Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
viko punya papi



"kau tak apa sayang? " tanya dylan mengecek tubuh viko depan dan belakang


setelah menemukan tidak ada luka pada tubuh viko, dylan berbalik menatap tajam ke arah orang tua dika


dylan tahu yang menghina viko adalah seorang anak kecil, tapi di sana kan ada orang tuanya harusnya orang tua anak itu bisa menasehati tapi ini, mereka hanya diam saja melihat kelakuan anaknya " apa ini didikan dari kalian hah! " bentak dylan pada orang tua dika


" apa urusannya denganmu? anakku tidak salah, dia memang tak punya ayah!" balas orang tua dika tak kalah berteriak karena tak terima ada yang membentaknya


"wah benar-benar ya orang ini"  dylan tersenyum kecut menatap tak percaya ada orang seperti ini saat melihat anaknya menghina anak lain


dylan menoleh ke arah viko "viko tutup telingamu rapat-rapat" perintah dylan, viko langsung menutup kedua telinganya menuruti perintah dylan


"apa anda bilang tadi? gak punya ayah?" dylan menatap sengit orang di hadapannya "hei! apa aku orang mati hah!" bentak dylan menunjuk dirinya


orang tua dika menjadi gugup karena teriakan dylan  " apa maksudmu? " tanya orang tua dika dengan tergagap


" kan kau bilang anakku tak punya ayah berarti kau menganggap ku sudah mati padahal aku masih menapakkan kaki di tanah" balas dylan menghentak-hentakkan kakinya ke lantai agar bisa di lihat orang tua dika bahwa dirinya masih hidup


"ja ..jadi kau ayahnya ? " tanya ayah dika tergagap menyadari kekesalan dylan


" iya aku papi viko" dylan menunjuk tajam orang tua dika "sekali lagi kalian menghina anakku! ku masukan kalian ibu dan ayah ke dalam penjara biar anakmu itu merasakan apa yang dikatakannya pada anakku gak punya ayah sekalian gak ada ibu padahal punya, karena gak bisa didik anak dengan benar" bentak dylan menunjuk kedua orang tua dika


mendengar hal itu, mereka jadi gugup, orang tua dika langsung meminta maaf pada viko " maafkan keluarga kami ya nak viko, kami salah jangan memperpanjang masalah ini ya" pinta ayah dika


"iya om, viko maafin tapi jangan lagi-lagi ya, gak cuma sama viko saja tapi sama orang lain juga gitu" balas viko


aira melihat dari kejauhan bagaimana dylan membela viko dan merasa terharu


dylan dan viko datang dengan bergandengan tangan " wah akrab banget sih kalian? " tanya aira


"iya dong" balas viko tersenyum


dylan hanya mengusap kepala viko mendengar itu lalu duduk di kursi


" kamu menangis lagi" dylan mengusap air mata yang ada di Pipi aira


" Terima kasih untuk hari ini ya bang" ucap aira


"gak masalah" balas dylan tersenyum


"Terima kasih sudah buat viko merasakan keluarga seutuhnya, dan buat dia ngerasa punya ayah yang ada untuknya " ucap aira


"kalau kau merasa senang viko punya ayah, bagaimana kalau kau benar-benar memberikan seorang ayah padanya" balas dylan


aira menautkan kedua alisnya "maksudnya? " tanya aira bingung


dylan menghela nafas panjang "menikahlah denganku" pinta dylan


aira terkekeh "jangan bercanda dong bang" balas aira


"viko kamu bisa tunggu kami di taman bermain itu tidak? ada yang mau papi bicarakan bentar dengan mami"  dylan menunjuk arah tempat bermain dalam restoran


" iya pi" viko menuju taman bermain yang berada di area restoran karena memang restoran yang dipilih dylan adalah restoran keluarga yang menyediakan tempat bermain bagi anak-anak


dylan menatap aira lekat "aku gak bercanda aira, ayo kita menikah dan berikan keluarga lengkap untuk viko" ucap dylan dengan yakin


"abang aku ini janda dan punya satu anak pula, bagaimana bisa abang ngajak aira nikah? " balas aira tak percaya ajakan dylan


dylan mendekatkan mukanya ke telinga aira "kamu memang janda punya anak satu pula tapi jangan lupa siapa yang lebih dulu menyentuhmu? " ucap dylan tersenyum penuh arti pada aira


aira menjadi teringat kejadian saat ia masih SMA, dylan dan aira pernah bermalam bersama karena kehujanan dan tak memungkinkan untuk pulang ke rumah saat itu, sehingga terjadilah hal yang di luar kendali mereka


dylan mengusap lengannya "aduh sakit ra" balas dylan tersenyum tak merasa takut malah merasa lucu dengan tingkah aira


"ngapain abang bicarakan itu, itu masa lalu bang dan itu adalah kesalahan" ucap aira malu


dylan menghela nafas " iya abang tahu itu kesalahan dan abang gak mungkin mengubah itu" ucap dylan menggenggam tangan aira erat


"maafkan abang meninggalkanmu setelah kita melakukannya, dulu abang baru tahu kalau ibu sakit ra sampai lupa memberitahumu terlebih dulu dan main asal meninggalkanmu. mungkin kamu kecewa sama abang dan benci abang tapi abang kali ini  abang serius ingin menikah denganmu" ucap dylan


"tapi bang aira itu janda mana mungkin mami Terima aira" elak aira


"kata siapa gak Terima, kemarin waktu abang nanya mau ngelamar kamu mami semangat banget kapan mau ngelamar nya" balas dylan jujur


"apa?! abang sudah tanya sama mami abang? " tanya aira kaget


dylan mengangguk mengiyakan " maaf gara-gara abang ninggalin kamu dulu kamu memilih orang yang salah untuk menikah, abang tahu kamu buru-buru menikah dengannya karena takut dia meninggalkanmu seperti abang kan? " tebak dylan


aira menggelengkan kepalanya "bang, menikah dengan mas razi adalah pilihan aira sendiri dan tak ada hubungan sama sekali dengan abang, jadi ini sama sekali bukan kesalahan abang. dulu aira menikah dengan mas razi karena dia mau menerima aira yang sudah tak suci lagi. dia bilang dia mencintai aira apa adanya dan akan selalu mencintai aira sampai kapanpun makanya aira selalu nurut sama dia semenjak kita pacaran" jelas aira


dylan mengernyitkan dahinya "dia tahu itu semenjak kalian pacaran?" tanya dylan tak percaya


"iya, dia tahu seminggu setelah kita pacaran. aira langsung cerita karena aira ingin pacaran serius dan aira gak nyangka dia bilang gak masalah makanya aira pikir dia sangat mencintai aira" balas aira


" tapi kok bisa dia sampai melukaimu seperti itu ra? " tanya dylan


" hmmm" aira tampak berpikir "mungkin itu pengaruh penyakit mental yang dideritanya semenjak dia kecil karena dia di tinggal ayahnya, dulu aira sering mengingatkan untuk tetap melanjutkan berobatnya tapi dia selalu bilang dia gak gila" balas aira


" oh jadi gitu" balas dylan mengangguk paham


"apa kau masih mencintainya karena mungkin saja dia melukaimu bukan dari hatinya hanya karena penyakitnya saja " tanya dylan


aira tersenyum " sepertinya tidak bang, aira juga agak kurang yakin apa dulu aira benar-benar mencintainya? karena setelah aira hamil viko mas razi jadi jarang pulang bahkan gak pernah menyentuh aira tapi aira tak masalah dengan itu ataupun kesal,aira hanya tak suka saja saat dia mengabaikan viko yang jelas-jelas adalah anaknya" balas aira


"lalu apa kau membencinya? " tanya dylan lagi


aira menggeleng " tidak aira gak benci dia. aira tau dia salah sama aira sudah bikin aira susah dan harus sampai berkali kali operasi tapi karena dia, aira punya anak yang lucu seperti viko. dia juga pasti punya kesulitannya sendiri karena hanya ibunya yang dimiliki tapi aira punya keluarga yang begitu menyayangi aira dan juga ada viko" balas aira tersenyum


" dan sekarang ada abang juga" tambah dylan


"jangan ngaco deh bang" balas aira kesal


"abang serius tau ra" ucap dylan meyakinkan


" aira gak yakin" balas aira tersenyum


belum sempat menjawab viko sudah berlari ke arah dylan dan aira" papi, mami viko ngantuk" ucap viko sambil mengucek-ngucek matanya


"katanya mau jalan-jalan? " tanya dylan


" tapi sudah ngantuk" balas viko yang memang sudah merasa ngantuk


"ya sudah kita pulang ya bang" ajak aira


"ok" balas dylan


30 menit perjalanan akhirnya mereka pun sampai rumah aira


aira mencoba mengangkat viko yang tertidur tapi ia merasa kesulitan karena memang ia yang tak kuat mengangkat beban berat akibat tangannya yang pernah patah