
***
mami aira nampak berjalan ke arah eila “kamu kenapa eila? termenung di taman malam hari gini? nanti kesambet loh" mami aira menghampiri anak gadisnya yang sedang duduk di bangku taman belakang rumahnya
eila mengerucutkan bibirnya " itu loh murid mami yang ngeselin itu bikin eila galau” balas eila
mami aira duduk di samping eila dan mengusap kepala eila “kenapa lagi dengan daren? apa Dia nembak kamu?” Tanya mami aira
eila melirik mami aira dengan tatapan tak suka “idiiiiih apaan sih mami, siapa juga yang nembak aku lagian kalau dia nembak aku, males juga nerima orang ngeselin macam dia” kesal eila
“ya kirain mami dia nembak kamu, biasanya kan kalau kamu kesal itu, gara-gara di tembak cowok baru atau sedang putus sama pacar kamu yang gak pernah bertahan sampai lebih dari satu bulan” balas mami aira yang begitu hafal kebiasaan putrinya yang suka kesal hanya karena di dekati pria
eila menghela nafas "itu loh mih, sih daren itu ternyata pelukis yang eila incar selama ini” ucap eila
mami aira tersenyum “bagus dong, kamu kan cari orangnya terus dari
kemarin” balas mami aira
“tapi persyaratannya aneh tau mih" eila menatap maminya dengan tatapan heran
"emang apa persyaratannya" tanya mami aira
"masa dia mau lukisan kesayangan eila" mami aira menautkan kedua alisnya " itu loh mih lukisan eila yang waktu liburan di berlin terus dia juga ingin lukisan eila yang dibuat karena lagi kesal sama dia” balas eila
Mami aira mengerutkan keningnya “kalau lukisan kamu yang kemarin mami lihat itu mungkin mami ngerti, dia ingin karena memang
kesannya cukup mendalam, mungkin karena kamu yang sudah punya banyak pengalaman" mami aira meletakkan telunjuk tangannya di dagu tapi untuk lukisan yang di berlin itu agak aneh deh” ucap mami aira
“tuh kan, kita tuh sama mih mikirnya aneh kan? lukisan
Cuma pemandangan gak ada arti dan aneh yang eila lukis sembarangan kok dia sangat
tertarik” balas eila
Mami aira menatap eila lekat “terus kenapa kamu gak mau melepas lukisan itu?” Tanya mami aira
“entahlah mah, kaya ada sepenggal ingatan eila yang terperangkap di situ, tapi perasaan eila gak pernah hilang ingatan ya mah” ucap eila
Mami aira nampak berpikir “tunggu deh, waktu uncle kamu jenguk kamu sama aunty zaskia bukannya mereka bilang kamu sempat
demam tinggi dan gak sadarkan diri 2 hari, hampir saja mami mau susul kamu tapi kata aunty zaskia kamu sudah sadar dan baik-baik saja cuma ingatan kamu di Berlin agak kabur” sahut mami aira
“emangnya ada hubungannya?” Tanya eila
mami aira mengedikkan bahunya “gak tahu juga sih” balas mami air
" ya sudah lepasin aja lukisan itu” usul mami aira
“gak mau” balas eila yakin
“ya sudah lepas keinginanmu untuk mendapat lukisan daren” ucap mami aira
“gak mau juga” balas eila
“ya sudah bikin daren jatuh cinta saja” celetuk mami aira
“haaaa?” mulut eila menganga lebar mendengar celetukan mami aira
“apa gitu aja ya, aku bikin dia jatuh cinta sama aku” gumam eila Nampak berpikir
" terserah kamu saja sih, mami kan sekedar kasih usul. keputusan akhirnya mah tetap di kamu" sahut mami aira
***
Syakia mulai mendapat banyak bingkisan di mejanya, sebagai ucapan perpisahan dirinya yang besok akan segera berhenti kerja dan akan berangkat ke amerika
“kamu lagi buka kios?” Tanya askar dengan nada mencibir, melihat banyaknya bingkisan yang ada di meja syakia padahal syakia baru bekerja satu bulan di perusahaannya tapi banyak yang memberikan syakia hadiah perpisahan
"maaf pak, nanti sore saya minta sopir di rumah untuk angkut semua barang-barang ini agar tidak mengganggu pemandangan mata anda” ucap syakia menunduk
“seneng kamu dapat hadiah begitu banyak” tanya askar dengan nada penuh cibiran
" aku tuh gak pernah minta mereka kasih hadiah padaku askar" syakia menatap askar dengan tatapan sendu
“aku gak senang dengan semua hadiah ini, yang aku rasakan sekarang tentu saja aku sedih, sedih karena harus berpisah dari kamu dan ini akan memakan waktu lama untuk tidak bertemu denganmu" mata askar bertatap dengan syakia
“syakia" panggil arka menyadarkan lamunan askar dan syakia
syakia menoleh ke arah arka “iya kak” balas syakia tersenyum ke arah arka
“oh ya hari ini kan hari terakhir kamu kerja di sini, aku , levi dan yang lain ingin bikin pesta perpisahan buat kamu” ucap arka
“wah terima kasih kak” ucap syakia senang karena diberikan pesta perpisahan oleh rekan kerjanya
Arka menoleh ke arah askar “kamu kalau mau datang juga boleh, kan kamu atasannya langsung kalau tuan viko sama nona ara sih bilang mau sempetin mampir” ucap arka
“ih ogah amat” askar kembali masuk ruangannya dan meninggalkan arka dan syakia begitu saja
arka menatap kesal pintu ruangan askar “dasar kepala batu dia” kesal arka
“biarkan saja kak, mungkin dia senang banget gak ketemu aku lagi” ucap syakia tersenyum namun sorot matanya seolah menyimpan begitu banyak luka
Arka langsung memeluk syakia “sudah jangan Hiraukan tuh kepala batu, biarin saja dia nyesel kehilangan batu berlian kaya kamu" ucap arka menghibur syakia
Syakia membalas pelukan arka dengan senang hati "Terima kasih kak, kau memang yang terbaik" sahut syakia
"kakak pasti akan sedih gak ketemu kamu dalam waktu lama" ucap arka dengan mimik wajah sedih
"syakia juga pasti sedih gak ketemu kakak dalam kurun waktu lama" balas syakia
Di sisi lain, askar sedang mengintip lewat celah pintu ruangannya
“enak aja main asal peluk-peluk” kesal askar ingin melempar dan memarahi arka tapi harga
dirinya begitu tinggi sehingga ia hanya bisa menggerutu di belakang
"kenapa aku gak rela kamu dekat dengan orang lain" gumam askar " aku juga gak ingin kau pergi dariku" askar berjalan ke arah sofa dan membaringkan tubuhnya di sofa panjang, sedangkan tangannya di tekuk dan di letakkan di atas keningnya
"apa sebaiknya aku memintamu tetap tinggal" askar bertanya pada dirinya sendiri
"aaaaakkkkkhhh" askar berteriak dengan suara tertahan "tapi bagaimana bisa aku menahannya pasti dia bilang aku jatuh cinta padanya" askar duduk dan menatap pintu yang tepat bersebelahan dengan tempat duduk syakia "tapi aku juga gak ingin kehilangan kamu, kamu sudah terbiasa di sekitaran ku, apa aku sanggup tanpamu" gumam askar