Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Rasa bersalah



“karena aku”gumam mami Diana menepuk pelan dadanya


Papi gunawan berjalan mendekati mami Diana mencondongkan tubuhnya ke samping tubuh mami Diana “kalian berdua paling bersalah padaku dan lyra” papi gunawan menoleh menatap tajam mami Diana “dan aku tak akan pernah menceraikan mu sampai kapanpun!” ucap papi gunawan penuh dengan penekanan


dylan menatap tajam ke arah papi gunawan "kau!" bentak dylan remaja


"jangan berani menyakiti mamiku!" bentak dylan membuat  papi gunawan begitu terkejut akan kehadiran dylan di sana


melihat mami diana yang makin histeris, dylan terpaksa membawa mami diana pergi menjauh dari rumah yang ia tinggali selama bertahun-tahun


Flash back end


“lyra meninggal bukan kesalahanmu” ucap tuan bagas mendengar cerita mami diana


“itu karena aku kak” balas mami Diana dengan mata yang sudah mengembun


tuan bagas memejamkan matanya sesaat “dia meninggal karena sakit yang di deritanya, bukan karena kamu” bantah tuan bagas


Mami Diana menatap dalam tuan bagas dengan mata berkaca-kaca “dia meninggal memang karena sakit tapi penyakitnya karena kamu yang tak pernah peduli padanya dan mengabaikannya begitu saja,walaupun sudah


ada anak di antara kalian dan itu semua karena kehadiranku di hidup kakak. aku yang selalu menyita waktu kakak dan perhatian kakak” ucap lirih mami Diana


“bukan begitu Diana” bantah tuan bagas


“lalu apa?” tanya mami Diana


“aku…..” tuan bagas tak bisa berucap seakan ada yang menarik lidahnya agar tak berucap apapun


“kau tahu betul, kalau aku bersalah” ucap mami Diana


“ini bukan salahmu Diana” tuan bagas meraih tangan mami Diana


Mami Diana tersenyum, melepas tangan tuan bagas perlahan “biar aku menebus dosaku” mami Diana membuka pintu ruang rawatnya “aku


ingin istirahat kak” ucap mami Diana memberi kode pada tuan bagas agar pergi


Tuan bagas tak tahu harus berbuat apa, mengusap mukanya kasar “baik, istirahatlah” tuan bagas bergegas keluar dari ruang rawat mami Diana berjalan ke arah tante jenny adik mami Diana “aku titip Diana” pinta tuan bagas pada tante jenny adik mami diana


Tante jenny mengangguk “tentu kak, tanpa kau minta pun aku akan menjaga kak Diana” balas tante jenny


Setelah melihat kepergian tuan bagas, tante jenny menuju kamar mami Diana


“hiks hiks hiks” tangis mami Diana


Tante jenny terkejut mendengar suara tangis dari ruang rawat kakaknya “ kakak” tante jenny membuka paksa kamar mami Diana


Mami Diana mendongak “ah, sakit sekali” gumam mami Diana mencengkram dadanya


Tante Diana langsung khawatir “sakit apanya kak? bukannya kemarin gak papa? Aku panggil dokter dulu ya” ucap tante jenny takut ada masalah pada jantung mami Diana pasca operasi


Mami Diana menggeleng sambil terisak “ bukan itu” ucap mami Diana dengan sesenggukan


Tante jenny menghela nafas memeluk kakak satu-satunya itu “kakak sudah usia berapa masih menangis hal yang sama selama belasan tahun” gumam tante jenny yang tahu betul masalah kakaknya


“kenapa aku harus menyadari perasaanku setelah puluhan tahun kita bersama dan itu membuatku merasa kacau” lirih mami Diana


Tante jenny mengelus punggung mami Diana “sudahlah kak, kalau kakak memang ingin bersamanya lupakan perasaan orang lain tapi jika kakak pengen menebus rasa bersalah kakak hanya atas dasar ucapan gunawan? Stop bertingkah lemah seperti ini!” bentak tante jenny, ingin agar kakaknya tidak selalu mengeluh


“kakak ini kakak kandung kamu jen, tega betul” keluh mami Diana mengusap air matanya


“abis aku lelah sama kakak, kita sudah di usia pertengahan abad tapi masih bahas hal seperti ini” balas tante jenny mulai jengah dengan masalah kakaknya yang mentok di situ-situ saja


Mami Diana mendorong tubuh tante jenny “itu karena kamu yang gak pernah menikah sih jadi gak tahu rasanya jadi aku” balas mami Diana


“salah siapa aku gak nikah-nikah?” tanya tante jenny menatap tajam kakaknya


Tante jenny memang dulu sempat mau menikah dengan seseorang tapi pada saat rumah tangga kakaknya mulai berantakan, tante jenny memutuskan membatalkan pernikahannya dan konsentrasi mengurus kakaknya dan itu berlanjut sampai ia memasuki kepala 4


“maafin kakak ya jen, selalu merepotkan kamu” pinta mami Diana tak enak hati pada adiknya


“iya kak, jenny ikhlas kok mengurus kakak. Yang penting kakak gak ngeledek aku terus yang gak nikah-nikah” ucap tante jenny


Mami Diana mengangguk “iya jen”


***


Aira memandangi tubuh Dylan mengusap kepalanya lembut “ tidur yang nyenyak ya bang” gumam aira, ikut masuk dalam selimut menyusul Dylan ke dunia mimpi


*


Dylan mulai menggeliatkan tubuhnya “cup” selamat pagi suamiku” sapa aira mengecup kening kening sang suami


“pagi sayang” balas Dylan melihat aira sudah rapih memakai setelan kerjanya


“kamu sudah siap? Emang ini jam berapa?” tanya Dylan melirik jam dinding


“jam setengah 7” balas aira


“kok kamu gak bangunin abang sih?” tanya Dylan


“abang kelihatan capek banget jadi aira gak mau bangunin abang, lagian abang ada kerjaannya jam 10 kan?” tanya aira


“kok kamu tahu?” balas Dylan


“tadi teman abang ada yang telfon buat ingetin abang, soalnya abang suka lupa katanya” balas aira


“oh” balas Dylan membulatkan mulutnya


“ya sudah mandi sana bang, terus aira tunggu di bawah, aira siapin makanan buat viko dulu” ucap aira sedikit menarik tubuh suaminya


“iya” Dylan mengecup kening aira lalu bergegas membersihkan diri dalam kamar mandi


***


Dylan sudah turun dengan setelan rapih menuju meja makan


“pagi anak papi” sapa Dylan mengajak viko untuk high five


“pagi pih” balas Dylan membalas high five dylan


“makan apa hari ini?” tanya Dylan


“macam-macam bang, tuh semuanya ada di atas meja” balas aira mulai mengambilkan piring berisi nasi beserta lauk pauknya untuk dylan


“ra, abang boleh bawa mobil kamu gak?” tanya Dylan


“mobil abang kenapa?” tanya aira


“kempes, udah minta bengkel buat ambil sih” balas Dylan


“ya sudah, tapi abang antar aira sama viko dulu ya” pinta aira


“ok” balas Dylan


“ya sudah makan dulu cepet, keburu siang” ucap aira memperingati


“iya sayang” balas Dylan


***


“viko nanti di jemput kakek ya, dan kamu ra anti abang usahain jemputnya gak telat” ucap dylan


“gak usah jemput, kalau abang repot” balas aira


“enggak lah, Cuma abang minta izin dulu, soalnya abang pengen nemenin kamu periksa kandungan” ucap Dylan


“ya sudah terserah abang saja, tinggal kabarin aira saja nanti gimana” balas aira


“iya sayang” Dylan mengecup kening aira dan memeluk viko


Dylan bergegas menuju lokasi yang disepakati untuk melakukan pengintaian. Dylan berangkat sebelum jadwal karena ada hal yang ingin ia pastikan


“bagaimana semua sudah siap?” tanya Dylan pada para pengintai yang sudah bersiap di posnya


“siap pak!” balas para junior Dylan


“ok, tunggu aba-aba dariku” instruksi Dylan pada teman sejawat dylan


Dylan memakai setelan rapih dan kacamata serta tampilan yang jarang ia pergunakan sehari-hari, ia berdandan seperti CEO perusahaan. Dylan duduk sambil menyeruput kopinya berkonsentrasi depan laptop sambil mengawasi pergerakan sasarannya


“pagi” sapa seorang pria yang tak jauh dari lokasi Dylan duduk


“pagi pak Kendra Abraham” sapa balik seseorang yang menyapa orang yang baru datang menghampirinya


Mata Dylan terbelalak lebar, mendongak melihat apa benar nama yang di panggil dengan orang yang ia kenal adalah orang yang sama