Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Sama-sama sakit



***


Rino bergegas membawa riska yang sudah terikat dan dalam keadaan pingsan ke suatu daerah sepi di pinggiran kota.


Rino menurunkan tubuh riska kasar dan menyiramnya dengan air mineral agar terbangun


“ahhhh" teriak riska gelapan saat mukanya terkena siraman air, membuat hidungnya kemasukan air dan terbatuk "uhuk uhuk uhuk"


Riska mencoba mengatur nafasnya, mengedarkan pandangannya, melihat rino di hadapannya “sayang”gumam riska berusaha menggerakan tubuhnya tapi ia kesulitan karena keadaannya yang sedang dalam kondisi terikat


“kenapa aku disini sayang? Lepaskan?” pinta riska


Rino berjalan mencengkeram kuat rahang riska “aku paling membencimu!” bentak rino membuang riska kasar


riska menyipitkan matanya “apa cuma gara-gara sekertarismu itu?” Tanya riska


“dia bukan hanya sekedar sekertaris untukku, dia adalah istriku!” teriak rino


mata riska membelalak lebar mendengar pernyataan rino “apa kau bilang istrimu?” Tanya riska


“bagaimana bisa kau menikah dengan orang lain? Bukannya kau hanya mencintraiku?” Tanya riska tak percaya rino yang sudah menikah


“kau pikir aku akan tetap mencintai wanita ****** sepertimu” rino menatap tajam ke arah riska


“aku yakin kau masih mencintaiku sayang, wanita ****** itu hanya sedikit menggoyahkan hatimu saja, nanti kau juga akan sadar kalau kau hanya mencintaiku” balas riska dengan percaya diri


“yang ada aku jijik padamu!” bentak rino


“ayolah sayang, lepaskan aku ya”pinta riska mencoba menggerakan tubuhnya


“gara-gara kau istriku di rawat di rumah sakit, dia koma sekarang dan kami terancam kehilangan bayi kami karna ulahmu” ucap rino penuh penekanan


“bukannya bagus, dengan begitu kita bisa menikah, aku akan melayanimu dengan baik sayang” balas riska tak terlihat merasa bersalah sama sekali


Rino mencekik kuat leher riska “jika sampai terjadi apa-apa dengan anakku apa kau pikir kau masih bisa bernapas?” Tanya rino dengan senyum devilnya


***


“pasien zeta sudah sadar, dia mencari suaminya” ucap perawat pada orang tua aira


“gimana nih yah?” Tanya ibu mardiana bingung


“kalian masuk saja, alihkan perhatian zeta, kalu bisa rekam saat dia memanggil rino, dylan akan mencarinya  rino lagi” ucap dylan bergegas keluar rumah sakit untuk mencari rino


***


Rino melepaskan cekikannya saat riska memohon untuk dilepaskan “kamu pasti tak tega menyakitiku kan sayang? Itu karena kau masih mencintaiku” ucap riska penuh dengan keyakinan


Rino tersenyum kecut “siapa bilang aku melepaskanmu” rino menatap tajam kearah riska “akan kubuat kau menyesal hidup dan membuatmu memohon padaku untuk dibiarkan mati saja”seru Rino


Rino mulai memotong rambut riska dan menyuruh riska duduk di atas tumpukan kaktus yang ia petik tak jauh dari tempat mereka berada


riska berteriak kesakitan saat duri-duri kaktus menancap di sekujur tubuhnya “jangan seperti ini no, maafin aku”pinta riska dengan nada memohon, tubuhnya sudah banyak luka kaktus


“apa kau pikir ini sebanding dengan rasa sakit yang istriku rasakan”bentak Rino


“ampun no”pinta riska


Rino mencengkeram kuat pipi riska “mimpi saja aku akan melepasmu” rino kembali menyiksa riska dengan siksaan yang kecil tapi benar-benar menyiksa riska, mulai dari riska di beri rumah semut, dan berkali-kali kena tamparan


***


Dylan melajukan mobilnya dengan perlahan mencari keberadaan rino yang sudah ia tahu di mana lokasinya karena diberitahu teman sekantor dylan yang diminta mencari keberadaan Rino


dylan melihat sebuah mobil di lokasi terpencil yang ia sadari mobil rino, dylan memutuskan turun dari mobil untuk menghampiri rino  “ah itu dia” gumam dylan berlari menghampiri rino


“rino!”teriak dylan


Rino menatap tak percaya kearah dylan “untuk apa kau disini?” Tanya rino yang tak suka dengan kedatangan dylan


“apa kau tak peduli dengan keadaan istrimu?” Tanya dylan


“tentu saja aku peduli, untuk itu akan membalas rasa sakit yang istriku rasakan” balas rino


“kalau kau peduli harusnya kau menemaninya bukannya disini bersama dengan wanita itu” sahut dylan


Rino teringat dengan pemberitahuan dokter untuk menunggu 24 jam “bagaimana keadaan istriku?” Tanya rino


“dia ngigau namamu terus, jadi cepat temui dia” ucap dylan


"istriku sadar?" tanya rino


"iya" balas dylan


“ada apa lagi?” Tanya rino kesal karena tak ingin menunda waktu


“ganti baju dulu, jangan berpenampilan seperti itu di depan istrimu, dia bisa panic” balas dylan melirik pakaian rino yang kotor dan bekas noda darah


Rino mengangguk dan langsung masuk mobil dan melajukan mobilnya dengan cepat


Dylan menghampiri riska dengan tatapan iba “kau salah mencari orang untuk kau goda” ucap dylan melepaskan ikatan riska dan memapahnya ke dalam mobil


“kenapa dia jadi menakutkan seperti ini?” Tanya riska dengan suara lirih


dylan mendudukkan riska di kursi penumpang, dan bergegas masuk ke dalam mobil “penyebab pastinya aku tak tahu, tapi salah satu penyebab dia seperti ini adalah kau” balas dylan bergegas  melajukan mobilnya


“apa dia sangat terluka karenaku?” Tanya riska lirih


“aku tak tahu” balas dylan menggelengkan kepalanya, karena memang dylan tak tahu kisah cinta rino dengan riska sebab saat itu dylan jarang berkomunikasi dengan rino agar tak bertemu aira


“oh ya, ku mohon jangan ceritakan kejadian ini pada siapapun”pinta dylan


Riska mengangguk “baiklah, aku tak akan menceritakan ini kesiapapun” riska menoleh ke rah dylan “terima kasih sudah menyelamatkanku” ucap riska tulus dari hatinya


“sama-sama” balas dylan


“bagaimana kabar aira?” Tanya riska yang memang mengenal aira


“dia baik” balas dylan


“pasti sebentar lagi dia melahirkan ya” Tanya riska


“iya, tinggal 3 bulan lagi dia melahirkan” balas dylan


riska menghela nafas panjang “aku tak menyangka dia benar-benar sakit” gumam riska


“apa?” Tanya dylan sayup-sayup mendengar suara riska


“aku tahu Rino sakit” balas riska


Dylan menghentikan mobilnya “ckit” dylan menatap tajam riska “dari mana kau tahu?” Tanya dylan


“aku sama dengannya, pasien dokter Ken” balas riska


Dylan menyipitkan matanya “kamu juga sakit seperti Rino?” Tanya dylan


“iya, waktu itu aku tak sengaja berpapasan dengannya 6 tahun lalu saat dia control ke dokter ken. Aku jauh lebih lama jadi pasien dokter ken jadi orang-orang tak terlalu menyadari penyakitku” balas riska yang menjalani pengobatan kejiwaan sejak usianya masih remaja


“kamu sakit kenapa? Bukannya keluargamu baik-baik saja dan kau anak orang kaya yang sangat di sayang orang tuamu” tanya dylan yang cukup mengenal keluarga riska yang kebetulan salah satu kenalan mami diana


Riska terkekeh “kau pikir aku tak sakit saat sering menggoda pria, bahkan aku tidur dengan sahabat kakak iparmu hanya demi sebuah tas seharga 20 juta, yang tentunya kau tahu aku sangat mampu membeli barang itu seorang diri” riska membenarkan posisi duduknya


“awalnya aku taka da niat menyakiti rino, aku hanya ingin berhubungan baik dengannya tapi terkadang penyakitku mengambil sisi kewarasanku” riska terkekeh mengingat perbuatannya dulu“aku kan memang gak waras” riska tertawa kencang tapi air matanya turun dengan bebas “aku benar-benar merasa bersalah saat aku


tahu pemicu sakitnya adalah kejadian saat dia tahu kalau aku tidur dengan sahabatnya. Aku merasa bersalah dylan” ungkap riska


"aku juga baru dengar tentang kau yang tidur dengan yama dari ibu" balas dylan


riska terkekeh "aku benar-benar merasa bersalah padanya karena itu" ucap riska


“jadi karena itu kau mengejarnya selama ini” Tanya dylan


“aku dengar dari dokter ken dia harus melepaskan beban di hatinya agar bisa semmbuh, jadi aku hanya ingin dia meluapkan amarahnya padaku, menghilangkan luka di hatinya. Aku akui aku salah karena mendorong istrinya, aku tak menyangka istrinya sedang hamil saat itu” jelas riska


“sudah lah riska kita bahas besok lagi saja, aku akan membawamu ke rumah sakit” ucap dylan menuju salah satu rumah sakit terdekat


“jangan bawa aku ke rumah sakit” pinta riska


“kenapa, kau terluka” Tanya dylan


“jangan bawa aku ke rumah sakit, aku benci rumah sakit. Antar aku ke apartemenku saja” pinta riska


"tapi lukamu bagaimana?" tanya dylan


"ini hanya luka ringan, aku bisa mengobatinya di rumah" balas risksa


“baiklah” dylan melajukan mobil menuju kediaman riska di salah satu apartemen mewah di kawasan Jakarta


Dylan sampai di loby apartemen “aku pinjam jasmu dulu ya, untuk menutupi lukaku, aku akan menggantinya dengan yang baru” ucap riska


“tak usah menggantinya, aku masih ada banyak” balas dylan


Riska keluar mobil dan berjalan menuju apartemennya dengan langkah biasa, seolah tak ada rasa sakit di tubuhnya


dylan menatap arah kepergian riska “ternyata memang dia sakit” gumam dylan melirik cara berjalan riska yang terlihat biasa saja, padahal riska mengeluarkan cukup banyak darah