaan seperti ini
ferdy terus memukuli kendra dengan membabi buta karena saking kesalnya dengan pria di bawahnya itu “aaaakhhh!” teriak aira dari dalam bangunan tua
ferdy mendengar suara teriakan aira dari dalam bangunan tua “nonya” ferdy menoleh ke bangunan tua dengan
perasaan cemas
melihat ferdy yang kehilangan focus Kendra langsung memukul ferdy "brugh" membuat ferdy terhuyung karena tak siap dengan pukulan kendra
Ferdy memegang sudut bibirnya yang sedikit robek “sialan!” ferdy langsung menghajar Kendra dengan kesal
anak buah ferdy menghampiri ferdy untuk mencegah ferdy menghajar kendra “kapten, biar kami saja yang urus dia, kapten samperin nyonya aira dulu” ucap salah satu anak buahnya
ferdy menoleh dan mengangguk ke arah orang yang mengajaknya bicara “baik tahan dia sampai tuan dylan datang” ucap ferdy bergegas masuk ke dalam bangunan tua dengan berlari kencang
“nyonya” teriak ferdy berlari menghampiri aira yang masih terus berteriak kesakitan
“nyonya kenapa?” Tanya ferdy cemas melihat raut wajah aira yang pucat
“ketubanku sudah pecah fer, aku mau lahiran” teriak aira mengatur ritme nafasnya
Ferdy pani mendengar aira yang akan melahirkan "aduh gimana ini nyonya, kita jauh dari pemukiman dan rumah sakit, apa yang harus saya lakukan?” Tanya ferdy bingung, otak cerdasnya seakan tak bisa bekerja di situasi seperti ini
ferdy memijat keningnya yang sudah mengerut itu “mana saya punya nomornya “ balas ferdy tak mengetahui nomor dokter kandungan aira
aira menghela nafas, ia juga sedang tak memegang ponsel dan entah dimana ponselnya sekarang “ya sudah telpon dokter ken” ucap aira
ferdy makin bingung, menautkan kedua alisnya “kok malah telpon dokter ken? Kan dia dokter psikiater bukan dokter kandungan” balas ferdy tak mengerti kenapa aira memintanya menelpon dokter ken
“saya juga tahu itu fer, tapi kan setidaknya dia dokter jadi pasti punya kenalan dokter kandungan atau paling tidak dia bisa minta anak buahnya di rumah sakit miliknya, yang bisa di ajak Tanya” ucap aira mencengkeram lengan ferdy karena menahan sakit
ferdy mengangguk paham “ya sudah nyonya saya akan telpon dokter ken” ferdy langsung melakukan panggilan telpon pada dokter ken
lama ferdy menunggu panggilannya di angkat “halo fer, ada apa? apa aira sudah ketemu? apa kalian butuh tambahan anak buahku lagi” Tanya dokter ken langsung membrondong ferdy dengan pertanyaan
“tanyanya nanti saja dok, sekarang nyonya mau melahirkan, gimana ini? Ini di dalam hutan, gak mungkin saya bawa nyonya pakai mobil sekarang takut gak keburu, nyonya sudah sangat kesakitan ” ucap ferdy dengan wajah panik sepanik-paniknya, ngalahin saat ngelawan ******* di Baghdad
dokter ken bangun dari tidurnya dan membenarkan posisi duduknya “tenang fer, sekarang mana dylan?” Tanya dokter ken
“tuan belum sampai” balas ferdy
dokter ken menghela nafas panjang “sekarang tenang dulu aku akan ke ruang kerja agar bisa melakukan panggilan video dengan dokter kandungan dan layar yang lebih besar” ucap dokter ken bergegas turun dari ranjang menuju ruang kerjanya
mendengar dokter ken yang ribut-ribut riska membuka matanya menatap suaminya yang sedang bicara “kamu mau kemana mas?” Tanya riska yang melihat dokter ken terburu-buru
"aira mau lahiran sekarang" balas dokter ken sekenanya
Riska mengerutkan keningnya “aira melahirkan kenapa mas yang lari, kan mas bukan dokter kandungan” sahut riska tak paham kenapa malash suaminya yang berlarian jika aira yang mau lahiran
“sudah ah, tanyanya nanti dulu” dokter ken bergegas berlari meninggalkan istrinya yang masih penuh dengan tanda Tanya di kepalanya
Riska yang penasaran mengambil jubbah tidurnya dan menyusul suaminya yang ternyata masuk ruangan kerjanya “katanya aira melahirkan? Kenapa malah masuk ruang kerja?” gumam riska menggelengkan kepalanya tak paham jalan pikiran suaminya
Dokter ken langsung menyambungkan ponselnya ke perangkat yang ada di computer kerjanya dan menghidupkan langsung 2 laptop di sampingnya
dokter mendelik tajam menatap layar di hadapnnya “kenapa kau tak melepas ikatan tangan aira bodoh!” teriak dokter ken saat melihat aira masih dalam keadaan terikat
ferdy tersadar dengan kecerobohannya yang belum melepaskan ikatan aira “ah, iya dok” ferdy langsung membuka ikatan aira
“sekarang taro ponselmu di tempat yang bisa melihat aira dengan jelas dan bikin penerangan sebanyak mungkin di sana, disana terlalu gelap” ucap dokter ken menginstruksikan tempat aira agar lebih terang lagi
Riska ingin masuk tapi dia malah diam terpaku di ambang pintu, dia masih kebingungan hingga diam mematung melihat tingkah suaminya yang sedang mengumpat tak jelas dan berteriak-teriak di depan layar laptop serta komputernya itu
Ferdy langsung memanggil para anak buahnya untuk memegang ponsel dan membantunya menangani aira yang akan melahirkan
“kalian lakukan tugas kalian dengan baik” ucap ferdy mengarahkan anak buahnya untuk membuat pencahayaan dan membantu dirinya memagang ponsel miliknya yang sedang melakukan video call dengan dokter ken agar kondisi aira bisa terlihat lebih jelas dari balik layar