Live In The Foly Of Love

Live In The Foly Of Love
Mengikhlaskan



Yama seolah tak ada beban dengan tatapan dylan yang menghundus tajam kearah dirinya


“terima kasih uncle bawain eila hadiah” ucap eila memeluk yama erat


eila dan Yama memang terbilang cukup akrab karena sedari kecil Yama selalu menyempatkan datang ke rumah dylan menjenguk eila walaupun dylan selalu menyambut Yama dengan raut wajah tak suka dan tatapan sinis


“sama-sama sayang” balas yama mengusap punggung eila lembut


Eila melonggarkan pelukannya, menoleh ke arah aira “ mih, aku taro hadiah uncle dulu di kamar ya mih” ijin eila


“iya sayang” balas aira mengangguk


Eila langsung berlari masuk ke dalam rumahnya untuk meletakkan hadiah dari yama ke dalam kamarnya


Dylan masih menghundus tatapan membunuh sedangkan yama tak hentinya tersenyum ke arah dylan “ selamat ya dylan” ucap yama menengadahkan tangannya ke arah dylan untuk memberikan dylan selamat


Dylan langsung memukul ringan telapak tangan yama “gak usah sok perhatian dengan kasih ucapan selamat deh” dengus dylan tak suka dengan kedatangan Yama


Yama tersenyum “ih beneran kali lan, kan kamu calon mertuaku jadi harus kasih ucapan selamat dong” balas yama terkekeh


dylan makin menatap tajam ke arah Yama “siapa juga yang sudih punya mantu kaya kamu” kesal dylan meninggalkan yama dan memilih menghampiri sahabat-sahabatnya yang lain


Aira menghela nafas menatap yama yang hanya terkekeh mendapati perlakuan dylan “jangan terbiasa memancing kemarahan bang dylan kak, bang dylan tuh sayang banget sama eila, karena dia anak perempuan kami satu-satunya” ucap aira mengambil bingkisan hadiah yang ada di tangan Yama


Yama menoleh ke arah aira dan tersenyum penuh arti “ya sudah kamu bikin anak perempuan lagi saja, jadi


dia gak terlalu focus pada calon istriku” balas Yama seolah tak ada beban


“ya ampun kak” aira mengehla nafas panjang “anakku masih kecil kak” ucap aira mengingatkan Yama


“ya makanya, aku akan nunggu dia sampai lulus SMA aira” balas Yama enteng


Aira hanya menggelengkan kepalanya meninggalkan yama yang hanya membuatnya kesal


Eila yang sudah menyimpan hadiahnya menghampiri Yama “uncle” panggil eila menarik tangan Yama dan menggenggamnya erat


“ya sayang” balas Yama menoleh ke arah eila dan menatapnya lembut


“kok sendirian?” Tanya eila


“berdua kok” balas Yama


Eila mengedarkan pandangannya kesekeliling bahkan memutar-mutari tubuh Yama untuk mencari keberadaan seseorang “mana berdua uncle? Gak ada orang kok” sahut eila tak mendapati Yama bersama orang lain


yama mengusap kepala eila “kan uncle sama kamu sayang, jadi kita berdua dong” balas Yama


Eila terkekeh “ iya juga ya uncle” balas eila membenrkan ucapan yama


Eila mengajak Yama duduk di salah satu kursi yang ada di halaman dan mengajak yama untuk berbicara, terlihat sekali eila bercerita dengan sangat bahagia bersama bahkan tak jarang mereka tertawa keras membuat orang di sekitar sana sesekali melirik kea rah eila dan yama yang sedang asyik mengobrol


Dylan menatap sinis ke arah eila dan yama dengan tatapan tajam “sepertinya, anak itu benar-benar ingin jadi menantumu ya?” Tanya dokter ken melihat raut wajah dylan membuatnya ingin meledek dylan


“cih, malas aku punya mantu bangkotan kaya dia” balas dylan


Dylan makin kesal dengan ucapan riska “ dia memang terlihat muda tapi kan dia jauh sekali jarak umurnya dengan eila, kamu dengan dokter ken saja hanya berjarak 16 tahun, masa anakku harus menikah dengan jarak


2 kali lipat dari kalian” balas dylan kesal


“tapi dia nyaman banget sama Yama loh, dengan kalian yang jelas orang tua kandungnya dia tak pernah tertawa selepas itu loh” sahut dokter ken


Dylan menyadari hal itu, memang eila tak pernah tertawa selepas itu jika dengan orang lain, hanya dengan yama saja dia bisa senyaman itu untuk tertawa “tapi tetap saja aku gak rela” dylan tetap merasa gak mau punya menantu yang jelas seumuran dengannya apalagi jarak mereka yang terpaut begitu jauh


“oh ya kak riska bagaimana kabar kak Jonas?” Tanya aira


“terakhir aku menjenguk mama, dia terlihat baik “ balas Riska


tatapan Riska langsung sendu mengingat keluarganya yang sekarang terpisah. Ayah dan mama Riska


memutuskan berpisah setelah kelahiran rafa. Ayah Riska hanya sibuk bekerja sedangkan mama Riska terkena penyakit Kanker paru-paru dan sedang melakukan  perawatan di Singapora, sedangkan Jonas memutuskan bekerja Di Australia agar tak bertemu dengan prastyo  lagi, karena prastyo yang menetap Di Indonesia untuk meneruskan bisnis keluarga ayahnya, karena hanya prastyo anak yang dimiliki Nicole jefry. Ya walaupun Nicole jefry dulunya seorang cassanova tapi entah kenapa dia hanya bisa memiliki anak prastyo jefry seorang


“kak prastyo tak ganggu kak riska lagi kan?” Tanya aira


“kalau ganggu sih masih, tapi sejauh ini dia masih bisa menjaga sikap dan menghormatiku sebagai kakak iparnya” riska menatap dokter ken dan tersenyum lembut  “ mungkin rasa sayang pada kakakknya jauh lebih besar dari pada keangkuhannya” tambah riska


Dokter ken mengalungkan tangannya ke pundak Riska dan merapatkan ke bahunya   “ sejauh ini dia bisa menjaga sikap, dan juga aku sangat bersyukur dia tidak terlibat dengan pria manapun walaupun aku masih


sangat khawatir padanya karena masih belum bisa mendapatkan kekasih dan menikah“ balas dokter ken mengingat adik satu-satunya itu


Seorang pria menggandeng seorang wanita menghampiri aira dan dylan “aira” sapa lina memeluk aira


aira balas memeluk lina istri david “kakak kapan pulang?” Tanya aira


lina menguari pelukannya “minggu lalu” balas lina


“kakak akan tinggal di Indonesia kan?” Tanya aira


“iya, sekarang aku dan sita  akan stay di Indonesia menemani kakakkmu” balas lina


“selamat ya dylan “ ucap david menjabat tangan dylan


“terima kasih” balas dylan menjabat tangan david


“mana sita kak?” Tanya aira


“itu lagi sama viko” lina menunjuk sita yang sedang berlari menghampiri viko dan askar


Aira melirik ke arah mami Diana, dan papi gunawan serta om bagas  yang berdebat kecil “kakak masih menjauhi om bagas?” Tanya aira


“tidak ra, kakak sekarang sudah ikhlas dengan kondisi yang aku jalani sekarang. Toh dia sudah tak main perempuan lagi” sahut david melihat ketiga orang yang sedang berdebat kecil


David menoleh ke arah dylan yang ikut memandangi ketiga paruh baya itu “sebenernya aku ikhlas kalau kita jadi saudara dylan, tapi sepertinya mereka nyaman dengan kondisi saat ini” ucap david melihat keakraban orang tua mereka


“iya, jika mereka bahagia dengan kondisi saat ini biarkan saja, mungkin dengan mereka berteman akan lebih menyenangkan” balas dylan yang tak ingin menggurui kedekatan orang-orang yang dekat dengannya itu


“iya semoga” balas david