
Aira, dylan dan seluruh keluarga besarnya berkumpul di kediaman dylan setelah pesta selesai
Tuan bagas menghampiri mami Diana menepuk bahunya lembut
“Diana aku pulang dulu ya” ucap tuan bagas lirih
Mami Diana mengangguk “iya kak” balas mami Diana
Papi gunawan menatap tak suka interaksi keduanya
Tuan bagas melirik dylan dan aira “dylan om pulang dulu ya” ucap tuan bagas menoleh kearah aira "dan maaf ya ra kalau David dan keluarganya tak datang, karena kemarin dia harus mengurus masalah yang ada di Inggris" ucap tuan bagas
“iya om gak masalah, terima kasih sudah datang” balas aira
Tuan bagas mengangguk dan pamit pulang
Keluarga besar aira ikut pamit pulang “aira, ayah dan ibu juga kakak-kakakmu pulang ya” ucap ayah subrata memeluk aira
“iya, yah” balas aira memeluk keluarga besarnya secara bergantian
***
Semua orang sudah mulai pamit, tinggal papi gunawan, mami Diana, aira dan dylan
“mih, viko masuk kamar ya, ngantuk” ucap viko pamit untuk masuk kamar
“iya sayang, mandi dulu sebelum tidur ya” pinta aira
“iya mi” balas viko berjalan ke lantai atas tempat kamarnya berada
“kalau begitu mami naik ya” ucap mami Diana berniat beranjak pergi
“apa boleh kita bicara?” Tanya papi gunawan menghentikan langkah mami Diana
Dylan menatap tak suka kearah papi gunawan “mau bicara apa?” Tanya dylan ketus
Aira mengguncang lengan dylan “bang, biar mami yang putusin mau bicara atau tidak dengan papi” pinta aira
Mami Diana menoleh kearah papi gunawan “baik kita bicara” ucap mami Diana kembali duduk
“ya sudah kalau mami sama papi mau bicara, kita masuk kamar dulu ya, mau bebersih” ucap aira menarik dylan
Aira berjalan dengan cepat menarik dylan “apaan sih ra?” Tanya dylan saat dirinya di tarik menjauh
aira membawa masuk dylan ke kamarnya dan menutup pintu “ya masuk kamar lah bang, jangan ganggu orang tua bicara. Gak baik” balas aira
Dylan berdecih, dan bergegas masuk kamar mandi “bang jangan di tinggal, katanya mau bantuin lepasin gaun” ucap aira menyusul dylan masuk kamar mandi
Papi gunawan hanya diam menatap mami Diana tanpa bersuara apapun “katanya mau bicara, kenapa malah hanya diam saja” Tanya mami Diana
Papi gunawan menghembuskan nafasnya kasar “bagaimana kabarmu?” Tanya papi gunawan
“baik” balas mami Diana
“apa kau masih belum mau kembali denganku?” Tanya papi gunawan
Mami Diana menggeleng “tidak” balas mami Diana
“apa kau memutuskan menikah dengannya?” Tanya papi gunawan lirih
“tidak” balas mami Diana datar
“apakah kamu tidak bisa menghabiskan sisa umurmu denganku?” Tanya papi gunawan
“tidak” balas mami Diana
“kalau kau tak ingin bersamaku kenapa tak menggugat cerai ?” Tanya papi gunawan
Mami Diana terkekeh “bukannya kau yang tak mau bercerai, kau yang memohon untuk tidak bercerai. Kau yang menahanku dalam kondisi seperti ini?” balas mami Diana
“itu karena aku sangat mencintaimu Diana. Daridulu hingga sekarang kaulah satu-satunya cinta dalam hidupku” balas papi gunawan
“cinta kau bilang? Kalau kau benar-benar mencintaiku, kau tak mungkin menahanku” balas mami Diana beranjak pergi meninggalkan papi gunawan
“kalau gitu kita cerai saja” seru papi gunawan menahan langkah mami Diana
Mami Diana menoleh kearah papi gunawan “ayo kita urus perceraian kita” tambah papi gunawan lirih
Mami Diana menautkan alisnya “kenapa kau bisa berubah pikiran setelah sekian tahun berlalu?” Tanya mami Diana
Papi gunawan menghela nafas panjang, dan tersenyum kea rah mami Diana “kita sudah tidak di usia berebut cinta, kalau kau tak mencintaiku ya sudah lah, lepaskan saja. Melihat anakku bahagia sudah cukup untukku” ucap papi gunawan tersenyum kearah mami diana
Mami Diana menautkan kedua alisnya “apa ada yang kau sembunyikan dariku?” Tanya mami Diana yang merasa aneh dengan sikap papi gunawan
“kenzi akan mengurus semuanya, kau tinggal terima beres saja” ucap papi gunawana beranjak meninggalkan mami Diana
“mas” panggil mami Diana
Papi gunawan menoleh “ya” balas papi gunawan tersenyum
“maafkan aku” pinta mami Diana lirih
“tak masalah” balas papi gunawan melangkah menjauh
Rupanya dylan mencuri dengar obrolan orang tuanya. Dalam hati ada rasa yang tak bisa di jelaskan saat orang tuanya benar-benar memutuskan berpisah walaupun dari dulu ia yang selalu meminta maminya untuk bercerai
***
Rino menandatangani kerjasama bisnis dengan perusahaan yama beberapa hari lalu dan kini yama menjadi sering datang ke perusahaan Mahardika Group dengan alasan kerjasama anatar dua perusahaan
“yes Mr. yama” balas bela menunduk, tersenyum ramah pada yama
“is your boss inside?” Tanya yama menunjuk ruangan Rino
“yes sir” balas bela memberitahukan bahwa rino ada di dalam
“okay, I’ll go straight in” balas yama menuju ruangan Rino
“brak” yama langsung membuka pintu ruangan rino kasar “hai bro” sapa yama
Rino hanya mendengus kesal “ada apa lagi?” Tanya rino risih dengan kedatangan yama
yama berjalan ke arah sofa untuk duduk di sana “hanya ingin bertanya perkembangan projek kita saja?” Tanya yama datar
Rino melipat tangannya di dada, menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya “baru kemarin kau bertanya hal yang sama” balas rino mulai jengah
“ya kan aku harus sering meninjau kerjamu” balas yama angkuh
Yama memindai ruangan rino “sekertarismu kemana ? “ Tanya yama
“bukannya kau sudah bertemu saat akan masuk ruanganku” balas rino
“di depan hanya ada bela, zeta mana?” Tanya yama
Rino menajamkan tatapannya pada yama “jangan main-main dengan zeta yama!” bentak Rino
“yang mau main-main siapa?” Tanya Yama
“apa kau fikir aku tak tahu dengan kebiasaanmu yang suka bergonta ganti pasangan” balas rino
“kali ini aku tak ingin main-main” balas yama
“kalau mau serius cari saja orang lain jangan zeta” balas rino
“kenapa?" Tanya yama
“dia sudah menikah, jadi tak ada waktu mengurus laki-laki macam kau” balas rino
“what! Dia sudah menikah? Kapan?” Tanya yama terkejut
“2 bulan lalu” balas rino datar
yama meggelebgjan kepalanya “kau pasti membohongiku?” Tanya yama
“terserah kalau kau tak percaya” balas rino kembali konsen dengan pekerjaannya
***
Zeta sedang di tugaskan Rino membeli makan siang di seberang perusahaan
“mba sudah selesai pesanannya” ucap pegawai restoran
“baik mba” balas zeta memberikan uang untuk membayar makanan
Saat tengah berjalan ia berpapasan dengan andre, kau makan disini?” Tanya andre yang baru masuk restoran
“iya pak, saya pesenin makanan untuk pak rino” balas zeta menunjukkan kotak makan yang baru ia beli
“kamu mau nemenin aku makan dulu gak?” Tanya andre
“maaf ya pak, saya beli makanan buat saya dan mba bela juga” ucap zeta pamit pergi
Andre memandangi punggung zeta sambil tersenyum penuh arti
***
Zeta memberikan makanan pesanan bela dan langsung masuk ruangan untuk menyerahkan kotak makan rino
“nih mas” ucap zeta menyodorkan makanan pada rino
Rino mendongak “terima kasih” balas rino menerima makanan yang di bawakan zeta
“maaf ya mas, gara-gara aku kesiangan mas jadi gak bawa bekal dari rumah deh, dan sarapan roti saja tadi” ucap zeta tak enak hati
“gak masalah” balas rino menyuapkan makanan ke mulutnya
“ya sudah, zeta makan di luar ya mas” ucap zeta
Rino menahan tangan zeta “temani aku makan ya” pinta rino
“tapi gak enak sama mba bela mas kalau kelamaan di dalam ruangan mas” balas zeta
Rino menatap zeta dengan tatapan memohon “temani” pinta rino
Zeta menghela nafas “ya sudah” balas zeta duduk di sofa ruangan rino
Rino berjalan menghampiri zeta dan duduk di samping zeta “mas nanti zeta mau belanja bulanan ya” ucap zeta
“mau mas temani?” Tanya rino
“mas mau ikut?” Tanya zeta
“boleh kan?” tanya rino
“ya sudah kita nanti ketemu di depan supermarket ya” balas zeta