Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Jangan jadikan masa lalu penghambat masa depan (season 2)



***


Viko menemani ara ke sebuah butik ternama di Jakarta “baju yang di belikan tante saja masih banyak, ngapain juga beli lagi” ucap ara sedikit berbisik pada viko


“ini untuk acara pesta perusahaan, gak mungkin kekasih seorang viko pakai pakaian biasa doang” balas viko


Viko  melambaikan tangannya ke arah pegawai butik “ambilkan pakaian yang sudah dipesan atas nama keluarga Mahardika”pinta Viko


“baik tuan” pegawai toko langsung membawakan pakaian yang di minta viko


Viko berjalan melihat setiap pakaian, ia melirik pakaian sambil sesekali melirik ara sekedar memastikan cocok atau tidak di pakai ara “kamu coba yang toska dan merah itu” pinta viko menunjuk gaun panjang dan mini dress


“ah, iya” ara langsung mengambil gaun tersebut dan mencobanya


Ara berjalan ke arah viko dengan memakai gaun berwarna merah “gimana mas?” Tanya ara


Viko terpukau dengan kecantikan ara “bagus” gumam viko melihat gaun yang menunjukkan lekuk tubuh ara dan membuat ara terlihat dewasa dan begitu memukau


“ya sudah ambil saja yang ini” ucap ara senang dengan tanggapan viko


viko memang menyukai gaun itu tapi ada rasa tak rela jika ada yang melihat kecantikan ara selain dirinya “kamu belum coba yang toska” sahut viko menunjuk gaun yang masih di pegang pegawai butik


“kan katanya sudah bagus” ucap ara mengerucutkan bibirnya


viko menatap tajam ara “coba saja” pinta viko dengan nada tegas


ara mencebikkan bibirnya "iya" ara berjalan dengan menghentikan kakinya saking kesalnya dengan ulah viko


Ara kembali mencoba gaun berwarna toska dengan


panjang di bawah lutut dan atasan berlengan pendek, ara menunjukkannya lagi pada viko "gimana? " ketus ara


viko tersenyum puas “itu cocok” gumam viko


Viko menoleh ke arah pegawai butik“ bungkuskan


keduanya” pinta viko


“ia pak” balas pegawai butik mengangguk dan mengerjakan perintah viko


Ara kembali berganti pakaian dengan pakaian yang


tadi ia pakai. Selepas mengambil pakaian viko membawa ara ke mall untuk membeli sepatu dan tas yang sesuai untuk pakaiannya tak lupa viko membelikan kalung


untuk menunjang penampilan ara


Ara melirik bagian belakang mobil viko “apa gak kebanyak anda beli untuk ara?” Tanya ara merasa terlalu banyak di belikan barang oleh dosen sekaligus kekasih palsunya itu


“tidak” balas viko


“oh ya pak, kita disini berapa lama lagi, ini sudah 2 minggu loh saya di Indonesia” ucap ara ingin memastikan seberapa lama ia tinggal di Indonesia


“kenapa emangnya, kita kan masih libur semester apa kau tak suka di sini?” tanya viko


“gak gitu pak, saya suka di sini. saya cuma kangen sama ayah saja” balas ara


“jangan khawatirkan ayah kamu, bukannya ayah kamu sehat?" viko melirik ara sekilas " bukankah kau masih sering berbincang dengan ayahmu" tanya viko


"masih sih pak" balas ara


"jangan khawatirkan ayah kamu, dia di tangani dengan baik dan setelah urusan di sini beres kita akan balik ke Inggris” balas viko


“oke” balas ara


Ara makin dekat dengan keluarga viko karena memang ara adalah pribadi yang supel dan mudah bergaul sehingga ara tidak


kesulitan mengakrabkan diri dengan keluarga besar viko, bahkan semua keluarga besar


viko sudah mengenalnya termasuk keluar mailans pihak dari mami aira


“jangan lari-lari zifana, nanti kakak di marahin tante zaskia kalau kamu sampai jatuh” ucap ara menasehati gadis kecil berusia 8 tahun itu


“hehehe, maaf kak zifana terlalu senang bertemu kakak sih” sahut zifana yang langsung akrab dengan ara ketika bertemu


“kakak lagi bikin apa?” Tanya zifana


“bikin pudding buat kamu, jus melon untuk Alfaro, chess cake buat askar dan eila terus masih banyak deh” ucap ara melirik masakan yang ia buat untuk orang-orang yang akan hadir di kediaman Mahardika


“wah hebat” zifana mengacungkan kedua jempolnya pada ara saking takjubnya karena ara memasak seorang diri tanpa bantuan orang lain


mami aira menghampiri ara


“ara, mandi dulu sana biar bibi nanti yang beresin itu semua dan bawa ke meja tempat berkumpul semua orang” pinta mami aira


“iya tan” ara bergegas naik ke lantai atas menuju kamarnya untuk membersihkan diri


“kamu senang ya dapat mantu model ara?” Tanya uncle prastyo merangkul pundak mami aira


“tentu saja, 2 minggu saja dia di sini, sudah bawa banyak kebahagiaan untuk keluarga aira” mami aira melirik viko yang sedang


berdebat dengan kedua adiknya, Alfaro dan zifana serta rafa dan jeni juga ada di sana “dia benar-benar membuat putraku bisa kembali tersenyum” ucap mami aira tersenyum bahagia


“iya ra, kakak juga gak nyangka mereka semua bisa dekat dengan ara, kamu tau sendiri seberapa susahnya ngumpulin mereka semua, alasannya sibuk tapi giliran ara yang minta langsung datang semua” sahut uncle prastyo dengan kekehan


Uncle prastyo dan mami aira berjalan ke arah taman menghampiri anak-anak yang tengah sibuk berdebat “ ribut apa sih?” Tanya mami aira


“itu tante, masa kak viko gak izinin jeni ajakin kak ara jalan-jalan ke puncak” adu jeni pada mami aira


“gak ada ceritanya main bawa-bawa ara. Kalau mau


pergi ya pergi sendiri” sahut viko masih tak mau kalah berdebat


“ya ampun kak, Cuma bentar doang kali, sekalian biar jeni ada temen” sahut rafa membela adiknya


Viko menatap tajam rafa “alah, bilang aja kamu malas nemenin adikmu makanya jadikan ara jadi temen jeni” kesal viko


“sudah-sudah, percuma juga kalian kekeh ngeyel sama kak viko. mau debat kaya gimanapun gak akan rela kak viko gak lihat ara walaupun Cuma semenit ”kekeh askar


“sudah kelewat bucin nih” ledek eila


candaan yang Membuat gelak tawa terdengar di antara para


keluarga yang sedang berkumpul, walaupun viko hanya menunjukkan tampang kesalnya


“ngomong-ngomong kapan kamu mau nikahin ara viko?” Tanya tante riska


“iya, keburu di ambil orang loh” sahut dokter ken


“iya viko cepetan ajakin dia nikah” ucap aunty sita


“dia belum nyelesaiin kuliahnya” balas viko


“bukannya kamu sudah periksa skripsinya dan gak ada masalah, berarti kalau sudah di ajuin kan cepat selesainya” sahut mami aira


“nanti aku bicarain sama dia mih” balas viko ingin menyudahi pembicaraan tentang pernikahan


"jangan karena masa lalu membuatmu takut untuk menatap masa depan viko . Dia dan ara berbeda nak” nasehat mami aira


Viko hanya terdiam saja tak menjawab ucapan maminya


Ara yang tak sengaja mendengar itu hanya menghela nafas panjang di balik pintu tak jauh dari taman belakang.


ara melangkahkan kaki mendekat ke arah keluarga serta kerabat viko “wah sudah kumpul semua toh” ucap ara dengan senyum mengembang


“iya kak, tinggal tunggu kakak saja” sahut zifana


Semua orang saling bercanda dengan ara sebagai pusatnya membuat tawa renyah keluar mengalir begitu saja