
*
Viko berjalan ke arah ke tiga wanita yang berdebat hanya karena sebuah sepatu, lebih tepatnya eila dan mami aira yang berdebat sedangkan ara hanya menatap bingung keduanya
“apa yang kalian perdebatkan?” Tanya viko menghampiri ara dan melingkarkan tangannya di pinggang ara
Eila menoleh “itu kak, mami ngeyel kalau sepatu ini lebih cocok untuk ara” ucap eila menunjuk sepatu hells pada viko
Mami aira tak mau kalah “menurut mami ini lebih bagus sayang, kamu lihat deh ara ”mami aira menunjuk alas kaki yang sedang di pakai ara yang memakai sepatu flat
“bukankah ini lebih nyaman” tunjuk mami aira pada sepatu flat
Ara hanya menggelengkan kepalanya ke arah viko seolah berkata aku gak minta tapi keluargamu yang maksa
"mami tuh gak ngerti, wanita itu butuh terlihat cantik" kesal eila
"tapi kenyamanan lebih penting" sahut mami aira
Viko menghela nafas panjang “ya sudah belikan dua-duanya saja” ucap viko
Mami aira dan eila langsung tersenyum senang “ya sudah kita bayar dulu ya” ucap eila menunjukkan kartu viko yang di pegang eila
“yuk mih” eila mengajak mami aira membayar di kasir
“maaf pak” ara menunduk
“untuk?” Tanya viko
“sudah ngabisin uang bapak, lihat saja seberapa banyak mereka beli buat ara padahal ara sudah bilang berhenti tapi mereka gak mau pak, katanya semuanya bagus di pakai ara” ucap ara melirik kantong belanjaan yang ada di hadapannya begitu banyak
“tidak masalah, lagian yang belanja kan keluargaku. Saya senang kalau menghabiskan uang saya membuat mereka bahagia, toh uang masih bisa di cari tapi kebahagiaan keluarga saya jauh lebih penting dari materi” ucap viko melirik eila dan mami aira yang sedang membayar tanpa menyurutkan senyum mereka
“tapi kan barangnya di pakai saya pak" sahut ara
“anggap saja itu bonus untuk kamu karena membantu saya
membahagiakan keluarga saya” balas viko
“tapi membayar rumah sakit ayah saya saja sudah sangat mahal pak, ini malah di tambahin pakai belanja" sesal ara
“saya bilang tak masalah” ucap viko memberikan tatapan tajam pada ara membuat ara menelan salivanya kasar
eila dan mami aira yang sudah selesai membayar menghampiri ara dan viko “yuk kak” ajak eila
Viko melirik kantong belanjaan di hadapannya “itu gimana?” Tanya viko bagaimana membawa belanjaan yang begitu banyak
“ah, kita sudah suruh orang buat antar ke rumah” balas eila
“ya sudah” viko menggandeng tangan ara keluar toko
“kak makan dulu napa” ajak eila
“mami sudah masak tadi loh” balas viko yang memang selalu menghargai masakan maminya ketimbang makan di luar
“mami tadi pagi kan Cuma masak nasi goreng sayang, gak papa kalau kita makan di luar, nanti biar papi ajak Oma kamu makan di
luar kalau mereka sudah lapar” balas mami aira
“ya sudah ayo” balas viko
Eila memilih salah satu restoran yang ada di dekatnya “kita makan di sini saja ya” pinta eila melirik makanan jepang
“ya sudah, ayok” balas viko tak melepaskan tangan ara
Eila melototi tangan kakaknya “gak akan hilang pacar kakak kalau di lepasin tangannya di sini kak” tunjuk eila pada viko yang
masih menggandeng tangan ara padahal mereka akan duduk di meja makan
“ah kebiasaan” balas viko terkekeh melepas genggaman tangannya pada ara
“cih kakak” eila berdecih dengan kelakuan kakaknya yang terlihat selalu ingin dekat dengan ara
“kamu pesan apa yang kamu mau” ucap viko menyerahkan buku menu pada ara
“iya mas” balas ara membuka buku menu dan mulai memilih
Viko hanya memandangi perdebatan ketiga wanita di
hadapannya hanya karena makanan yang ingin mereka makan apa dan malah saling melempar pilihan
“eh kamu disini?” Tanya viko ramah pada Ryan yang menghampirinya
“iya om lagi makan sama mama sekalian tunggu ayah datang jemput Ryan ” balas ryan menunjuk meja tempat duduk mama ryan
Viko menoleh, matanya membelalak lebar, ia sampai
menjatuhkan ponsel yang ia pegang, matanya bersitatap dengan seorang wanita,
wanita yang memberikan luka terdalam untuknya. Mulutnya seakan bisu tak mampu berucap apapun
Ara yang mendengar ponsel viko terjatuh segera mengambilnya “nih mas tadi ponselnya jatuh” ara menyerahkan ponsel viko tapi viko hanya diam saja, mata viko masih menatap lurus dalam diam
Ara mengikuti arah pandangan mata viko, dan menoleh ke arah ryan yang masih ada di hadapan viko “itu mama kamu nak?” Tanya
ara
“iya” balas ryan mengangguk
“siapa nama mama kamu?” Tanya ara ramah
“nama mama Ryan, revina” balas ryan
Eila dan mami aira yang duduk di hadapan viko dan ara langsung menjatuhkan sendoknya dan bergegas menoleh “mih” eila melirik maminya sambil ekor matanya melirik viko yang diam mematung menatap revina
“kita pulang yuk ra, kita makan di rumah saja ya” ajak mami aira ingin menghindari kecanggungan
“loh kenapa tan, makanannya saja baru sampai loh” balas ara melirik makanan yang baru di antar pelayan
“gak papa, yuk” ajak mami aira
Ara mengguncang lengan viko yang masih diam mematung “yuk mas” ajak ara
“hah” viko tersadar dari lamunannya
“ayok, kata tante pulang saja” ucap ara
“ah iya” balas viko beranjak berdiri
Revina yang melihat viko beserta keluarganya datang menghampiri “apa kabar tante, eila” sapa revina ramah
“emmm baik” balas eila
Revina melirik viko “kau pulang” ucap revina tapi viko hanya diam saja
Ara melirik viko yang hanya diam saja “ih mas jangan gak sopan" ara mengguncang lengan viko menyadarkan viko dari lamunannya
viko tersadar karena ara “ada apa?” Tanya viko
“itu loh ada kenalan mas, masa mas gak mau sapa” ucap ara mengingatkan viko untuk membalas sapaan revina
“kau saja yang menyapanya” viko bergegas pergi meninggalkan
tempat yang di rasa tak nyaman
Ara membungkuk “maafin kelakuan pacar saya ya
mba, emang pacar saya itu sedingin kulkas tapi dia baik kok” ucap ara tersenyum ramah
“pacar” gumam revina melirik ara
Eila berdiri di hadapan ara “iya, dia kekasih kakakku. Silahkan urus anakmu itu kita mau pergi” ucap eila menarik tangan ara dan maminya meninggalkan revina
Revina menatap keluarga viko yang makin menjauh “kau sudah punya pacar” gumam revina menjatuhkan cairan bening dari susut
matanya
Ryan yang melihat mamanya menangis mengguncang
lengan revina “mama kenapa, kok nangis?" Tanya ryan
Revina langsung mengusap pipinya dan tersenyum ke arah Ryan “gak kok sayang mama gak nangis” balas revina
“itu apa coba” tunjuk ryan pada pipi revina yang basah
“Cuma kelilipan saja” balas revina