Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Makin lama cintaku makin bertambah, bukan memudar



Riska menuju kantornya untuk mengambil berkas-berkas yang di butuhkan untuk rapat dengan kliennya


“zi, kamu tunggu di lobi saja ya, aku Cuma ambil berkas doang kok” pinta riska


“tapi kata tuan, saya gak boleh jauh dari nyonya lebih dari 5 meter “ balas ramzi


riska menyipitkan matanya “ya ampun zi, di sini kan perusahaan keluarga saya, banyak yang kenal saya jadi gak masalah, kamu tunggu saja, jika sampai 30 menit aku tak turun kamu segera periksa aku kesini” ucap riska tak ingin di bantah ramzi


ramzi menghela nafas, tak mampu membantah istri bosnya “ya, sudah saya tunggu di bawah nyonya, 30 menit


saya gak lihat nyonya berarti saya langsung susul nyonya” sahut ramzi


“iya” riska masuk kedalam kantornya sedangkan ramzi turun ke lantai bawah untuk mengambil mobil yang tadi terparkir di basemant


Riska berjalan menuju meja kerjanya untuk membuka layar komputernya untuk mencetak file yang akan ia gunakan untuk rapat. Setelah selesai mencetak file tersebut riska memasukan file tersebut kedalam


sebuah map merah dan bergegas beranjak dari kursinya


"cklek"terdengar suara pintu dibuka


riska melirik arah pintu “riska” sapa Jonas menatap lirih adiknya


Riska sempat mematung sesaat melihat kedatangan kakaknya dan kembali melanjutkan langkahnya melewati kakakknya “maafkan kakak riska” pinta Jonas


Riska menghentikan langkahnya tanpa berbalik “apa kakak yakin butuh maaflku?” Tanya riska menoleh kearah kakaknya


“kakak sayang banget sama kamu riska, kakah sedih sekali kamu jauhi seperti ini” balas Jonas dengan mata yang sudah mengembun


Riska berdecih “apa kakak yakin sayang padaku?” Tanya riska kembali


“tentu saja kakak sayang kamu, kamu adik kakak satu-satunya” balas Jonas


"tapi rasa sayang kakak ke aku, gak melebihi rasa sayang kakak pada bajingan itu" riska memejamkan matanya menahan gejolak hatinya “ dan kalau kakak sayang aku, setidaknya kakak akan menjauhi orang yanga paling menyakitiku bukan  malah melindungi orang yang menyakitiku? Harusnya kakak tahu bagaimana perlakuannya


padaku?” riska menatap Jonas lirih


“aku 14 tahun saat itu kak, usia dimana aku kesulitan menghadapi masalah seperti itu seorang diri. Tidak ayah, tidak ibu tidak juga kakak " riska menatap tajam jonas"tidak ada diantara kalian yang ingin melindungiku dari pria brengsek itu” tambah riska dengan nada tinggi


Jonas berusaha meraih tangan riska tapi segera riska tangkis “maafkan kakak riska” pinta Jonas


“kalian lebih memilih aku yang terluka ketimbang image kalian di mata orang lain” ucap riska dengan sesenggukan


riska menangis menahan sesak di dadanya “kalau bukan karena usul mama Katrina agar aku sekolah di asrama dan tidak pernah pulang ke rumah, apa kakak pikir aku bisa lepas darinya” riska menggeleng “tidak kak” seru riska


Riska mengusap pipinya yang sudah basah “harusnya kalian tahu betapa terlukanya aku punya keluarga seperti kalian?” Tanya riska dan Jonas hanya diam saja “dan kakak malah menambah lukaku dengan membawa dia masuk ke dalam hidupku!” teriak riska


“kakak gak pernah ada niat membawanya kehidup kakak untuk menyakitimu riska. Kakak hanya…” ucap Jonas menggantungkan ucapannya


“apa? Cinta?” Tanya riska dengan nada mengejek


“cinta sesama batangan, yang tak jelas itu, dan malah menyakiti adikmu sendiri” sahut riska meluapkan amarahnya


“maafkan kakak riska” pinta Jonas


Riska merasa perutnya sedikit keram dan mencoba menarik nafas dalam untuk menetralkan rasa sakitnya


Jonas yang melihat riska memegang perutnya menjadi khawatir “kamu gak papa kan?” Tanya Jonas mendekat kearah riska


Riska menahan langkah Jonas yang mendekat dengan tangannya “cukup, jangan mendekat” pinta riska dengan memberikan tatapan tajam pada Jonas


ramzi langsung menatap riska tanpa memperdulikan keberadaan jonas “katanya nona tidak lama? Ini sudah 30 menit lewat 2 menit tapi anda malah masih disini?” Tanya ramzi kesal


“ini sudah selesai, ayok” ajak riska


Melihat kepergian adiknya Jonas menahan sesak di dadanya yang begitu teramat sakit “andai kakak bisa memilih? Kakak gak akan memilih jatuh cinta pada seorang pria yang akan melukaimu” ucap Jonas lirih


dengan suara isak tangis yang sudah tak mampu ia tahan


***


Sepulang pertemuan meetingnya, riska dan dokter ken datang ke butik mengambil gaun dan setelan jas untuk acara resepsi pernikahan mereka


“mas kita ke rumah rino bentar ya” pinta riska


“ngapain kesana?” Tanya dokter ken menautkan kedua alisnya


“mau ambil foto USG anak kita yang ada di zeta sekalian mau kasih undangan pernikahan kita. Aku kan cukup kenal baik dengan keluarga mereka jadi lebih baik mengantar undangan secara langsung” balas riska


“ya sudah ayok” balas dokter ken mengangguk


Di dalam mobil riska terus sibuk memeriksa tabletnya


“kamu lagi sibuk apa sih?” Tanya dokter ken


“ah, ini aira kemarin kasih referensi honeymoon yang dekat Jakarta, aku sedang melihat-lihatnya” balas riska tetap asyik melihat tab miliknya


“kamu gak jadi bulan madu ke perancis? Dulu kan kamu pernah bilang mau kesana saat honeymoon” balas dokter ken


“itu kan dulu mas, sekarang kan posisinya aku sedang hamil, lagian mau pergi jauh-jauh ujungnya kita tetap dalam kamar saja kan?” balas riska datar yang memang tepat sasaran


Dokter ken terkekeh “kau memang tahu saja” balas dokter ken


Riska tersenyum simpul, terbesit pikiran dibenaknya membuat senyum di wajah riska memudar  “nanti kan bukan malam pertama kita? Mas gak masalah kan?” Tanya riska


Dokter ken menyipitkan matanya menatap riska sekilas dan kembali berkonsentrasi dengan jalanan “kok kamu Tanya gitu sih? Aneh deh kamu? Lagian mana mungkin itu malam kita pertama kita? Kita kan sudah sering


melakukannya selama 11 tahun sayang, di tambah kamu juga sedang hamil anakku” balas dokter ken


“yakan kali aja, mas sudah bosen sama aku, karena semua macam gaya kan sudah pernah kita lakukan” balas riska mengerucutkan bibirnya


Dokter ken menepikan mobilnya menatap manik mata riska “fix, emang bener peringatan mama waktu itu” ucap dokter ken yakin


“apa?” Tanya riska bingung


dokter ken mengacak-acak rambut riska gemas “orang hamil itu, hormonnya aneh” ucap dokter ken kembali melajukan mobilnya


Riska mengerucutkan bibirnya “jadi aku aneh?” Tanya riska


dokter ken menghela nafas “bukan kamu yang aneh sayang, tapi kehamilan kamu mempengaruhi cara berpikirmu. Tapi yakinlah akan satu hal "dokter ken meraih tangan Riska menaruh di dadanya "dengar debaran jantungku untukmu"pinta dokter ken


riska merasakan debaran jantung dokter ken dan menatap dokter ken tak percaya "dulu seperti ini, sekarang pun masih seperti ini. cintaku padamu selama 20 tahun makin bertambah banyak bukannya makin memuadar” ucap dokter ken dengan senyum mengembang pada riska


riska langsung memeluk dokter ken erat "I love you" ucap riska


" I love you more" dokter ken mengusap punggung Riska lembut