Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Teman viko



“viko” sapa sita menghampiri viko dan askar


“kak sita” sahut viko


“apa kabar kamu viko? Terakhir ketemu kamu masih sangat kecil, sekarang sudah tinggi “ ucap sita memandang tinggi tubuh viko yang sekarang memang lebih tinggi dari sita dan sudah sama dengan tinggi badan dylan


“yakan terkahir ketemu, aku masih kelas 3 SD kak sita, sekarang aku sudah kelas 1 SMA” balas viko membusung dadanya, bangga dengan pertumbuhan tubuhnya


“iya juga, sekarang aku juga kan sudah akan masuk kuliah” balas sita terkekeh mengingat dirinya yang dulu masih duduk di kelas 6 SD dan sekarang sudah akan masuk kuliah


“oh ya, kakak sudah menyelesaikan pendidkan SMA kakak ya?” Tanya viko semangat dengan kabar wanita yang sudah ia anggap sebagai kakak kandungnya itu


“iya, dan aku akan lanjut kuliah di sini” balas sita dan di balas senyum bahagia viko


“oh ya, ini yang namanya askar ya?” Tanya sita yang baru pertama kali melihat Askar


Sita melirik askar sekilas “kenalin kak, namaku Yashaskar Virendra Mahardika, biasa di panggil askar” ucap askar menengadahkan tangannya untuk menjabat tangan Sita


“sita” sita tersenyum ke arah Askar “kamu bisa panggil kak sita sama  dengan panggilanmu pada viko


Pesta berjalan dengan lancar dan di selingi banyak canda tawa karena pesta tersebut di hadiri orang-orang terdekat aira dan dylan, dan kebanyakan dari mereka cukup mengenal baik satu sama lain.


***


“ mi, viko berangkat ya” ucap viko berpamitan pada aira


“kamu gak makan dulu sayang?” Tanya dylan


“makan di sekolah saja pih, tadi bibi dan bungkusin bekal buat viko “ balas viko


“ya sudah, hati-hati ya viko” ucap dylan sembari membalas pelukan viko yang berpamitan dengannya


Dylan menoleh ke arah aira “ ra bisa antar askar sama eila ke sekolah gak, abang mau ada rapat pagi ini, jadi sepertinya gak keburu kalau antar mereka” ucap dylan


“duh, gimana ya bang. Aira juga ada  rapat di luar. Tau sendiri bang semenjak jadi kepala sekolah aira harus sering ikut rapat sana sini” balas aira ikut bingung memikirkan nasib anak kembarnya yang akan sekolah, karena kebetulan di rumah hanya ada 2 sopir, yang satu mengantar viko tadi ke sekolah dan yang satu lagi sedang mengantar mami Diana bertemu dengan papi gunawan dan tuan bagas


“kalau gitu, biar mereka aku saja yang antar” suara baritone seorang pria memenuhi seisi ruangan


Kesemua orang yang duduk di meja makan menoleh ke arah sumber suara “uncle” teriak eila berlari menghampiri yama dan memeluknya erat


Mata dylan langsung menatap tajam ke arah Yama “ngapain pagi-pagi kesini kamu?” Tanya dylan ketus


“mau antar eila ke sekolah, dan kebetulan kalian sedang sibuk jadi aku bisa antar eila dan askar ke sekolah” balas yama datar


“gak perlu” ketus dylan


“ayolah dylan, tak apalah aku yang antar mereka, lagian kalian kan sedang terburu-buru, jadi tak masalah kalau mereka berdua aku yang antar” sahut Yama


“tapi….” Belum selesai dylan berucap aira langsung menggenggam tangan dylan menghentikan ucapan dylan


“terima kasih ya kak, aira minta tolong antarin anak-anak aira” ucap aira menoleh ke arah Yama


“oke” yama menggandeng tangan eila untuk duduk kembali di meja makan untuk melanjutkan sarapan


***


Viko masuk ke kelasnya untuk melaksanakan piket kelas, viko mulai menghapus papan tulis serta membuang sampah yang ada di dalam kelas, menyapu dan melap meja serta kursi dalam kelas agar terlihat bersih dan nyaman untuk belajar


Viko tersenyum “gak masalah. Kau lanjutkan lagi saja yang belum dibersihkan, aku akan membuang sampai ke tempat pembuangan sampah yang ada di belakang sekolah” balas viko mengambil kotak sampah di depan kelasnya


“iya viko” balas Zaskia Andrian teman sekelas viko


Viko mengambil sampah yang sebelumnya sudah ia kumpulkan dan membawanya ke pengumpulan sampah yang ada di bagian belakang sekolah, viko memilah sampah oraganik dan organic lalu membawa kembali kotak sampahnya ke dalam kelas


“viko, sudah selesai” ucap zaskia menyampaikan pekerjaan yang sudah ia kerjakan


“iya” viko mengangguk dan duduk di bangkunya


Zaskia menghampiri viko “maaf ya viko, aku selalu datang telat saat piket” ucap zaskia merasa tak enak hati pada teman piketnya yang selalu datang lebih pagi dari dirinya


“tidak masalah zaskia, lagian kamu tidak terlambat tapi aku yang datang terlalu cepat” viko melirik ke arah tempat duduk di kelas mereka yang baru beberapa tas terisi “ lihat saja mereka juga belum pada berangkat berarti kau tidak telat” sahut viko


Zaskia menggaruk tengkuknya yang tak gatal “ia juga” balas zaskia yang baru menyadari memang viko datang terlalu awal


Semua teman-teman viko mulai berdatangan, dan bel pertanda masuk kelas berbunyi


"selamat pagi anak-anak” sapa bu Rina guru mata pelajaran matematika viko menyapa murid-murid kelas 10.1


“pagi bu” balas murid-murid kelas 10. 3 kelas viko


“bagaimana anak-anak sudah menyelesaikan tugas bu


guru? Tanya bu rina


“sudah bu” sahut murid-murid


“coba siapa di antara kalian yang ingin menuliskan hasil jawaban kalian di papan tulis?” Tanya bu Rina


Viko langsung maju kedepan, untuk menuliskan hasil jawaban yang sudah ia kerjakan di rumah


Bu rina melihat semua hasil tugas viko dan tersenyum “bagus sekali viko, semua jawaban kamu benar” ucap bu rina bertepuk tangan dan diikuti teman sekelas viko


“terima kasih bu” balas viko kembali duduk


“apa kau mengerjakan sendiri?” Tanya bu rina


“iya bu, tapi untuk no 7 saya sempat salah dan di ingatkan mami saya untuk membetulkan jawaban saya” balas viko


“senang ya jadi kamu viko, mamimu selau memeriksa tugas-tugasmu dengan baik dan selalu menemani kamu belajar tidak seperti kami” ucap salah satu teman viko yang merasa iri dengan prestasi viko dan viko selalu menyematkan nama sang mami sebagai orang yang membantunya dalam belajar


Viko tersenyum “ ia aku senang karena mamiku selalu menyempatkan waktu untuk menemani aku dan kedua adikku untuk belajar setiap hari” balas viko


Zaskia tersenyum simpul ke arah viko, mulutnya memang melengkung menunjukkan sebuah senyuman tapi tatapan matanya seolah menyimpan berbagai hal yang sulit untuk di ungkapkan


Semua teman sekelas viko membanggakan orang tua viko yang selalu menyempatkan waktu untuk viko, mereka merasa iri karena kebanyakan orang tua mereka tak ada waktu untuk menemani mereka belajar karena memang sekolah viko yang tyermasuk sekolah elit dan kebanyakan dari murid yang ada di sana adalah pengusaha-pengusaha terkenal


“sudah jangan iri sama viko, kalian kan sudah di daftarkan di tempat-tempat les terbaik di kota ini” ucap bu rina meminta murid-muridnya untuk diam


Pelajaran dimulai dengan berdiskusi kelmpok membahas pelajaran matematika tentang bangun Ruang “triiiiiingggg” terdengar suara bel istirahat


“sudah bel istirahat, kalian istirahat dulu” ucap bu rina meninggalkan kelas 10.1