
***
Viko sedang duduk di sofa balkon apartemennya sembari menyesap kopi hitam menatap hiruk pikuk kota London
“drtttt” viko mengambil ponselnya yang bergetar dan tertera nama mami aira di sana
“ya mih, da apa” ucap viko saat telponnya tersambung
“kau sedang apa nak?” Tanya mami aira
“sedang duduk santai santai saja” balas viko
“bukankah kau sudah mulai liburan nak?” Tanya mami aira
“iya mih” balas viko
“kalau gitu pulanglah walaupun sebentar, mami merindukanmu” ucap mami aira
“kerjaan viko banyak mih” sahut viko
“ayolah viko, kerjaan apa lagi? S3 mu sudah
selesai, dan kau sudah menyelesaikan beberapa tulisan untuk gelar Profesor Mu. Temani lah mami sebentar sayang” pinta mami aira
Viko terdiam sejenak tak mampu menjawab “ayolah nak, jangan biarkan masa lalumu menguasai masa depanmu. Apa kamu hanya mau pulang jika mami sudah tiada” ucap mami aira yang mulai kesal
“jangan bilang seperti itu mih, viko gak suka”
sahut viko
“mamimu memang tak sebanding dengan wanita yang menancapkan lukamu itu” kesal mami aira mengakhiri panggilannya
Viko hanya menghela nafas panjang, menutup mukanya dengan kedua tangannya
“tit tit tit” terdengar suara pin pintu apartemennya berbunyi
Viko tak menanggapi karena ia pikir pasti pekerja yang biasa membersihkan rumahnya yang datang karena viko hanya memberikan akses pintu apartemennya pada petugas kebersihan apartemennya saja
Setelah pintu terbuka seorang wanita berjalan masuk ke dalam apartemen. Wanita tersebut mengernyitkan dahinya melihat pemilik apartemen di rumah, biasanya saat ia membersihkan apartemen dia tidak pernah bertemu dengan sang pemilik
“ah maaf tuan, saya tidak tahu anda di rumah. Saya adalah petugas kebersihan apartemen anda. Saya langsung saja bebersih ya tuan” ucap wanita tersebut memulai pekerjaannya
Viko merasa akrab dengan suara yang barusan ia dengar, viko menoleh, matanya membelalak lebar kala mendapati ara mahasiswinya yang bertugas membersihkan apartemennya “ara” gumam viko yang masih tertangkap indera pendengaran ara
Ara menoleh “pak viko” mata ara membelalak lebar mendapati pemilik apartemen yang selama 5 bulan ini ia jadikan tempat menambah pundi-pundi uangnya adalah milik dosen killer nya
“kau petugas kebersihan apartemenku?” Tanya viko
Ara tersadar dari keterkejutannya dan mengangguk “iya pak, saya bekerja di sini sejak 5 bulan lalu” balas ara
“ya sudah, lanjutkan saja pekerjaanmu” ucap viko
berjalan memasuki kamarnya
“baik pak” balas ara mengangguk
Viko memilih mengistirahatkan tubuhnya yang lelah karena banyak pikiran yang menderanya
Ara membersihkan apartemen viko seperti biasa ke setiap sudut dengan cermat
“ah akhirnya selesai juga” gumam ara melihat apartemen viko yang sudah bersih dan rapih
“masak apa ya” gumam ara berjalan ke arah kulkas untuk memasak. tugas ara memang tidak hanya bebersih tapi juga memasak
pernah ara iseng memasak dan ternyata viko suka dan meminta ara lanjut memasak untuknya
“wah mesin pendingin itu memang paling malas belanja” gumam ara mengambil dompetnya yang terdapat kartu viko yang pernah diberikan atasannya agar
memudahkan ara membeli bahan-bahan yang dibutuhkan pemilik apartemen
“karena dia orang Indonesia, aku belanja bahan masakan Indonesia saja” gumam ara berjalan ke luar apartemen untuk membeli
bahan masakan
Beruntung supermarket berada di gedung sebelah apartemen
viko, sehingga memudahkan ara untuk membeli segala keperluan apartemen viko
Setelah cukup berbelanja ara kembali ke apartemen
viko dan merapihkan bahan masakan di lemari pendingin
“emmm dia sukanya apa ya” gumam ara
“ah mungkin itu” ara teringat obrolan teman-temannya yang sering melihat viko ke restoran masakan Indonesia dan
membeli ikan bakar, sambal terasi dan sop buntut
Ara dengan cekatan memasak masakan yang mungkin
di sukai viko. Walaupun sebenarnya ara tak terlalu suka dosennya yang galak itu
tapi viko tetaplah majikannya bahkan ia mendapat gaji yang cukup banyak dari membersihkan apartemen viko dan dia juga sering mendapat bonus jika memasak
untuk viko
memutuskan bangun dan berjalan ke arah dapur
Viko melihat ara yang sedang memasak sambil bernyanyi, suara ara cukup merdu di indera pendengaran viko
Viko menyandarkan tubuhnya di daun pintu sembari memandangi ara yang sedang bersenandung tanpa sadar bahwa ara sedang di lihat dosennya “lumayan indah suaranya, tak kurang dari eila” gumam viko
Ara menyelesaikan acara memasaknya dan mulai
menata masakannya di piring
“masak apa kau?” Tanya viko menghampiri ara
ara tersenyum ke arah viko “masak ikan bakar, sambal terasi dan sop buntut pak, kalau bapak gak suka ara bisa masak yang lain” balas ara
“kau bisa masak itu?” Tanya viko
“tentu saja, ibuku asli Indonesia jadi aku bisa masak beberapa masakan Indonesia” balas ara
Viko duduk di meja pantry dan mencoba masakan ara
“lumayan” gumam viko menyantap masakan ara
“bapak mau makan sekarang?” Tanya ara
“iya” viko membenarkan posisi duduknya
Ara langsung menghampiri viko “mau ara ambilkan?” Tanya ara
“boleh” balas viko
Ara mengambilkan makan untuk viko dan memberikannya pada viko
“kau sudah makan?” Tanya viko
“belum sempet pak” balas ara
“ya sudah ikut makan saja” ucap viko
" tidak usah pak, ara makan di rumah saja” balas ara
“sudah makan saja, sekalian temani saya makan”
ucap viko
Akhirnya ara ikut makan bersama viko
“terima kasih sudah menyiapkan makan saya selama ini” ucap viko
“ah, iya pak”balas ara tak menyangka akan mendapatkan ucapan terima kasih dari mesin pendingin
Viko tersenyum kecut “apa kau menganggap aku mesin
pendingin seperti teman-temanmu?” Tanya viko menyadari reaksi ara
Ara buru-buru menggeleng walaupun dalam hati ia
membenarkannya tapi bagaimana bisa ia jujur pada viko tentang anggapannya sama
dengan teman-temannya
“aku tak masalah kalian menganggap saya seperti
itu karena memang saya seperti itu” ucap viko
Ara hanya menunduk terus menyuapkan makanan ke
mulutnya
“apa kau begitu membutuhkan uang?” Tanya viko
“iya pak, saya membutuhkan uang yang cukup banyak” balas ara mengingat tanggungan nya yang cukup banyak 5 orang termasuk dirinya
“bagaimana kalau mulai semester depan kau jadi asistenku, aku akan menggajimu dengan cukup banyak” ucap viko
“bapak gak salah nawarin saya?” Tanya ara
“tidak, kau mahasiswa yang cukup pintar dan saya suka hasil tulisanmu” viko meletakkan sendoknya menatap ara ‘bukankah semester depan kau mulai menyusun skripsimu?” Tanya viko
“iya pak, semester depan saya sudah mulai menyusun skripsi saya” sahut ara
“aku juga bisa sekalian membantu memberi masukan skripsimu agar cepat selesai” tambah viko
Ara menatap heran ke arah viko “coba sebutkan apa yang bapak inginkan dari saya, gak mungkin anda tiba-tiba baik ke saya tanpa
alasan” ucap ara
Viko terkekeh “kau memang pintar, gak salah kalau aku mau jadikan kau asistenku” ucap viko
“langsung saja deh pak” kesal ara
“jadilah pacarku” ucap viko