Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Resepsi pernikahan yang tertunda



***


Dylan menunggu aira pulang  di halaman sekolah tempat aira bekerja “abang” sapa aira memeluk suaminya


“sayangku” balas dylan memeluk aira  mengusap punggung aira pelan


“kok abang yang jemput bukannya ferdy?” Tanya aira heran kenapa bukan bodyguard yang di siapkan suaminya yang menjemput aira


“ah dia lagi bantuin abang ngelakuin suatu hal” balas dylan menggandeng aira masuk dalam mobil


Dylan membantu aira memasang sabuk pengaman lalu memakaikan untuk dirinya sendiri “kamu mau makan dulu gak?” Tanya dylan


“enggak ah bang, tadi aira sudah makan banyak di sekolah” balas aira mengusap perutnya yang masih terasa kenyang


dylan menaikkan sebelah alisnya “makan banyak?” Tanya dylan, yang tahu betul aira tak suka jajan dan tak bawa bekal pagi tadi


aira paham kebingungan dylan “oh, itu ibu riska baru dapat rejeki tambahan jadi dia bawain kita semua makanan di


sekolah” balas aira


dylan mengangguk paham “ya sudah kalau kamu sudah makan, berarti kita bisa langsung kebutik” balas dylan melajukan mobilnya


aira menautkan kedua alisnya “ngapain ke butik bang?” Tanya aira


“abang pengen beliin kamu pakaian yang bagus” balas dylan


Aira terkekeh “ngapain juga beliin aira baju bang? Baju aira kan masih banyak, yang belum sama sekali dipakai aja masih banyak” balas aira yang memang memiliki banyak pakaian karena dylan yang sering ingin membelikan aira barang-barang yang ia lihat


“ini beda tahu ra” balas dylan


“beda apanya?” Tanya aira terkekeh


“nanti kamu juga tahu” balas dylan tersenyum


***


Dylan membawa aira ke salah satu butik terkenal di kawasan Jakarta, dylan membukakan pintu mobil untuk aira “ngapain sih bang bawa aira beli baju lagi? aira masih punya banyak baju” ucap aira tak ingin dibelikan baju lagi oleh dylan


“ayo masuk aja” ajak dylan menggandeng tangan aira masuk ke dalam butik


Dylan membawa aira duduk di sofa yang ada di butik kemudian dylan menoleh ke arah pegawai butik yang sudah menyambutnya sejak tadi “mba, pakaiannya sudah siap kan?” Tanya dylan pada pegawai butik


“sudah pak” balas pegawai butik


Pegawai butik tersebut membawa gaun pernikahan yang sudah dipesan dylan sejak lama


"ini gaun untuk acara pernikahan kita" ucap dylan menunjukkan gaun untuk aira


Aira menutup mulutnya dengan kedua tangan, tak percaya dengan gaun dihadapannya  “abang, bagus banget ” aira tersenyum tak percaya dengan gaun yang ada di hadapannya yang begitu indah menurut aira


dylan menggenggam tangan aira “itu sebenarnya sudah abang siapkan dari lama tapi berhubung mami sakit jadi harus tertunda. Dan karena sekarang mami sudah sembuh abang bisa memberikan pesta pernikahan untukmu” ucap dylan mengutarakan rencananya menggelar rencana resepsi pernikahannya  yang sempat tertunda


Dylan mengeratkan genggaman tangannya  “tapi maaf ya ra mungkin abang gak bisa kasih pernikahan yang meriah karena kondisi kamu yang sedang hamil sekarang gak mungkin abang biarin kamu terlalu capek” tambah dylan


“gak papa bang, cukup pesta dengan di hadiri orang terdekat saja itu sudah cukup bagi aira . Aira lebih suka


pernikahan yang santai dan membuat kita bisa berbaur dengan orang-orang dan membagi kebahagiaan dengan lebih nyata” balas aira


“iya, abang sudah siapkan semuanya untukmu “ balas dylan


Dylan dan seluruh keluarga besarnya dan keluarga aira membantu proses persiapan pesta resepsi pernikahan mereka dengan semangat


***


Rumah dylan mulai dihias dengan berbagai ornament khas pernikahan


“bang” panggil aira menghampiri suaminya  “abang sudah kabarin papi gunawan belum?” Tanya aira


“kabarin apa?” Tanya dylan datar


“ya tentang resepsi pernikahan kita lah” balas aira


Aira menghela nafas panjang “ ya sudah biar aira saja yang bicara pada papi” aira langsung berjalan menjauhi dylan untuk menghubungi papi gunawan


“halo pih” sapa aira saat panggilannya tersambung


“iya ra, ada apa tumben sekali kamu telpon papi?” Tanya papi gunawan dari seberang telpon


“papi gimana kabarnya?” Tanya aira


“kabar papi baik, kamu sendiri gimana kabarnya? “ Tanya papi gunawan


“baik pih, gini  pih aira mau ngabarin kalau besok aira sama bang dylan mau ngadain resepsi pernikahan kita  di rumah, papi datang ya” pinta aira


“emangnya boleh papi datang?” Tanya papi gunawan


“tentu saja boleh, masa gak boleh sih pih? kan bang dylan anak papi satu-satunya jadi papi berhak melihat bang dylan merayakan acara pernikahannya” balas aira


“emangnya boleh sama dylan kalau papi datang?” Tanya papi gunawan memastikan


“tadi aira sudah ngomong sama abang kok pih, dia memang gak bilang boleh sama aira tapi dia juga gak ngelarang, jadi jangan khawatirin abang, dia gak mungkin akan marahin aira karena ngundang papi kan” balas aira


“baiklah, papi pasti datang” balas papi gunawan mengakhiri panggilannya


Aira menghampiri dylan “bang tadi aira sudah nelpon papi, katanya dia bakalan datang” ucap aira


“hemmm” balas dylan masih sibuk mengarahkan para pekerja untuk menghias rumahnya


Aira menghela nafas meninggalkan dylan menuju tempat mami Diana berada


“mami” panggil aira pada mami Diana yang sedang sibuk menyicipi aneka makanan yang akan jadi menu hidangan pesta


“iya ra, ada apa?” Tanya mami Diana


“tadi aira nelpon papi buat datang besok, gak papa kan?” Tanya aira


Mami Diana terdiam sesaat “tentu saja gak papa, lagian kan dia papihnya jadi harusnya datang ke acara pernikahan dylan, dylan kan anaknya" balas mami diana


Aira merasa tak enak hati pada mami Diana “maaf ya mih, pasti mami jadi gak nyaman dengan adanya papih” ucap aira


“gak masalah ra” balas mami Diana


***


Aira berjalan beriringan dengan dylan, bergandengan tangan dengan saling melempar senyum ke arah podium yang sudah disiapkan


dylan melirik aira yang terus tersenyum “kamu senang?” Tanya dylan


Aira mengangguk “iya, aira senang bang” balas aira


Aira dan dylan berdiri di atas panggung menghadap para tamu undangan yang sudah datang


“terima kasih sudah datang ke acara resepsi pernikahan kami” ucap dylan melirik aira


“mungkin acaranya terbilang telat, karena kami sudah menikah setahun lalu dan bahkan sedang ada buah hati kami, adik viko disini” ucap dylan mengusap perut aira dan melirik viko yang ada di hadapannya bersama dengan kakek dan neneknya


“tapi walaupun telat, aku ingin memberikan janji pesta pernikahan yang aku janjikan dulu pada istriku” ucap dylan menggandeng tangan aira


dylan menoleh ke samping, menatap mata aira lekat “aku sangat-sangat bahagia bisa jadi suamimu dan ayah dari anak-anak yang kamu lahirkan” ucap dylan


dylan tak mengatakan anak kita karena ada viko di tengah keluarga mereka yang jelas bukan anak kandung viko, tapi tetap anak yang di lahirkan aira


“kau adalah cinta pertama dan terakhirku sayang” dylan mengusap pipinya yang sudah mulai basah


“mungkin kita menikah terbilang telat walaupun pertemuan kita sejak kita masih remaja. Dan mungkin aku juga terlambat menyadari kau adalah takdir dalam hidupku walalupun aku sudah sadar mencintaimu sejak awal kita bertemu” dylan mengusap pipi aira yang juga sudah banjir air mata


“aku mencintaimu Aira Mailans, istriku tercinta” ucap dylan mengecup bibir aira


“aira juga cinta abang” balas aira tersenyum ke arah dylan


Acara prosesi pernikahan dijalankan dengan khidmat dan lancar. Kini tiba saatnya para tamu dan pasangan aira dan dylan bercengkrama dan saling bertukar cerita