Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Aku harus apa lagi? (season 2)



viko menemani arka yang sedang minum di bar


"sudah arka" viko mengambil gelas yang sedang dipegang arka


arka kembali mengambil gelas yang di ambil viko "biarkan aku minum"  arka kembali menenggak gelasnya sampai habis


"minum gak akan menyelesaikan masalah arka" nasehat viko pada sahabatnya, walaupun ia berbuat salah pada adiknya tapi tetap saja arka adalah sahabatnya selama 10 tahun ini


arka menatap sendu dengan mata berkaca-kaca "aku harus apa lagi?" tangis arka pecah tak kuat lagi menahan sesak di dadanya


"aku akui salah memanfaatkannya dulu, tapi aku benar-benar mencintainya viko" arka terisak dan terus meminum minuman laknat itu


askar menghela nafas "coba kau ajak bicara dia" usul viko


"dari dulu dia tidak pernah mau mendengarkanku. dia selalu mengambil keputusannya sendiri termasuk menikahi askar" balas arka yang sempat menasehati syakia untuk tidak menikahi askar tapi syakia tetap saja kekeh untuk menikahi askar


"dari cerita askar, yang aku tangkap dari permintaan syakia, dia sedang khawatir tentang status anaknya, 14 tahun dia memendamnya. tentu dia ada ketakutan tersendiri nasib anaknya akan sepertinya" ucap viko


"walaupun itu anak askar aku akan menerimanya" sahut arka


"aku tahu itu arka, kau pasti akan tetap menyayanginya tapi wanita punya banyak keraguan dan ketakutan jadi bicara lah denganya" viko menepuk pundak arka pelan


arka meresapi setiap ucapan viko, arka merasa ucapan viko ada benarnya


*


sekitar jam 11 malam arka sampai di kediaman papi frans, cukup lama ia memarkirkan mobilnya di halaman depan rumah keluarga papi frans


arka turun dari mobilnya menyandarkan tubuhnya di badan mobil menatap rumah papi frans seakan ragu ingin masuk tapi ingin segera bertemu syakia agar bisa berbicara dari hati ke hati padanya


"huuuuuhhh" arka menghela napas panjang menatap ke arah kamar syakia


"ceklek" papi frans melangkah besar ke arah arka yang ada di halaman rumahnya


arka membenarkan posisinya dan menunduk saat papi frans mendekat "untuk apa kau ke sini? " tanya papi frans


"maaf uncle kalau mengganggu tidur uncle" arka membungkuk sebapai permintaan maaf


papi frans menghela nafas panjang " kau mau bertemu syakia? " tanya papi frans


"iya, tapi aku tak mau mengganggu tidurnya" balas arka lirih


papi frans membawa arka untuk duduk di ayunan taman rumahnya


" bisa kita bicara" ucap papi frans


"ada apa uncle" tanya arka


"uncle sudah bicara pada orang tuamu tentang pernikahanmu dengan syakia. awalnya mereka begitu kecewa terutama ibumu tapi mau gimana lagi, ini juga sudah kejadian" ucap papi frans


"uncle" arka merasa terenyuh akan sikap papi frans


"walaupun syakia bukan anak kandungku tak akan mengubah status syakia yang jadi anakku. dia anak yang aku besarkan dengan tanganku ini" papi frans memandangi kedua tangannya


"tapi aku tetap akan bercerai dari maminya" tambah papi frans


papi frans menatap lekat arka "karena uncle tak punya anak uncle akan berikan hartadan perusahaan uncle padamu" ucap papi frans


"jangan uncle" balas arka


"setelah kalian menikah, tinggalah di Jepang sampai anak kalian besar agar orang-orang lupa dengan perbuatan kalian setelah itu ambil alih perusahaan. uncle ingin tinggal di desa saja" ucap papi frans


"tapi syakia tak mau bercerai dari askar uncle" ucap arka


arka memeluk papi frans "Terima kasih uncle" ucap arka


papi frans menepuk punggung arka "jangan lakukan kesalahan lagi arka, dan jagalah syakia serta anak kalian" ucap papi frans


"iya uncle" balas  arka


papi frans mengurai pelukannya "kau menginap saja, bicara dengannya besok, biarkan dia istirahat malam ini" papi frans menepuk bahu arka dan kembali masuk rumahnya


*


"sreeeeeet" papi frans menarik kopernya ke arah meja makan dimana sudah ada syakia dan mami gisella di sana  "mulai hari ini aku akan tinggal di apartemen" ucap papi frans


mami gisella beranjak dari duduknya dan menghampiri papi frans "papi mau kemana jangan pergi pih" mami gisella menarik tangan papi frans


papi frans menghempas tangan mami gisella " maaf, aku sudah tak sanggup serumah denganmu. lagi perceraian kita akan berlangsung dengan cepat, aku juga sudah memberikan harta gono gini serta harta bagian milik syakia" ucap papi frans


syakia menatap papi frans "tak perlu memberiku bagian harta, aku sama sekali tak menginginkannya. aku juga punya uangku sendiri" balas syakia tetap melanjutkan makannya


"itu terserah padamu, papi sudah menyerahkan semua harta yang ingin papi berikan pada arka, jadi biarkan arka yang mengurusnya" papi frans berjalan meninggalkan rumah


"papi!" teriak mami gisella


mami gisella menoleh ke arah syakia "minta papi kamu untuk tetap tinggal syakia, dia kan sayang banget sama kamu jadi pasti dia akan menuruti kamu" ucap mami gisella


"maaf mih, aku gak ada muka untuk meminta itu semua sama papi" balas syakia


"syakia!"teriak mami gisella


"sudah aunty, jangan tekan syakia. syakia sedang hamil" ucap arka mengingatkan


"ini tuh gara-gara kamu arka" mami gisella menunjuk arka


"kalau kamu gak menyebarkan aib syakia pada askar mana mungkin suamiku akan menceraikanku"kesal mami gisella


syakia menatap nyalang mami gisella "aku benar-benar gak nyangka mami orang yang seperti ini" syakia menggelengkan kepalanya "mami sudah nipu papi habis-habisan selama 29 tahun mih" air mata syakia mulai luruh ke pipi mulusnya


"papi menunggu anak sekian tahun lamanya, tapi nyatanya mami menipunya" tangis syakia pecah


"mami gak ada niat membohonginya syakia, dulu mami sudah berniat berpisah dari papimu tapi papimu yang nahan mami" balas mami gisella


syakia menatap nyalang mami gisella "saat itu mami masih istri sah papi, jadi papi punya hak atas mami. tapi malah mami sudah main api di dalam status pernikahan mami" syakia terkekeh dan tersenyum pahit "dan bodohnya, aku mengikuti jejak mami" syakia berjalan ke arah kamarnya dengan langkah besar


"syakia" panggil arka mengejar syakia


Syakia masuk kamarnya dan langsung mengambil barang-barang penting dengan tas berukuran sedang, bergegas pergi


"mau kemana kamu syakia?" tanya arka


"aku akan tinggal di apartemenku" balas syakia


"kamu sedang hamil syakia, jangan tinggal sendiri" ucap arka


"tolong kak, untuk kali ini saja jangan berada di sekitarku" tangis syakia makin pecah


"aku ingin sendiri kak" pinta syakia dengan wajah memelas


"kakak cuma peduli padamu syakia. kakak benar-benar cinta sama kamu" ucap arka


"aku tahu kak, tapi kali ini aku ingin sendirian" ucap syakia