
"kakak! " teriakan manja jenny terdengar menyeruak ke penjuru ruangan dan tentu sampai ke telinga orang-orang yang sedang menajamkan pendengarannya
"kress" Rafa memakan camilan keripik di meja dengan muka datarnya
" apa aku cepetan nikah ya dad" Rafa melirik dokter ken tanpa beban
dokter ken memutar matanya malas "kalau dapat yang bener baru boleh di nikahin jangan yang sudah di celap-celup sembarangan kaya pacar-pacar kamu itu" balas dokter ken
rafa terkekeh "iya sih dad, lagian Rafa juga belum mau di ikat masih bahagia berpetualang" kekeh Rafa
mami aira mencubit gemas pinggang rafa "rubah kebiasaan buruk kamu itu Rafa, nanti dapat karma baru tahu rasa" sahut mami aira
"ih tante doanya ngeri amat" balas Rafa
eila hanya berdecak melihat tingkah rafa, orang yang tumbuh bersamanya saat kecil "tapi tadi aku sudah khawatir banget sama askar eh malah cepat bener sembuhnya" cicit eila mendengar teriakan manja jenny yang artinya itu ulah askar yang sedang menggoda istrinya
"iya lah cepet, di kasih yang bening dan fres gitu" sahut papi dylan
viko merasa tenang dengan keadaan adiknya yang baik-baik saja "ya sudah pih, aku mau ajak ara sama Gilang pulang dulu kasihan mereka" sahut viko berjalan ke arah kamar tamu yang ada di lantai bawah
mami aira menoleh ke arah eila "kamu mau nginep apa pulang?" tanya mami aira
"nginep saja mi, kasihan kalau bangunin daren yang lagi nemenin tidur delina" balas eila
"ya sudah terserah kamu saja" balas mami aira
"ra, aku pamit pulang ya" ucap dokter ken
"iya dok" balas mami aira
***
askar menopang dagunya dengan kedua tangan memandangi wajah cantik yang masih betah memejamkan matanya
"gak nyangka, orang yang aku lihat sejak orok bahkan aku tahu bagaimana buang airnya kini jadi istriku" askar mengusap kepala jenny lembut dan mengecup kening jenny dalam
"kakak akan membahagiakan kamu dan anak kita" askar mengusap perut jenny dengan sayang
***
"kak, ikut ke kantor boleh? " tanya jenny dengan suara manja
askar mengerutkan keningnya "ngapain, nanti capek? " balas askar
"bosen di rumah kak, kan jenny masih libur semester jadi gak ada kerjaan" balas jenny
"ya sudah kalau mau ikut" balas askar
"makasih kak" jenny langsung mengecup pipi askar
"jenny jangan goda kakak dong, nanti kakak kurung di kamar kalau gitu" kesal askar karena rudalnya yang langsung bereaksi akibat ulah jeni
jenny melirik tubuh bagian bawah askar "apaan sih kak, l ngapa-ngapain aja gak" balas jenny kesal.
askar mengecup bibir syakia "melihat senyummu saya, yang di sana sudah on apalagi kamu kecup gitu" cicit askar
"itu mah kakak saja yang mesum, dulu aja jenny nempel kakak, kakak gak gitu" balas jenny
"itu karena kakak yang nahan mati-matian gak nubruk kamu" balas askar
"itu mah kakak saja yang pikirannya jadi mesum" kekeh jenny
jenny dan askar keluar dari kamarnya menuju meja makan "pagi mi, pih, oma" sapa askar dan jenny
"Hai askar" balas papi dylan
"kamu rapih amat jen? " tanya mami aira melihat penampilan jenny yang terlihat rapi bahkan membawa tas selempang di pundaknya
"mau ikut kak askar ke kantor mi" balas jenny
mami aira mengerutkan keningnya "ngapain? " tanya mami aira
"pengen ikut saja" balas jenny
mami aira jadi cemas dengan itu "sebaiknya gak usah ikut dulu ya jen, di rumah dulu buat beberapa hari ini" pinta mami aira
" kenapa? " balas jenny
mami aira menggaruk tengkuknya yang tak gatal, bingung harus berucap apa agar tak menyinggung ataupun menyakiti hati jenny
mami aira menghela nafas panjang "ya sudah, bawa pengawal kamu ya" pinta mami aira
"nurut saja kali ini" balas mami aira
*
sepanjang jalan terdengar desas-desus di telinga jenny yang membuat ia begitu tak nyaman
"masih muda sudah jadi pelakor, dan depak istri pertama" bisik-bisik orang yang terdengar jelas di telinga jenny maupun askar
"iya, padahal cantik gitu, kok nyarinya suami orang" sahut salah seorang wanita
"sekarang tuh suami orang jauh lebih menggoda tahu" kekeh seorang lainnya
"aku hajar juga orang-orang ini" kesal askar ingin mendamprat para bawahannya yang berani berbisik tentang dirinya dan juga istri kecilnya
"jangan kak, mereka gak salah. posisinya kan aku emang istri kedua kakak dan kakak akan menceraikan istri pertama kakak jadi biarkan saja" ucap jenny berusaha tetap kuat di depan askar
"tapi kakak cerai sama syakia bukan karena kamu" balas askar
"mereka gak tau dan gak ingin tahu kak" balas jenny
jenny mengeratkan pegangannya di lengan askar, walaupun ia bilang kuat tapi pasti hatinya serasa di remas "ternyata ini alasan mami larang aku bawa jenny tadi" gumam askar mempercepat langkahnya
jenny tentu mendengar ucapan orang-orang perihal dirinya yang jadi pelakor dan merusak rumah tangga orang lain di usia muda dan bahkan ada pandangan miring bahwa jenny memanfaatkan kehamilannya untuk menjerat askar dan membuat askar menceraikan syakia
jenny menunduk lesu dan askar dapat melihat itu
askar menghela nafas panjang "jangan pikirkan omongan orang sayang, kamu kan gak gitu, kamu gak rebut kakak dari syakia. walau orang berpikiran seperti itu, yang penting keluarga serta sahabat kita tahu kejadian sebenarnya" askar mengusap lengan jenny
jenny memaksakan senyumnya "iya kak, jenny sudah tahu akan tiba waktunya seperti ini" balas jenny
"maaf sayang, kamu jadi menderita seperti ini karena hamil anak kakak" ucap askar mendekap tubuh jenny
saat masuk dalam lift, jenny melirik levi " kak tutup mata sebentar saja ya" pinta jenny dan levi hanya menurutinya saja
jenny langsung memeluk askar erat " sebentar saja ya kak" pinta jenny
askar membalas pelukan jenny "seberapa lama pun kamu mau, juga boleh sayang" balas askar mengusap kepala jenny lembut
"ting" pintu lift terbuka dan jenny langsung mengurai pelukannya
askar melirik levi "jangan ada yang biarkan masuk ke ruangan saya selama 2 jam ke depan" pinta askar
levi mengangguk " iya tuan" balas levi
memasuki ruangannya askar langsung menutup pintu dan tak lupa menguncinya
askar membawa jenny dalam pangkuannya "maaf, maafin kakak jen" pinta askar lirih
"jenny akan berusaha kuat kak" balas jenny mengusap wajah askar
***
viko sedang duduk di sebuah cafe sembari memainkan ponselnya
"tuan" panggil arka
viko mendongak "duduk" viko menunjuk kursi di hadapannya
arka duduk di hadapan viko "ada apa tuan memanggil saya? " tanya arka
"kita bersahabat sudah lama arka" ucap viko
"aku tahu itu" arka menunduk
"tetap bekerja denganku" pinta viko
arka mendongak "kau gila viko! adikmu bisa ngamuk kalau melihatku" balas arka
"itu urusanku nanti, setidaknya bekerja sampai pekerjaanmu selesai dan aku dapat penggantimu" ucap viko
"baik lah" balas arka
"aku tahu kau mencintai dia sekian lama tapi aku tak bisa membelamu atau berada di pihakmu" ucap viko dengan wajah penuh kekecewaan
"aku tahu itu, tetap mau bicara denganku saja aku sudah sangat berterima kasih" balas arka
"jalan cintamu sulit sekali arka" sesal viko
arka tersenyum pahit "iya" arka berusaha menahan tangisnya sekuat tenaga