
dylan dikirimi koordinat tempat terakhir aira dibawa razi, oleh kolega kerjanya
dengan susah payah akhirnya dylan dan kawan-kawan sampai di vila tua tempat aira dibawa oleh raziyang terdapat di wilayah terpencil dan di pinggiran kota
" benar ini tempatnya kan? " tanya dylan pada Ferdi untuk memastikan koordinat tempat yang sesuai
"iya tuan benar" balas ferdi mengecek koordinat tempat yang mereka datangi
dylan memberikan instruksi untuk memasuki area vila untuk menyelamatkan aira
"riko dan frans kamu lewat belakang ya, dan dika kamu jaga disini, ferdi kamu lewat atas dan aku akan masuk lewat depan" ucap dylan memberi komando
dylan berhati-hati memasuki vila , dylan mendengar suara perdebatan, ia pun mencari arah suara tersebut
saat ia menemukan arah suara aira, terlihat lah di pintu aira yang tengah menodongkan pecahan gelas ke lehernya
****
"lebih baik aku mati dari pada kau menyentuhku" ucap aira memperdalam pecahan gelas ke lehernya membuat darah dari leher aira makin mengucur
"jangan ra" teriak razi menghampiri aira untuk mencegah aira melukai dirinya
dylan dengan sigap mendorong razi menjauh dengan cukup kuat sampai menghantam lantai
dylan samar-samar melihat darah mengalir dari leher aira. dylan bergegas menahan pecahan gelas dengan tangannya agar aira tak terluka lebih parah dan hal ini malah membuat tangannya ikut terluka
"jangan lukai dirimu sayang, lepaskan" pinta dylan memegang erat pecahan kaca itu agar aira tak terus menancapkan pecahan kaca itu di lehernya
mendengar suara yang sangat ia rindukan aira langsung melepaskan pecahan gelas itu " abang datang" aira langsung memeluk dylan erat
teman-teman dylan yang mendengar suara aira, mengikuti langkah dylan sehingga bisa melihat kejadian itu "apa kita ke sana? tanya frans pada teman yang lain
melihat adegan di depannya membuat mereka ragu untuk mendekat " kita berjaga saja dulu disini, kita akan maju kalau dibutuhkan" balas raka
"ok" balas dino dan ferdi
setelah aira mulai melepaskan genggaman pecahan kaca itu dylan pun langsung membuang pecahan kaca itu ke sembarang arah
razi berusaha bangun "beraninya kau memeluk istriku" teriak razi melihat aira yang memeluk dylan ketika datang
dylan mengabaikan teriakan razi, ia lebih khawatir pada keadaan istrinya " kenapa bajumu seperti ini ra? " tanya dylan
aira hanya menjawab dengan tangisan tanpa berkata apapun "tenang ya ra ada abang di sini untuk melindungi kamu" dylan melepaskan kemejanya dan memakaikan ke tubuh aira yang memakai baju robek akibat perbuatan razi.
melihat keadaan aira membuat amarahnya meluap, ia mengepalkan kuat tagannyam ia pun berbalik menatap tajam razi
dylan memiringkan sedikit kepalanya memicingkan matanya ke arah razi "apa kau bilang tadi? istrimu? hei! dia istriku! " balas dylan berteriak pada razi
" aku tak pernah mengizinkannya untuk bercerai dariku? jadi pernikahan kalian tidak sah" balas razi menghampiri dylan
"kalau menurutmu pernikahan kami tidak sah datang saja ke pengadilan dan gugat kami" ucap dylan
"tapi aku yakin pengadilan akan tetap meluluskan perceraian kalian, karena perceraian itu melewati proses yang sesuai dengan hukum yang berlaku" tambah dylan
"tetap saja dia tidak bisa bersama orang lain tanpa izin ku" balas razi
dylan tersenyum kecut melihat razi yang menurutnya tak punya malu "siapa kau? sampai wanitaku harus meminta izin padamu hah?! " bentak dylan
dylan menghela nafas kasar mencoba mengontrol emosinya "aku saja belum membuat perhitungan padamu saat kau mencoba membunuhnya dan sekarang apa? kau berani membuat dia terluka lagi" tambah dylan melipat tangannya sampai buku-buku tangannya terlihat jelas
"itu karena dia tak mau melayani suaminya sudah sewajarnya aku memberinya pelajaran" balas razi tak merasa bersalah sama sekali
"memang percuma kalau bicara dengan orang gila" dylan langsung menghajar razi dengan brutal dan tanpa ampun
melihat keadaan razi yang sudah cukup babak belur aira pun menghampiri dylan "sudah bang nanti dia bisa mati" ucap aira sambil memeluk dylan dari belakang
"biarkan saja dia mati dia pantas menerimanya" balas dylan masih diliputi amarah dan ingin menghajar razi kembali
teman dylan pun datang membantu mencegah dylan melakukan hal fatal yang dapat merugikannya "walau gimana pun dia ayah viko bang, dan aira gak mau abang mengotori tangan abang untuk membunuhnya" ucap aira mengingatkan tapi dylan masih seperti orang yang kesetanan ingin menghajar razi kembali
frans menampar dylan untuk menyadarkannya " stop dylan liat istri kamu, dia jauh lebih butuh kamu dari pada pria itu" ucap frans mengkode leher aira dengan matanya yang masih mengeluarkan banyak darah dan mulai terlihat pucat
melihat itu dylan mulai tersadar kalau istrinya sedang terluka. dylan langsung menyobek kain sprei yang ada di ranjang untuk menekan luka aira agar darahnya tak terus mengalir
"kita ke rumah sakit ya ra" ajak dylan yang dijawab anggukan kepala oleh aira
dylan menoleh ke arah para sahabatnya yang ikut menemani menyelamatkan aira "tolong urus dia dulu ya, aku akan bawa aira ke rumah sakit untuk mengobati lukanya " ucap dylan pada rekan kerjanya
dylan menekan luka aira agar tak mengeluarkan darah terus sedangkan ferdi yang menyetir mobil untuk membawa mereka ke rumah sakit terdekat
"apa sakit? " tanya dylan meneteskan cairan bening dari matanya
"awalnya sakit, tapi sekarang sudah berkurang" balas aira tersenyum
" kenapa kau malah melukai dirimu ra? " tanya dylan melihat banyaknya darah di tubuh aira membuat hatinya begitu sakit
dengan ragu aira menjawab "dia tadi memintaku melayaninya dan aira gak mau bang, aira coba lawan tapi tenaga aira kalah besar jadi terpaksa aira ambil tindakan nekat" balas aira dengan wajah tertunduk
dylan menghela nafas panjang "lain kali jangan pernah lukai diri kamu lagi ya " pinta dylan
" iya bang" balas aira
" maafin abang ya ra, abang gak bisa jaga kamu dengan baik" ucap dylan sendu
aira meraih tangan suaminya itu "jangan bilang gitu bang, ini bukan kesalahan abang" balas aira menggenggam tangan dylan erat
" tapi ini gak akan terjadi kalau abang selalu menemani kamu dan menjaga kamu" ucap dylan merasa bersalah pada aira karena lagi-lagi aira terluka
aira menghela nafas kasar "jangan salahkan diri abang, abang juga punya tanggung jawab yang lain tidak selalu harus aira yang jadi poin utama. aira tahu betul bagaimana pekerjaan abang dan aira tak masalah jadi jangan pernah salahkan diri abang" ucap aira menenangkan dylan
tak berapa lama mereka sampai di klinik terdekat yang bisa dijangkau, leher aira mendapat jahitan karena lukanya yang cukup lebar dan terus mengeluarkan banyak darah
" apa perlu transfusi darah dok? " tanya dylan setelah leher aira selesai dijahit dan tangan aira sudah dipasang selang infus
"tidak perlu tuan, cukup istirahat dan makan yang banyak saja" balas dokter meninggalkan ruangan tempat aira di rawat
dylan memeluk erat aira seakan takut kehilangannya "tuan saya telfon orang rumah dulu ya biar tidak cemas" ucap ferdi meminta izin pada dylan
"iya, bilang jangan kesini tunggu kami pulang saja, kan tadi mereka bilang cukup habisin satu infus saja " balas dylan
ferdi pun keluar untuk menelfon keluarga besar aira "bang aira gak bisa nafas kalau meluknya kaya gini" keluh aira karena dylan yang memeluk terlalu erat
tersadar dengan kelakuannya dylan melepaskan pelukannya " maaf ya ra, abang cuma takut kamu hilang lagi" balas dylan
aira menarik tubuh dylan mendekat mengecup bibir dylan "aira disini bang" ucap aira tersenyum
dylan pun balas mencium aira cukup lama
dylan dan aira menginap di rumah sakit, karena memang ia yang di haruskan menghabiskan cairan infusnya