Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Bodoh dalam mencintai seseorang



Dylan memeluk erat aira “terima kasih ra” ucap dylan dengan senyum mengembang


Aira balas memeluk Dylan “sama-sama bang”


***


Dylan masuk membawa sebuah nampan berisi makanan dan minuman “makan dulu yuk sayang”ajak Dylan meletakkan nampan di atas nakas, lalu membantu aira untuk duduk


aira menyipitkan matanya menatap dylan “kenapa malah bawa makanan ke kamar bang? Aira masih bisa turun  ke bawah untuk makan” balas aira merasa kuraang suka dengan perlakuan berlebihan dari suaminya


“gak papa sayang, kamu kan tadi pingsan jadi lebih baik tidak naik turun tangga” Dylan menyuapi makan aira dengan telaten. Aira terpaksa menerima suapan dylan karena tak ingin mengecewakan sang suami


Aira tersenyum “abang gak harus manjain aira. Aira masih bisa makan sendiri” ucap aira mencoba mengambil sendok yang di pegang Dylan


Dylan menahan tangan aira “gak masalah kalau abang manjain kamu, kamu kan sedang hamil” balas Dylan “oh ya, abang juga sudah suruh orang untuk atur kamar kita di bawah, dan nanti kamar viko yang di atas. Gak masalahkan


sayang?” tanya Dylan meminta pendapat aira


aira mengangguk “gak papa bang, lagian kan viko sudah kelas 3. Dia juga sudah mulai mandiri dan tidak terlalu bergantung pada kita lagi” balas aira setuju dengan usul dylan


Dylan menyuapi aira sampai makanannya habis tak bersisa  “abang taro ini di dapur dulu ya” Dylan keluar untuk meletakkan nampan yang ia bawa ke dapur dan mencucinya, kareha pembantu di rumah dylan tidak ada yang menginap dan akan pulang saat sore hari


“drrrt drrrt drrrttt” ponsel Dylan bergetar menandakan ada panggilan telfon di ponselnya


dylan mencuci tangannya dan melap tangannya, meraih kantong celananya untuk  melihat ponselnya. Dylan tersenyum bahagia saat melihat nama mami Diana yang tertera di layar ponselnya  “halo mi” sapa Dylan


“halo sayang, tadi mami dengar dari viko kalau dia mau punya adik. Benar itu?” tanya mami Diana dengan nada semangat dan tersirat senyum yang mengembang dari suaranya


"iya mih aira hamil" balas dylan dengan bahagia memberikan kabar orang tuanya bahwa dia juga akan jadi seorang ayah


mami diana tertawa girang "kamu ajak periksa dia ke dokter dulu ya untuk memastikan kesehatan anak kamu" ucap mami diana memperingati


“iya mih,  Besok Dylan antar dia ke dokter untuk USG ” balas Dylan


“selamat ya nak, kamu akan segera jadi ayah” ucap mami Diana


“iya mih, terimakasih. Mami selamat juga karena akan jadi nenek” balas Dylan


“mami sudah jadi nenek sejak 2 tahun lalu kali nak” balas mami Diana terkekeh mengingat dia resmi menjadi seorang oma setelah aira dan viko jadi bagian keluarganya


“Dylan juga sama, sudah jadi ayah sejak dua tahun lalu” balas Dylan ikut terkekeh dengan maminya


dylan menghentikan tawanya “oh ya mami kapan pulang? dylan pikir mami akan pulang cepat setelah operasi mami selesai tapi nyatanya memakan waktu setahun untuk pemulihan” tanya Dylan


“ Mungkin bulan depan mami pulang” balas mami Diana


“Dylan” panggil mami Diana dengan suara lirih


“iya mih?” balas Dylan


mami diana cukup ragu untuk bertanya “apa kamu masih membenci papi kamu?” tanya mami Diana


Dylan menautkan kedua alisnya “apa maksud mami bertanya seperti itu?” tanya Dylan


Mami Diana menghela nafas “belum lama ini, dia kemari untuk meminta maaf pada mami, dan meminta bantuan mami  untuk bertemu denganmu” jelas mami Diana


Dylan mengeratkan rahangnya “mami masih  bertemu dengannya?” tanya Dylan dengan suara menggeram


“suami apa yang selama 15 tahun tak pernah mengajak istrinya bicara! ataupun bertanya tentang kabarnya ” teriak Dylan menggema ke penjuru ruangan


"deg" jantung mami diana seakan berhenti mendengar teriakan dylan “jangan terlalu kencang Dylan, nanti istrimu


dengar. Ingat dia sedang hamil , jagalah perasaanya “ ucap mami Diana mengingatkan


Dylan menghela nafas mencoba meredam emosinya “aku sama sekali tak perduli tentangnya! Dylan sama sekali tak peduli tentang suami mami itu!" Bentak Dylan


“dia masih papi kamu nak” ucap mami Diana mengingatkan


“papiku sudah mati!” Dylan langsung menutup telfonnya tanpa mendengar ucapan maminya


Aira yang bergegas turun karena mendengar teriakan Dylan, terpaku melihat keadaan suaminya yang memprihatinkan


“hiks hiks hiks” Dylan menangis pilu meringkuk di dekat meja dapur


Aira bingung untuk melanjutkan langkah kakinya atau tidak menghampiri Dylan yang menangis, dia tak mampu mendekat tapi ingin mengurangi rasa sakit yang di rasa dylan suaminya  “abang” gumam aira lirih menatap tak tega keadaan dylan


***


“bagaimana Diana?” tanya pria paruh baya yang berada tak jauh dari mami Diana


“seperti biasa, dia masih membenci papinya” balas mami Diana lirih


pria paruh baya tersebut berdecih “tentu saja dia benci dengannya. Kau saja yang terlalu naïf masih mempertahankan pernikahan dia atas kertas dengannya “ ucap pria tersebut


“kak bagas tahu betul kalau aku cinta gunawan kan?” ucap mami Diana menatap pria paruh baya di hadapannya yang tak lain adalah bagas wiraatmadja


tuan bagas menatap tajam mami diana “kau memang bodoh! Bagaimana bisa kau menghabiskan hidupmu untuk mencintai seseorang seperti dia yang sama sekali tak mencintaimu dengan tulus dan tak menghargaimu!” kesal tuan bagas wiraatmadja sahabat mami Diana sejak kecil


mami diana mendongak ke arah tuan bagas “kakak juga bodoh sama sepertiku” tuan bagas menoleh ke arah mami Diana menautkan kedua alisnya


“kakak masih tetap mencintaiku walaupun kau tahu aku tak pernah mencintaimu” balas mami Diana tersenyum tapi matanya sudah mengembun


Tuan bagas terkekeh “kau tahu betul berapa kali aku menikah dan berganti-ganti pasangan bukan? Jadi bagaimana bisa kau bilang aku mencintaimu sahabatku sejak kecil ” elak tuan bagas


Mami Diana menaikan sudut bibirnya “mungkin kakak bisa bohongin orang lain tapi tidak denganku. Mungkin di mata orang lain kakak laki-laki yang senang berganti-ganti pasangan. Tapi aku tahu betul sebab pastinya” ucap mami Diana mulai meneteskan cairan bening dari sudut matanya  “ kalau menghadapi siska sih ****** itu, tentu kak lyra tak akan kesulitan dia jauh lebih segalanya ketimbang ****** itu “ mami Diana berdiri di hadapan tuan


bagas, mendekat ke arah tuan bagas “tapi kesedihanya sampai nafas terakhirnya, tak tahu dengan siapa sebenarnya yang dia lawan” ucap mami Diana dengan sorot mata sedih mengingat lyra istri tuan bagas


Tuan bagas menyipitkan matanya “sejak kapan kau tahu?” tanya tuan bagas tak mengira mami diana tahu rahasia yang ia simpan selama puluhan tahun


Mami Diana menghela nafas panjang “kamu fikir kenapa dia selingkuh padahal sekeras apa usahanya untuk menikahiku?” tanya mami Diana menunjuk ke arah papi gunawan yang berusaha kerasa untuk menikahi mami diana tapi malah akhirnya selingkuh


“hah?” tanya tuan bagas bingung


“dia selingkuh karena kesalahanku. Dia tak menikah dengan wanita itu karena keegoisannya. Dan aku tak memilihmu karena rasa bersalahku pada kak lyra” ucap mami Diana


“apa maksudmu. Aku tak paham!” teriak tuan bagas


“lepaskanlah aku kak, jangan terus berada di sekitarku. Aku akan menebus dosaku pada kak lyra dan gunawan seumur hidupku” ucap mami Diana lirih


“apa maksudmu! Bicaralah lebih jelas!” teriak tuan bagas


Mami Diana hanya memejamkan mata tak mampu berkata-kata