
***
“syukur ya mas kalau keadaan bayi kita makin sehat” ucap ara mengusap perutnya yang masih rata
“iya sayang, mas juga bersyukur anak kita baik-baik saja” viko mengusap perut ara dan mengecupnya lembut
“jadi gak sabar pengen lihat anak yang mirip kamu lahir”gumam ara
"emangnya anak kita laki-laki?” Tanya viko
“gak tau sih mas, Cuma ngerasa dia pasti mirip mas saat lahir” kekeh ara
“kenapa kamu bilang gitu?” Tanya viko
“kan mas cinta banget sama ara jadi pasti dia mirip mas, karena buatnya dengan cinta mas yang begitu besar” balas ara
Viko mencubit pangkal hidung ara “bener sih kalau mas cinta banget sama kamu” sahut viko
"viko” panggil seseorang
Viko menoleh ke arah sumber suara “kamu” gumam viko, cukup terkejut dengan kehadiran seseorang yang sama sekali tak di harapkannya
Ara mengeratkan pegangannya di lengan viko dan viko mengusap tangan ara dengan lembut untuk menenangkannya
“kalian sedang apa di sini?’ Tanya revina memaksakan senyumnya walaupun bibirnya terlihat bergetar
“kami sedang memeriksakan kandungan istriku” balas viko mengusap perut ara
revina memaksakan senyumnya “ah ternyata benar kau sudah menikah” balas revina
“iya kami sudah menikah, kamu sedang apa disini?” Tanya ara untuk basa-basi
“anaku sedang sakit dan di rawat disini” balas revina
“apa joff disini juga” Tanya viko mengedarkan pandangannya kesekitar untuk mencari keberadaan
Revina menggelengkan kepalanya membuat alis viko saling bertaut “dia tidak di sini, kami sedang dalam proses percerain jadi aku tak enak menganggunya” balas revina
“kenapa kau mau bercerai?” Tanya ara dengan makin mengeratkan genggamannya di lengan viko
“karena aku masih mencintai pria lain” jawaban revina memang tak menyebut nama tapi matanya jelas mengarah ke arah viko dan itu dapat ara lihat, membuat hatinya tak nyaman
Viko melepas tangannya dan melingkarkan tangannya di pinggang ara “kau harus mengabari joff karena dia ayahnya, sebenci apapun dirinya dan kecewanya padamu dia pasti akan mengutamakan anaknya di atas
segalanya” balas viko meninggalkan revina yang masih diam mematung
Viko terus melangkah dengan melingkarkan tangannya di pinggang ara “mas gak terenyuh dengan ucapan wanita itu?” Tanya ara
“untuk apa?” Tanya viko bingung
“dia bilang masih mencintaimu dan akan bercerai” balas ara
“itu urusan mereka dan bukan urusanku” viko menoleh ke arah ara dan mencubit gemas hidung ara “yang jadi urusanku adalah istri anakkku, sumber kebahagian terbesarku” balas viko
Ara mengusap hidungnya “jangan kebiasaan cubit hidung ara mas, nanti hidung ara lepas” kesal ara
“maaf, mas hanya gemas denganmu” balas viko
“jangan tinggalin ara ya mas, ara sudah terlanjur cinta sam mas, kayanya ara gak akan sanggup kalu sampai kehilangan mas” ucap ara
Viko menghentikan langkahnya menatap ara lekat “siapa yang mau meninggalkan kamu sayang, mas cinta banget sama kamu, mas gak ketemu sehari saja rasanya gak kuat apalagi sampai meninggalkanmu” ucap viko mengecup benda kenyal milik ara tak memeperdulikan mereka masih berada di parkiran dan dapat dilihat orang banyak
***
Hari –hari menuju pemberhentian syakia makin dekat, wanita itu tinggal 5 hari lagi akan berhenti kerja dan terbang ke amerika dan tinggal di sana
“syakia, nih kakak bawain makan buat kamu, pasti kamu gak sempat makan gara-gara” arka melirik pintu askar
“terima kasih banyak ya kak, kakak memang yang terbaik” syakia dan arka saling bercanda di waktu jam istirahatnya
“hahahaha” tawa syakia terdengar sampai ke telinga askar yang sedang makan seorang diri dalam ruangnnya
“ceklek” askar membuka pintu menatap sengit arka dan syakia “kalian gak ada tempat lain apa bercanda kok di kantor” ucap askar
Memangnya kenapa askar? Toh ini jam istirahat bukan jam kerja jadi tak masalah dong” balas arka
Askar menatap tajam asisten kakaknya yang tak kenal rasa takut itu. Ya iyalah seorang arka sudah di kenal baik oleh keluarga viko sejak dulu apa lagi arka berkuliah di tempat yang sama dan tinggal dekat
dengan viko sejak 15 tahun lalu
“kalian berisik, mengganggu saya makan”ketus askar
“maaf pak” syakia menunduk
“mau di bawa kemana tuh cewek?” Tanya askar ketus
“kan katamu berisik, jadi kami menyingkir, akan ku kembalikan saat jam istirahat selesai” balas arka
Syakia hanya diam saja tanpa berucap
Askar kembang kempis dadanya menahan amarah melihat kepergian syakia
Entah kenapa akhir-akhir ini askar selalu kesal dan di buat marah padahal dulu orang yang selalu ia coba hindari sebisa mungkin di bawa pergi orang-orang menjauh darinya tapi kenapa malah membuat askar makin
kesal
“tok tok tok” terdengar suara ketukan pintu
“masuk” seru askar
Syakia membuka pintu dan membawa sebuah tablet lalu menyerahkan pada askar “ini jadwal anda sore ini, nanti bertemu pak Chandra jam 4 dan bertemu pak kevin jam 7 malam” ucap syakia memberitahukan
jadwal askar
Askar mendongak dan menatap tajam syakia “kamu suka banget ya di ajak makan sama asisten sableng itu?” Tanya askar dengan nada kesal
Syakia menyipitkan matanya “kak arka maksud kamu?” Tanya syakia
“iya lah, siapa lagi” balas askar
"iya lah seneng, kan lumayan menghemat waktu karena kak arka kasih makan aku yang enak-enak” balas syakia dengan senyuman
“cih” askar berdecih “digituin aja seneng” ucap askar dengan wajah meremehkan
Syakia memicingkan matanya “jangan-jangan kamu cemburu ya?” Tebak syakia
“apa?” askar jadi gugup sendiri “buat apa aku cemburu sama wanita gak penting kaya kamu” balas askar
“syukur deh kalau gak cemburu, takut nanti kamu kepikiran aku kalau aku sudah mengundurkan diri, minggu depan kan aku sudah terbang ke maerika” ucap syakia dengan senyuman
“gak usah kamu ingetin terus” kesal askar
“yak an detik-detik terakhir usahaku askar, kali aja di detik-detik terakhir kamu jatuh cinta sama aku” ucap syakia
“mimpi kamu!” ucap askar dengan nada tinggi
"gak ada salahnya mimpi, dari pada tak punya mimpi” syakia tersenyum dan meninggalkan ruangan askar
Keluar dari pintu syalkia berkali-kali menarik nafas dalam “sabar syakia, ini sudah berjalan hamper 10 tahun jadi harus terbiasa” gumam syakia menguatkan dirinya
Viko dan askar berjalan berdampingan menuju pintu keluar “kak mobil kakak kemana kok ikut askar?” Tanya askar
“masuk bengkel” balas viko
"asisten kakak kemana?” Tanya askar
“dia ada acara keluarga, jadi kakak gak minta dia antar kakak, lagian kan kita serumah askar, pelit amat sih sama kakak” ucap viko menepuk pundak askar adiknya
“ya Cuma nanya kali kak” balas askar
“tin tin tin” arka membunyikan klakson
“syakia ayo cepet masuk, keburu kemaleman ini” ucap arka
“iya kak” syakia berlari menghampiri arka dan masuk mobilnya, arka bergegas melajukan mobilnya
Dan itu dapat di lihat viko dan askar “ itu asisten kakak bisa antar syakia” tunjuk askar ke arah syakia dan arka
viko melirik sekilas ke arah syakia dan arka “ya kenapa? Toh mereka searah, jadi gak masalah” balas viko cuek
“mereka asik pacar-pacaran gitu malah di bilang acara keluarga “ gerutu askar dengan wajah memberengut
“pacar” gumam viko
“itu mereka selama ini dekat banget, pasti mereka ada hubungan” ucap askar
“kamu cemburu?” Tanya viko
"enggak lah” balas askar
“ya sudah” viko berjalan lebih dulu untuk menutupi tawanya yang ingin meledak, sebenarnya ia tahu betul hubungan seperti apa antara syakia dan arka tapi melihat sikap lucu adiknya membuat viko diam saja
“kakak tunggu” askar berlari mengejar viko yang sudah berjalan lebih dulu