
Tak terasa seminggu telah berlalu dengan cepat, prastyo mendarat ke tanah air dengan kondisi lengkap tanpa kurang suatu apapun “drrrttt” ponsel prastyo bergetar
Prastyo pun mengambil ponselnya yang ada di saku celananya dan menjawab panggilan yang sedari tadi tak berheti meminta dirinya untuk menanggapi
“ada apa?” Tanya prastyo
“apa om sudah sampai?” Tanya sita
“sudah berapa kali kau tanyakan hal ini dalam sehari sita?” Tanya prastyo dengan kekehan
“maaf om, sita kan Cuma pengen tahu kapan om sampai, kan om bilang kalau om akan berangkat pulang hari ini, tapi om tyo gak bilang jam berapa landing” balas sita menunduk
“memangnya kalau om pulang, kamu mau apa?” Tanya prastyo melangkahkan kakinya sembari menarik koper di tangan kananya sedangkan tangan kirinya setia menggenggam ponsel miliknya
“ya mau ngajak om makan lah, kan sita sudah janji mau ngajak om makan kalau sudah pulang” balas sita
Kalau di Tanya kenapa mereka seolah sudah sangat akrab padahal baru satu kali bertemu? Itu karena sita yang
selalu rutin menelpon prastyo untuk menanyakan kabar serta kegiatannya selama di jepang dan entah kenapa prastyo tak merasa risih dengan sikap sita, padahal biasnaya dia selalu menjaga jarak dengan orang lain yang tidak ia kenal dengan baik apalagi yang bentuknya perempuan. sita bisa membuat prastyo sering tertawa dana merasa nyaman dengan pertanyaan yang sebenarnya hanya pertanyaan biasa
“kamu gak kuliah?” Tanya prastyo
“eh om lupa ya? perkuliahan sita akan mulai aktif minggu depan jadi sita masih ada waktu santai disini” balas sita
“ini kan akhir pekan? Emang kamu gak menghabiskan waktu bersama keluargamu?” Tanya prastyo
“mommy dan daddy masih di Australia untuk urusan bisnis, mungkin lusa baru pulang” balas sita
“emang kau tak ada keluarga lain?” Tanya prastyo lagi
“ada, tapi kakek lagi kumpul sama sahabat-sahabatnya jadi sita gak mau ganggu” balas sita
“ya sudah besok pagi kita makan, hari ini om lelah sekali ingin istirahat dan melihat keadaan daddy om” ucap prastyo
“ok om” balas sita, seketika sita tersadar “berarti om sudah sampai di Indonesia?” Tanya sita
“sudah, om ingin istirahat dulu sita” balas prastyo
“ok om, istirahat yang nyaman juga tidur yang nyenyak ya” ucap sita mengakhiri panggilannya
Prastyo melirik ponselnya yang sudah mati “ cerewetnya anak ini” gumam prastyo memasukan ponselnya kedalam saku
Prastyo berjalan ke arah parkiran bandara yang sudah terparkir mobil kesayangannya di bandara. Kebetulan sang kakak memiliki maskapai penerbangan yang cukup besar membuat dirinya bisa dengan mudah memarkirkan mobilnya walaupun sampai seminggu tanpa memikirkan berapa uang yang akan ia keluarkan untuk membayar biaya parkir
Prastyo melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah dady Nicole untuk melihat keadaan daddynya. Sampai di depan rumahnya prastyo berjalan memasuki rumahnya sambil membawa koper miliknya
“pagi tuan muda” sapa bi inah pembantu di rumah orang tuanya
“pagi bi” prastyo menyerahkan koper miliknya pada bi inah “ bi taro kamar ya, saya mau lihat daddy dulu” ucap
prastyo
“tuan besar ada di taman belakang tuan” ucap bi inah
“makasih ya bi, saya akan lihat daddy dulu ke sana” prastyo berjalan ke arah taman belakang untuk mengecek
keadaan daddynya
“daddy” panggil prastyo memeluk daddy Nicole yang sedang duduk di kursi taman
“kau sudah pulang nak?” Tanya daddy Nicole
“iya, barusan aku sampai” balas prastyo
“daddy sudah makan?” Tanya prastyo
Daddy Nicole menggeleng “belum” balas daddy Nicole
Prastyo menaikkan sebelah alisnya “emangnya istri daddy tidak meminta daddy sarapan? ini kan sudah lewat jam sarapan dad” Tanya prastyo
“dia pergi dari kemarin, belum pulang” balas daddy Nicole
Prastyo menghela nafas “ya sudah ayo makan” ajak prastyo mendorong daddy Nicole ke dalam rumah
Prastyo mendorong kursi roda ayahnya ke meja makan “daddy mau makan apa? Biar tyo ambilin ya” Tanya prastyo
“apa saja, gak masalah” balas daddy Nicole
Prastyo dengan telaten mengambilkan makan untuk daddynya dan menyuapi makan daddy Nicole “ makan yang
banyak ya dad” pinta tyo
“iya” daddy Nicole tersenyum bahagia karena setidaknya dia merasa tidak sendiri, ada anak yang begitu peduli
padanya walaupun dia tak punya kerabat dekat bahkan istrinya saja tak pernah mengurusnya sama sekali semenjak dirinya sakit
Prastyo melihat pipi daddy Nicole yang sudah basah dan menghapusnya perlahan “jangan kebiasaan nangis kaya gini dad” pinta prastyo
“daddy hanya bahagia di pedulikan anak daddy”balas daddy Nicole
“biar gimanapun kan daddy adalah orang tua kandung tyo jadi wajar kalau tyo peduli sama daddy” balas prastyo
“terima kasih ya nak, tak membedakan daddy dengan mama kamu” ucap daddy dengan tulus
Prastyo mengangguk “iya daddy” balas prastyo
Setelah menyuapi daddy Nicole makan, prastyo mengantar daddy Nicole ke kamar sedangkan ia membersihkan diri dan memilih istirahat karena badannya yang cukup lelah
“eugggghhh” prastyo menggeliat merasakan tubuhnya yang agak kaku karena tertidur terlalu lama
Prastyo melirik jam dinding yang menunjukkan pukul 11 malam “ wah tidurku cukup lama ternyata” gumam prastyo yang memang tertidur sejak jam 11 siang tadi
“prankkkk!” terdengar suara pecahan kaca yang memekikkan telinga
Prastyo bergegas keluar kamarnya untuk mengecek apa yang terjadi pada jam seperti ini
“aku benci kehidupan seperti ini!” teriak lyra Demeter membanting vas bunga yang ada di dekatnya ke arah daddy Nicole
“lalu apa yang kau mau?” Tanya daddy Nicole dengan wajah sendu
“aku ingin bercerai dan setengah hartamu” ucap lyra dengan lantang
“tidak bisa lyra, harta itu sudah aku limpahkan pada putraku dan itu sudah jadi hak anaku” balas daddy Nicole
“lagi, lagi dan lagi alasan itu yang kau berikan padaku!” teriak lyra kembali melempar guci yang ada di
dekatnya ke arah daddy Nicole
"bukankah sudah ada beberapa tanah yang sudah aku berikan padamu saat kita menikah, dan aku juga memberikan salah satu perusahaanku untukmu" sahut daddy nicole
"itu gak cukup!" teriak lyra melempar kembali vas yang masih ada di dekatnya
prastyo bigitu geram melihat ayahnya dilempari pecahan vas walaupun tak sampai mengenai daddy nicole “stop!” prastyo berjalan dengan wajah merah padam menahan amarah, ia menggeser pecahan kaca dengan kakinya dengan kasar tak perduli pecahan guci yang menggores kakinya
Lyra menatap kesal anak sambungnya “jangan ikut campur kau!” teriak lyra kesal
“tentu aku ikut campur, karena kau berani menyakiti daddyku” bentak prastyo
“aku hanya mau cerai darinya tapi dia tak mau menurutiku, aku sudah muak hidup dengan pria gak berguna macam dia!” teriak lyra
Prastyo menatap tajam ke arah lyra “kalau kau mau cerai, ya sudah aku akan mengurus percerai kalian, aku juga sudah gak sudih tinggal serumah dengan wanita lintah penghisap darah macam kau!” ucap prastyo
menunjuk-nunjuk wajah lyra
“tapi nak” daddy Nicole menarik-narik celana prastyo
Mata prastyo memicing ke arah daddy Nicole “daddy masih mau mempertahankan wanita ular berkepala dua macam dia!” kesal prastyo
“bukan seperti itu nak, dia minta setengah harta ayah untuk proses perceraian, jadi bagaimana mungkin daddy
mengambil harta yang sudah daddy limpahkan padamu” balas daddy Nicole tak mengambil apa yang sudah ia berikan pada anaknya
“apa?” prastyo mengerutkan keningnya menatap daddy Nicole
Prastyo menoleh ke arah lyra “atas dasar apa kau meminta sebagian harta daddy?” Tanya prastyo
“aku sudah menjadi istrinya selama 20 tahun “sahut lyra
“cih” prastyo berdecih ke arah lyra “selama 20 tahun pernikahan kalian apa yang kau berikan pada daddyku
selain tubuh kotormu itu?” Tanya prastyo dengan tatapan menghina
“berani sekali kau menghinaku!” bentak lyra
Prastyo menatap tajam ke arah lyra “harusnya kau sangat sadar dengan ucapanku, bahwa daddy hanya mendapatkan tubuh kotor darimu!” prastyo menunjuk lyra “ jangan kira aku tak tahu berapa banyak laki-laki muda yang kau tiduri di luar sana dengan menggunakan uang daddy” prastyo tersenyum kecut ke arah lyra
“dan kau minta cerai karena semua keuangan dikendalikan olehku sekarang, dan semua aset di pegang kakakku, sehingga kau tak bisa mengusiknya kan? Makanya kau menuntut perceraian agar harta gono ginimu bisa keluar” ucap prastyo dengan nada mengejek
“tapi yang harus kau tahu bahwa daddy sudah lama bangkrut karena dirimu yang keliwat berhura-hura, perusahaan itu masih berdiri karena bantuan ayahku, makanya kakakku bisa dengan mudah mengatur aset-aset milik daddy” prastyo melipat tangannya sebatas pinggang “ dan silahkan tuntut harta gono-gini semaumu karena daddy ku memang tak memiliki apa-apa. uang yang masih bisa kau pakai di kartumu itu saat ini hanya belas kasihan dariku terhadapmu yang 20 tahun menjadi istri daddyku” seru prastyo
“cih” lyra berjalan memasuki kamarnya dan mengambil kopernya dan meninggalkan rumah prastyo
Prastyo menoleh daddy Nicole “daddy tak apa?” Tanya prastyo
“gak papa nak” balas daddy Nicole
Daddy Nicole menggenggam tangan prastyo “apa benar kalau daddy sudah lama bangkrut?” Tanya daddy Nicole yang memang tak mengetahui bahwa dirinya bangkrut karena prastyo sengaja menutupi dari daddy nicole
Prastyo mengangguk “iya dad, sebenarnya perusahaan daddy sudah pailit sejak 7 tahun lalu, tapi ayah bantu
aku dengan memberikan dukungan dana, aku juga memindahkan aset atas nama kakak
untuk menjaga harta kita yang tersisa agar tak terus di jual wanita itu” ucap prastyo
mata daddy nicole berkaca-kaca “kenapa kau hanya diam saja? Kau bukan orang yang seperti ini?” Tanya daddy Nicole tak menyangka bahwa prastyo mendiamkan kelakuan lyra karena daddy tahu betul bagaimana sifat anaknya dulu dan bagaimana bengisnya dia, yang memiliki kesamaan dengan dirinya sewaktu muda
“karena dia istri daddy, aku gak ingin daddy sedih” balas prastyo mengenggam erat tangan daddy nicole "tapi berhubung dia yang ingin pisah dari daddy maka akan tyo buat itu jadi kenyataan" tambah prastyo
“terima kasih nak” daddy memeluk erat prastyo dan menangis dalam pelukan prastyo. beruntungnya dia di kondisi dirinya yang sudah tak lagi muda dan sakit-sakitan anaknya berubaha jadi lebih baik dan menyayangi dirinya