
dokter ken masuk ke dalam apartemen riska sambil menggandeng tangan riska seolah layaknya pasangan kekasih yang sedang menghabiskan waktu bersama
"aku ganti perban di kakimu dulu ya" pinta dokter ken langsung mengambil kotak obat yang sudah ia hafal betul di mana tempatnya karena sudah sangat sering berada di apartemen Riska
"duduk dulu" pinta dokter ken
riska menuruti dokter ken untuk duduk di sofa dan membiarkkan dokter ken mengganti perban di kakinya
"luka ini memang tak begitu parah riska, tapi akan infeksi jika kau tak menjaganya" ucap dokter ken membersihkan luka kaki riska dengan telatennya
"kan ada dokter yang ngurus lukaku, lagian itu tugas kamu sebagi dokterku" balas riska cuek
"emang susah berdebat denganmu" balas dokter ken beranjak dari duduknya untuk menyimpan kotak obat
melihat langkah dokter ken, riska memeluk dokter ken dari belakang "dokter mau mandi dulu atau langsung?" tanya riska dengan suara manja untuk menggonda pria paruh baya yang masih terlihat gagah diusianya yang tak lagi muda itu
dokter ken tersenyum "emmmm" dokter ken membalik tubuhnya "kita bisa pemanasan dulu sebelum mandi" kekeh dokter ken langsung memangut bibir riska dan riska membalasnya dengan senang hati tanpa penolakan sedikitpun
walaupun dokter ken dan riska tak ada status tapi pergelutan ranjang mereka sudah terjalin sejak 11 tahun lalu membuat merekamenjadi dekat dan seolah tak jarak lagi, bahkan riska ataupun dokter ken tak pernah bermain dengan yang lain padahal riska tak pernah melarang dokter ken untuk tidur dengan wanita lain walaupun dokter ken melarang keras riska untuk bermain dengan pria lain
mereka saling bertukar keringat sampai pagi menjelang, untuk menuruti riska yang ingin 4 ronde, dan tambahan 1 bonus diberikan dokter ken pada riska karena terus menggodanya
"cup" dokter ken mengecup kening riska setelah selesai dengan kegiatan panasnya yang membuat ia begitu lelah dengan kegiatan panas mereka
"terima kasih" ucap dokter ken mengecup mesra kening Riska, hal yang selalu ia lakukan pada Riska saat selai bercinta
"hmmm" balas riska
riska menarik nafas dalam berusaha mengatur nafasnya yang masih memburu karena kelelahan, Riska beranjak dari tidurnya menutup tubuhnya dengan selimut lalu membuka laci nakasnya untuk mencari sesuatu
"aduh, kemana ya" gumam riska tengah sibuk mencari sesuatu
dokter ken yang terusik pun ikut terbangun melirik ke arah Riska yang sedang mencari sesuatu "mencari apa?" tanya dokter ken
"obat KB ku dok, kok gak ada" balas riska mulai cemas tak mendapati apa yang ia cari
"kalau gak ada, ya sudah tak usah minum" balas dokter ken mengajak riska untuk tidur kembali karena ini masih terlalu pagi
riska mendelik tajam ke arah dokter ken "gak bisa dok, hari ini masuk masa suburku, dan tadi aku lupa gak minum dulu sebelum kita gitu, tambah lagi dokter keluarin semuanya di dalam dari tadi jadi aku harus minum" balas riska dengan perasaan cemas karena obat yang biasa ia minum setelah bermain dengan dokter ken tak ada
"sudah lah, gak minum sehari juga gak masalah" balas dokter ken datar
riska menatap tajam dokter ken "dokter gak denger tadi? aku masih masuk masa subur dan dokter keluarin di dalam berkali-kali, itu tandanya aku bisa hamil dokter" ucap riska penuh dengan penekanan
"kalau kamu hamil ya sudah, biarin saja aku akan bertanggung jawab " balas dokter ken datar
"iya kalau perlu" balas dokter ken
"bagaimana bisa dokter mengajakku menikah nanti kalau dokter tak cinta aku" balas riska kesal
dokter ken mengusap mukanya kasar "kenapa jadi repot gini sih riska" ucap dokter ken yang sudah mulai ikut kesal karena lelah
"tentu saja repot, aku gak mau ya dok, kalau anakku nanti hidup di tengah keluarga yang tak menyayanginya" kesal riska
riska beranjak dari tidurnya memungut baju-bajunya dan memakainya asal "mau kemana kamu?" tanya dokter ken saat melihat riska yang memakai bajunya dengan asal
"mau beli obat KB, mumpung belum lama toh dekat apartemen ada apotik 24 jam" balas riska merapihkan rambutnya dan mengikatnya asal
dokter ken memakai celana pendeknya asal dan menghampiri riska yang buru-buru akan keluar kamar
"greb" dokter ken memeluk riska dari belakang "lepasin dokter, aku harus cepat sebelum kecebong dokter sampai rahimku" balas riska asal
"berikanlah aku anak riska" pinta dokter ken
riska menoleh dan menatap tajam dokter ken "tolong berikanlah aku anak, aku ingin punya anak denganmu" ucap dokter ken
"tapi dokter gak cinta aku, aku gak mau anak aku nanti hidup di tengah keluarga yang tak ada cinta di dalamnya. aku gak pengen dia merasakan apa yang aku rasakan" balas riska menyampaikan isi hatinya
"kata siapa aku gak cinta kamu?" tanya dokter ken
riska menautkan kedua alisnya "apa?" tanya riska memastikan pendengarannya
"21 tahun kita mengenal riska" dokter ken mengingatkan riska seberapa lama mereka saling mengenal "pernikahanku dulu hanya seumur jagung karena aku tak pernah menyentuhnya membuat dia mencari kesenangan di luaran sana. dia meminta cerai bukan hanya karena melihat kita berdua sedang bercinta tapi karena aku hanya menyentuhnya tak lebih dari hitungan jari" jelas dokter ken membahas alasan perceraiannya
dokter ken menangkup pipi riska "usiaku sudah 47 tahun riska, bukankan kau melihat aku tak pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun selama 21 tahun kita saling mengenal" tambah dokter ken
Riska mengingat masalalu dan benar saja dokter ken tak menjalin hubungan dengan wanita manapun, menikahpun hanya karena perjodohan dari keluarganya "jangan bercanda deh dok"kekeh riska berusaha menampik kenyataan yang di sapaiakn dokter ken
"aku gak bercanda" balas dokter ken
"harusnya dokter tahu, dulu dengan siapa saja aku bermain" balas riska mengingatkan perbuatan dirinya pada dokter ken
"tentu aku tahu, kau hanya melakukannya dengan bajingan itu dan yama saja, sedangkan lelaki lain, kau hanya bermain dengan area sensitif mereka tanpa pernah boleh mereka menyentuhmu" balas dokter ken yang tahu betul kalau riska hanya bermain dengan mulut dan tangannya tak sampai menyatukan tubuh mereka kecuali dengan prasto dan yama
"dan itu sudah 11 tahun tak kau lakukan dengan pria manapun, hanya aku satu-satunya yang menyentuhmu selama 11 tahun ini" tambah dokter ken menatap manik mata riska lekat "Jadi berikanlah pria tua ini seorang anak" pinta dokter ken penuh harap pada riska
riska menatap tak percaya dokter ken, bingung harus bereaksi apa "Aku mohon berikanlah aku anak riska, aku ingin memiliki anak denganmu" pinta dokter ken lirih