Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
aku akan selalu menjagamu



aira gemetar ketakutan menggenggam tangan viko seolah meminta kekuatan


razi berjalan dengan langkah gontai menuju aira dan viko " kenapa wajahmu bisa berubah ra? "  razi mengamati lekat wajah aira yang berubah jauh dari wajah aira dulu


aira makin mundur melihat razi yang makin mendekat, aira tentu ketakutan. pasti rasa trauma akibat pria itu masih ada mengingat bagaimana luka yang ernah di berikan razi. aira pasti kembali megingat bagaimana ia memohon untuk berhenti tapi malah suaminya makain tertawa kencang melihat dirinya kesakitan dan berdarah


"stop! berhenti di sana! jangan berani mendekat! " teriak viko lantang


hal itu membuat orang yang masih ada di sekolah memandang ke arah viko dan aira


razi menatap tak percaya pada viko yang berani membentaknya "ini ayah kamu viko. kenapa kamu membentak ayah" balas razi tak kalah lantang


"kamu bukan ayahku! " balas viko


aira mulai pucat dan mengeluarkan keringat dingin, melihat itu semua viko menggenggam erat tangan aira yang mulai kedinginan


" aku ini suami mami mu yang berarti aku masih ayahmu! " bentak razi lantang


"sadar tuan razi anda dan mamiku sudah bercerai" balas viko mengutarakan apa yang ia tahu perihal hubungan kedua orang tuanya


"apa maksudmu?!" teriak razi yang mulai emosi mencoba menghampiri viko tapi di tahan satpam sekolah


"tenang tuan jangan mengganggu ibu aira atau akan saya laporkan pada suaminya" ucap satpam sekolah mengingatkan


razi menautkan kedua alisnya menatap satpam sekolah aira "saya suaminya, jadi pada siapa anda mau melaporkan hah?!" balas razi kesal


"maaf mungkin ada sedang berhalusinasi karena setau saya suami ibu aira adalah pak dylan bukan anda " balas pak satpam yang memang tidak mengenali razi sama sekali karena razi emmang tak pernah datang kesekolah aira ataupun sekedar menyapa orang yang bekerja di sekolah yang sama di tempat aira bekerja


" bagaimana mungkin dia menikah lagi saat aku masih jadi suaminya! " teriak razi mendorong satpam sampai terjerembab ke tanah


razi menghampiri aira menarik tangannya kasar " apa maksud semua ini hah?!" teriak razi ke aira yang mulai tersulut emosinya mendengar aira menikah lagi padahal yang razi tahu aira masih lah istrinya


"hahhhh!!!" aira berteriak histeris saat razi mencengkeram tangannya


viko yang melihat aira ketakutan mendorong razi sekuat tenaga " jangan ganggu mamiku! " teriak viko berusaha berani untuk melindungi maminya


"diam kau anak kurang ajar, ini bukan urusanmu!" bentak razi lalu mendorong viko dengan kasar


dylan yang baru datang melihat adanya kerumunan langsung berlari dan melihat viko yang sedang  di dorong lalu dengan sigap menangkapnya yang hampir saja menabrak pembatas jalan


" kamu gak papa kan nak? " tanya dylan mengamati setiap inci tubuh viko


"gak papa pi, mending papi tolong mami, mami sudah ketakutan" balas viko menunjuk aira yang terus ditanyai razi tapi hanya menangis ketakutan


banyak orang yang ada di sana tapi tak ada yang berani melerai karena mereka tak begitu mengenal razi maupun aira


aira bergumam " pergi pergi pergi! " tapi razi tak menggubris nya sama sekali


"jelaskan padaku sekarang, bagaimana kau bisa menikah lagi saat aku masih jadi suamimu! " bentak razi


melihat keadaan aira yang begitu menyedihkan dylan mengepalkan tangannya erat karena geram


" tutup mata dan telingamu viko" ucap dylan dan viko langsung menurutinya


dylan berlari menuju razi langsung menendang tubuhnya sehingga tubuh razi terpental jauh " jangan pernah ganggu istriku! " bentak dylan menatap tajam razi


razi bangun mengusap bajunya yang kotor karena jatuh ke tanah "siapa kau? berani sekali kau memukul ku! " teriak razi lantang pada dylan


"aku suaminya! " balas dylan menunjuk aira


razi menatap tak percaya arah tangan dylan " heh jangan mimpi kau! dia itu istriku" balas razi tak terima ada yang mengaku-ngaku sebagai suami aira padahal razi adalah suaminya


wajah dylan merah padam, mengeratkan rahang ya kuat karena kesal pada mantan suami aira yang benar-benar tak tahu diri " harusnya kamu yang jangan mimpi! aku menikah dengannya sah secara agama dan hukum itu artinya kalian pasti sudah bercerai sebelum kami menikah" balas dylan lantang


razi tampak mengingat - ingat pernah melihat surat akta cerai dirinya dan aira, tapi dulu saat bertanya ibunya bilang itu surat yang dibutuhkan untuk mengurus surat kematian aira tapi razi berusaha menampiknya


"perceraian itu tidak sah karena aku tidak menyetujuinya" balas razi kesal


" perceraian itu sah di mata hukum karena kau pernah mencoba membunuhnya dan kau gila! " teriak dylan yang sudah tersulut emosi


" aku tidak gila! " balas razi tambah kesal


dylan memegang aira " kamu lihat baik-baik wajah aira, berapa kali dia harus menjalani operasi karena mu! dan  berapa kali dia harus menahan sakit di meja operasi hah! " teriak dylan


razi mengamati lamat-lamat wajah aira yang memang berubah banyak dari dulu "itu.... itu.... itu... karena" razi tak mampu menjawab apapun ucap dylan karena memang ia tahu karena dirinya lah aira bisa terluka


"dengar ya tuan razi rafasta sekarang aira mailans adalah istriku dan viko mahardika dalah anakku jadi jangan pernah datang mengganggu mereka atau aku akan buat kau tinggal di rumah sakit jiwa selamanya" bentak dylan  menatap nyalang razi


dylan menatap khawatir dengan keadaan aira yang kacau "aira" panggil dylan


"pergi pergi pergi" teriak aira ketakutan memukul tubuh dylan


dylan memeluk aira erat" ini abang ra suami kamu tenang ya" ucap dylan mengelus punggung aira


aira mulai tenang mendengar suara dylan" aira takut bang" balas aira memeluk dylan erat


dan itu tak luput dari pandangan razi membuat hatinya serasa tersayat


" viko" panggil dylan


" bawa mami ke mobil ya" pinta dylan


dylan membungkuk kepada orang-orang yang ada di sekitar dan melihat kejadian ini " saya mohon maaf pada semuanya atas hal ini, istriku baik-baik saja, dia hanya ketakutan karena orang ini" tunjuk dylan pada razi


"jadi saya mohon jangan permasalahkan istri saya saat mengajar, saya akan membuat istri saya tenang dan bisa mengajar dengan baik nanti. jadi saya akan membuatnya istirahat tanpa mengganggu anak-anak belajar" tambah dylan membungkuk pada semua orang yang kebanyakan adalah orang tua murid di sekolahan aira


" iya Pak, kami paham keadaan bu aira pasti dia takut, biarin beliau istirahat saja" balas orang-orang yang ada situ


dylan menghampiri pak arfan " pak saya minta izin aira untuk beberapa waktu tapi tenang saja pak, nanti kenalan saya yang mengajar bimbingan di bintang belajar akan menggantikan aira untuk sementara" ucap dylan


" iya Pak gak masalah, biarkan aira tenang baru kembali mengajar" balas pak arfan


dylan langsung menuju mobilnya, dimana aira yang langsung memeluk dylan


"kita pulang ya" ucap dylan


" iya" balas aira mengangguk dan memeluk dylan erat


" terus gimana abang nyetirnya kalau kamu kaya gini ra" ucap dylan


"ya nyetir aja" balas aira


melihat kondisi aira yang seperti ini akhirnya ia memutuskan untuk pulang ke rumah orang tua aira yang jaraknya jauh lebih dekat


aira masih memeluk dylan erat saat memasuki rumah dengan wajah ketakutan


"aira kenapa? " tanya ibu mardiana bingung melihat aira yang menempel dylan erat tanpa mau melepasnya padahal dylan sudah kesulitan berjalan karena ulah aira


" nanti ya bu jelasinnya, dylan bikin aira tidur dulu" balas dylan masuk ke kamar aira


viko menghampiri neneknya untuk menjelaskan "itu tadi ada ayah razi datang makanya mami ketakutan" ucap viko


ibu mardiana membekap mulutnya " dia datang? " tanya ibu mardiana


" iya " balas viko mengangguk


" ya ampun kasihan banget mami mu, baru berapa lama dia bahagia ada papi mu malah ketemu ayahmu lagi" ucap Ibu mardiana merasa kasihan dengan aira


" makanya viko benci banget sama dia" balas viko kesal


" viko tidak boleh ngomong seperti itu, ingat gak ucapan mami apa? " ucap dylan dari depan pintu kamar aira yang mendengar jelas ucapan viko


" ingat pi, kita harus menghormati orang tua kita apapun keadaannya dan ayah razi ayah viko apapun yang terjadi" balas viko kesal


" sudah temani mami sana, kalau mami bangun panggil papi ya" pinta dylan


" maaf ya mi kali ini mungkin dylan merepotkan untuk tinggal disini sementara karena pekerjaan dylan yang tak bisa di tinggal dan tadi dylan hanya izin sebentar saja" ucap dylan


" tentu saja tidak merepotkan nak, malahan ibu seneng bisa kumpul dengan kalian. kamu konsen saja dengan kerjaan kamu biar aira ibu dan ayah yang jaga" balas ibu mardiana


" ya sudah dylan tinggal dulu ya bu, kabarin dylan kalau ada apa-apa ya bu. dylan akan usahakan pulang cepat" ucap dylan bergegas menuju kantor tempat ia bertugas