
***
Sita menggandeng lengan lina
mamanya memasuki gedung pesta dan berjalan di belakang david, mengikuti langkah kepala keluarga mereka memasuki aula pesta
“pestanya besar ya mom?” Tanya
sita memindai kondisi pesta yang cukup ramai
“tentu saja besar, perusahaan
daddy kamu kan cukup besar sayang” lina mengusap lengan sita “harusnya kamu sering ikut acara seperti ini agar kamu tak asing lagi, semua ini kan jadi milik kamu nantinya” tambah lina
“iya mom” balas sita
Sita dikenalkan sebagai anak
david dan penerus perusahaan wiraatmadja di hadapan para mitra bisnis david
“dad, sita ke toilet ya” ucap sita
“ya sudah biar mommy kamu yang
nemenin ya” balas david
“ya ampun dad, di sini banyak
orang kali gak usah lebay” sita melangkah meninggalkan orang tuanya yang menatap cemas sita
“ih anak itu” david berusaha
mengejar sita tapi di cegah lina
“biarin saja dad, sita kan Cuma
mau ke toilet bukan mau ke medan perang” ucap lina menahan tangan david suaminya agar tidak mengejar sita
“tapi sayang” david tetap saja
khawatir membiarkan sita seorang diri
rino yang melihat obrolan orang menjadi tuan rumah pesta yang di hadirinya, datang menghampiri “ya ampun kak, masih saja kamu
parno kelewatan sama anak gadis kamu itu” ucap rino menggelengkan kepalanya
david menatap tajam Rino “kamu gak tahu saja kalau tyo
juga di sini, dia diundang juga” balas david
“ya biarin saja mereka ketemu
kak” david makin memberikan tatapan tajam pada rino
“anak kamu gak akan di bawa kabur tyo kak, kamu harusnya lihat seberapa besar usahanya mendekati sita tanpa
melanggar permintaanmu untuk tidak bertemu dengan sita di belakangmu” rino menghela nafas
“dan kau lihat seberapa besar pengaruh besar perusahaan di bawah pimpinannya, sampai kau tak bisa jika tak mengundangnya ke pesta perusahaanmu” ucap rino meninggalkan david
yang masih mode kesal
lina terus mengusap lengan david “sudah lah dad berikan sita
kebahagiaan sebentar dengan bertemu dengan tyo mereka sudah 3 bulan tidak bertemu loh dad” ucap lina
David menghela nafas “baiklah, untuk kali ini saja” david bergegas menyapa tamu-tamunya yang lain
***
Sita membasuh tangannya dan
berdiri di depan cermin memoles lipstik dan memakai riasan tipis karena sudah agak luntur
Sita keluar toilet, berjalan menuju pesta dengan langkah malas “seeetttttt” tangan sita di tarik dan membuatnya bertabrakan
dengan tubuh tegap seorang pria
“apa sih” kesal sita mendongak
“om tyo” sita langsung memeluk erat orang yang sangat ia rindukan beberapa bulan ini
“sita kangen” ucap sita yang
mulai terisak
“om juga kangen kamu” balas
prastyo mengeratkan pelukannya
Sita melonggarkan pelukannya
menatap prastyo “om dari mana saja, sita kira om gak datang” Tanya sita dengan terisak
Prastyo menghapus jejak air mata
kekasihnya “om ada di dekat kamu, om gak ingin buat daddy kamu kesal jadi om cari waktu yang tepat buat ketemu kamu” balas prastyo
“kita ngobrol di tempat lain ya”
ajak prastyo membawa sita ke balkon yang ada di atap gedung
“kamu kurus banget sayang?” Tanya prastyo yang melihat sita turun banyak bobot tubuhnya
“itu karena sita merindukan om
jadi tak enak makan” sita melirik penampilan prastyo “tapi kayanya om gak pengaruh sama sekali gak ketemu sita, om kelihatan baik-baik saja” balas sita mencebikkan bibirnya
“kata siapa om baik-baik saja?”
om juga sedih gak bisa ketemu kamu sayang, tapi om juga harus tetap kuat agar tetap bisa memperjuangkan restu dari daddy kamu” balas prastyo mencubit hidung sita
“perjuangan gimana? Sita gak
pernah lihat om ketemu daddy?” Tanya sita kesal
“kamu pikir kenapa om bisa datang
ke pesta padahal daddy kamu gak suka kita di tempat yang sama?” Tanya prastyo
“kenapa?” Tanya sita
“selama kita jauhan om kerja
kamu jadi mau gak mau daddy dan om punya kesempatan bertemu dan daddy kamu gak
bisa menolak” balas prastyo penuh kebanggaan atas usahanya sejauh ini
Sita mengeratkan pelukannya
“kenapa ujian cinta kita berat banget sih om?” Tanya sita kembali memeluk prastyo
“itu tandanya tuhan memberikan
peringatan buat om untuk lebih berusaha dalam mendapatkan cinta, karena saat kita mendapatkan sesuatu dengan usaha yang lebih maka hal itu akan lebih kuat untuk coba kita pertahankan sayang” balas
prastyo mengecup kening sita
“iya om, kita harus sama-sama
kuat ya” pinta sita
“tentu saja sayang” balas prastyo
Cukup lama prastyo dan sita
bertukar cerita dan saling bercanda tawa karena hal-hal kecil tapi begitu membahagiakan untuk mereka berdua
“sudah malam sayang, kita turun
ya” pinta prastyo
Sita kembali memeluk prastyo
“tapi masih kangen” rengek sita
“setelah kita menikah nanti om
akan lebih banyak meluangkan waktu untukmu” balas prastyo mengusap kepala sita
“nikahnya aja gak tahu kapan om”
kesal sita
“ya berdoa saja kita cepat dapat
restu, biar langsung menikah” balas prastyo
Prastyo mengantarkan sita sampai
tempat acara menghampiri kedua orang tua sita
“ya ampun sita, kamu dari mana
saja? Mommy cari kamu dari tadi loh?” Tanya david
“cari angin" balas sita
“oh ya sita, kenalin ini Chandra
anak teman daddy” ucap david memperkenalkan Chandra Permana yang kebetulan sedang mengobrol dengan David saat sita datang
“sita” ucap sita menjabat tangan
Chandra
“Chandra permana” balas Chandra
“dad sita capek mau pulang, kalau
kalian masih lama lanjutin saja sita mau pulang” ucap sita yang ingin cepat pulang ke rumah karena sudah bertemu prastyo
“ya sudah di antar Chandra saja”
tawar david
“dad!” bentak sita lantang
menimbulkan pandangan semua orang ke arah mereka
“sita capek mau pulang” kesal
sita bergegas pergi meninggalkan David dan lina
“kejar sana chan” pinta david
Chandra pun mengejar sita sesuai
permintaan david
Lina menatap tajam david “kalau
sampai anak kamu nekat jangan nyesal kamu dad” kesal lina yang bergegas meninggalkan david karena tak suka dengan cara David untuk menjauhkan sita dan prastyo
Chandra terus mengejar sita yang
berjalan dengan cepat “sita tunggu” panggil Chandra tapi tak dihiraukan sita sama sekali
Chandra berusaha keras mengejar
sita dan menarik tangan sita “kamu kenapa sih cepet banget jalannya?” Tanya Chandra
Sita melepas genggaman Chandra
dengan kasar “aku capek, mau pulang” ketus sita
“ya sudah aku antar saja” pinta
Chandra
“tak perlu aku ada sopir” sita
kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Chandra
Chandra menatap punggung sita yang makin menjauh “hemmm menarik” gumam Chandra
Tatapan mata Chandra tak luput
dari mata prastyo “laki-laki itu tak tahu akan berhadapan dengan siapa rupanya” gumam prastyo
Prastyo tentu paham dengan
tatapan mendamba dari Chandra pada kekasih hatinya, tapi Chandra sudah salah memilih rawan rupanya, tentu prastyo akan menjaga apa yang jadi miliknya