Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Malam atau pagi pertama



***


Rino membawa masuk zeta ke dalam kamar, menutup pintu dan mendorong tubuh zeta perlahan sampai pintu kamarnya “kamu pengen cepet punya anak?”Tanya rino dengan senyum nakalnya


Zeta menelan salivanya kasar “tadi zeta Cuma penasaran dengan cerita aira yang manja sama suaminya saat sedang hamil mas” balas zeta dengan suara gugup


Rino memajukan wajahnya dan berbisik ke telinga zeta “bagaimana kalau kita coba?” ajak rino


zeta sedikit mendorong tubuh rino pelan “tapi kita mau ke kantor mas” balas zeta lirih


"berarti kalau gak ke kantor, kamu mau? " tanya Rino


zeta kembali mendorong pelan tubuh Rino " tapi kita kan emang mau berangkat ke kantor" zeta berjalan perlahan menuju kamar mandi


Rino menahan tangan zeta membuat zeta menoleh padanya  “harusnya kita meeting di luar pagi ini, semalam aku sudah ngabarin bela tapi pagi tadi klien yang harus kita temui bilang harus menemani istrinya melahirkan jadi di tunda” ucap Rino kembali mendekatkan wajahnya ke telinga zeta "dan aku belum memberi kabar apapun pada kantor" bisik rino


“hah” zeta menoleh ke arah rino membuat jarak mereka yang makin dekat


“cup” rino langsung melahap bibir zeta dengan rakus


Zeta hanya diam terpaku “bagaimana? Boleh?” Tanya rino


Zeta mengangguk tanpa sadar membuat rino tersenyum dan kembali melahap bibir zeta


Rino membawa zeta ke ranjang, ******* bibir zeta dengan rakusnya, zeta membalas setiap pangutan rino dengan sedikit kaku dan mengalungkan kedua tangannya di leher rino


***


Zeta sudah berpakaian rapih dan sedang bercermin “mas, ini apa?” Tanya zeta saat melihat ada tanda kemerahan di lehernya yang begitu terpampang jelas karena kulit zeta yang berwarna putih


Rino meliriknya sekilas, ia sekuat tenaga menahan tawanya agar Zeta tak marah karena tanda kemerahan di lehernya begitu banyak, maklum saja sudah menahan begitu lama menyentuh sang istri dan sekarang sudah kesampaian "sebentar” rino keluar kamarnya dengan tergesa-gesa membuat Zeta makin panik melihat lehernya yang muncul warna kemerahan


“nih” ucap rino memberikan slayer berwarna krem senada dengan pakaian yang Zeta pakai pada istrinya itu


Zeta mengerutkan keningnya “buat apa?” Tanya zeta menerima slayer dari rino


“ini punya aira, bisa dipakai buat nutupin itu” balas rino menunjuk leher zeta


Zeta memakai slayer sesuai arahan rino “kamu yakin gak mau ijin? Gak papa kok kalau kamu izin toh nanti Cuma ada rapat jam 2 jam 5 saja, mas bisa sendiri atau bisa di temani bela” Rino sebenarnya agak kurang nyaman dengan cara berjalan zeta yang terasa kurang nyaman


“enggak ah mas, gak enak kalau zeta izin terus, kan belum lama ini zeta izin 3 hari saat menyiapkan acara pernikahan  aira” balas zeta berusaha tetap kuat berjalan walaupun sebenarnya ia sangat kesulitan


“terserah kamu saja deh” balas rino


Melihat rino akan memasang dasi, zeta langsung merebutnya dan memakaikan di leher rino dengan cekatan.


rino hanya memandang wajah istrinya sembari tersenyum melihat perhatian sang istri padanya  “sudah mas” ucap zeta merapihkan baju rino


"ya sudah, ayo turun" ajak rino menggandeng tangan zeta


Rino berjalan dengan menggandeng tangan zeta menuju lantai bawah untuk sarapan, bukan sarapan sepertinya karena ini sudah melewati batas jam sarapan


“hmmm kalian baru turun jam segini? Padahal naik ke atasnya jam 6 tadi, emang kalian gak ke kantor?” Tanya ibu mardiana dengan senyum meledek pada rino dan zeta yang sudah terlihat segar dan wajah binar bahagia dari keduanya


Rino menggaruk tengkuknya yang tak gatal “tadi ada rapat yang dibatalin jadi gak masalah bu kalau siang ke kantornya, rapatnya nanti jam 2” balas rino


“ya tapi ingat ngasih makan anak orang kali rino, masa sarapan jam 11” ledek ibu mardiana pada anaknya


Rino melirik jam dinding dan benar saja sudah jam 11 siang “iya bu maaf, lupa diri” balas rino terkekeh


“ya sudah makan dulu sana” ucap ibu mardiana terkekeh melihat kelakuan anaknya


Rino mengajak zeta untuk duduk dan menyantap makanan “mau makan apa mas?” Tanya zeta


ingin mengambilkan makanan buat rino


“apa aja, gak masalah” balas rino


Rino dan zeta makan dengan cepat karena memang harus segera ke kantor


“bu, kita ke kantor dulu ya” pamit rino memeluk ibu mardiana


“yakin bu” balas zeta bingung dengan pertanyaan ibu mertuanya


“mendingan kamu izin saja hari ini” pinta ibu mardiana lirih


Zeta menggelengkan kepalanya “zeta gak enak kalau izin bu” balas zeta


“ya kenapa gak enak? Bos mu kan suami kamu sendiri, pemilik perusahaan juga adik ipar kamu. Gak masalah kalau kamu izin barang sehari” ucap ibu mardiana


“tadi rino sudah ngomong sama zeta bu, tapi dia kekeh tetap mau berangkat kerja” sahut rino


Ibu mardiana menatap tajam ke arah rino “ya itu tuh salah kamu tahu, yang sudah bikin zeta jalan kaya penguin gitu” ucap ibu mardiana membuat rino terkekeh


Zeta langsung menunduk malu “kelihatan banget ya bu?” Tanya zeta malu-malu mengingat dirinya yang kesusahan berjalan karena ulah suaminya yang cukup kuat


Ibu mardiana menggenggam tangan zeta “sudah, istirahat ya” pinta ibu mardiana


Zeta menghela nafas "iya bu” balas zeta mengangguk patuh


ibu mardiana melirik ke arah Rino “ya sudah sana kerja, biar istrimu di rumah sama ibu” ucap ibu mardiana


“iya bu” rino mencium punggung tangan ibunya dan mencium kening zeta untuk pamit berangkat kerja


Setelah melihat rino yang sudah menjauh, ibu mardiana mengajak zeta untuk duduk di


sampingnya


“bagaimana? apa Kamu bahagia dengan pernikahanmu?” Tanya ibu mardiana


Zeta mengangguk “bahagia bu, mas rino baik sekali sama zeta” balas zeta


“kamu sering-sering nginep sini ya” pinta ibu mardiana


“iya bu” balas zeta memeluk ibu mardiana


***


Rino berjalan menuju kantornya dan akan bersiap untuk rapat


Rino berjalan ke arah meja sekertaris “bel, zeta izin gak masuk, dia sedang sakit jadi kamu handel pekerjaannya ya” ucap rino


“baik pak” balas bela mengangguk paham


Andre yang tak sengaja mendengar zeta sakit pun ikut khawatir “sakit apa pak zeta?” Tanya andre


Rino menautkan kedua  alisnya “kurang enak badan saja, katanya besok juga sudah berangkat” balas rino datar


“syukur deh. Nanti saya izin sebentar buat jenguk Zeta, boleh?” Tanya andre


Rino menautkan kedua alisnya lagi “buat apa, sudah ada yang jaga dia di rumah, lagian dia kan Cuma sehari ijinnya” balas rino tak suka ada yang perhatian dengan istirahatnya


“ya sudah” balas andre menekuk wajahnya karena tak mendapat izin rino


Rino berjalan menjauh “awas aja macam-macam sama istriku” batin rino mulai merasa mendapat sinyal tanda bahaya dari seseorang


***


Mami Diana memanggil dylan dan aira untuk duduk di ruang tamu “ada apa mami manggil kita?, tumben sekali" Tanya dylan


Mami Diana menyerahkan sebuah map berwarna cokelat “buka” pinta mami Diana


Dylan melihat isi map tersebut “mami sudah resmi cerai?” Tanya dylan kembali menyimpan isi dokumen tersebut


“iya dylan, mami sudah bercerai. Maaf ya sayang” pinta mami Diana


" tak usah minta maaf mi, toh ini hidup mami jadi mami yang lebih bisa memutuskan” balas dylan berusaha bersikap bijak


“terima kasih ya nak” ucap mami diana